Mengenal Kopi Senaru, Kopi dengan Aroma yang Tajam dari Gunung Rinjani

  • Whatsapp
kopi senaru
Biji kopi robusta dari Dusun Senaru, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. (FOTO ANTARA/Riza Fahriza)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Kabut turun perlahan selepas hujan yang menyirami seharian penuh. Kabut itu menutupi jurang dalam. Di atasnya berdiri si raksasa Gunung Rinjani yang sesekali muncul dan menghilang karena tersabut kabut tebal. Rasa dingin pun mulai terasa.

Si empu rumah menawarkan, “Kita buatkan kopi lagi ya,” kata Nur Saat, petani kopi Dusun Senaru, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

BACA JUGA: IDCH Buka Kafe Dangdut, Siap Promosikan Dangdut dan Kopi di New York – Nusadaily.com

Sedikit cerita, Nur Saat ini yang akrab dipanggil Bang Saat, dahulunya memiliki jasa pendakian Gunung Rinjani namun sejak gempa 2018 disusul pandemi COVID-19 membuat usahanya perlahan-lahan meredup.

Untuk melanjutkan perjuangannya mendapatkan sesuap nasi, dia terpaksa bertani kopi yang akhirnya menjadi profesi tetap.

Saat kopi tiba di hadapan, aroma tajam terasa yang terbawa dari kepulan air panas di gelas. Membuat gairah ingin menyeruput pun tak bisa tertahan lagi.

BACA JUGA: Pedagang Retail Kopi di Medan Beri Keringanan di Masa Pandemi – Beritaloka.com

“Kopi Senaru ini terkenal dengan rasa yang legitnya,” sambung Bang Saat dikutip dari antara.

Setelah dicicipi kopi robusta jagoan Senaru itu memang berbeda. Aromanya yang sangat tajam. Bisa dimakluminya juga ketinggian Dusun Senaru terbilang tinggi sekitar 750 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Mungkin, faktor ketinggian itu melahirkan cita rasa yang berbeda untuk sekelas kopi robusta. Belum lagi pengolahan usai petik sangat memengaruhi.

“Memang memerlukan ketelatenan untuk menghasilkan kopi yang enak,” katanya.

Kopi robusta Senaru hasil olahan dirinya bersama sejumlah warga melahirkan beberapa jenis, seperti “wine” dan “honey”.

Untuk jenis yang “wine” memang agak sulit prosesnya hingga produknya tidak terlalu banyak. “Namun paling banyak dicari,” tambahnya.

Selain itu, kopi robusta juga bisa rasa nangka atau jenis buah-buahan lainnya, tergantung jenis tanaman yang ada di dekat pohon kopi itu.

Tapi jangan salah juga, di Dusun Senaru juga memroduksi kopi arabika. Namun kalah banyak dengan kopi robusta. Untuk kopi arabika rasa asam dan kekecutannya juga tak kalah dengan kopi daerah lainnya.

Terdapat pula satu jenis kopi produk Senaru yakni luwak, tapi terhitung terbatas produksinya berbeda dengan kopi robusta.

Karena itu, banyak wisatawan baik nasional maupun internasional yang pernah mendaki Gunung Rinjani, ketagihan dengan kopi daerah tersebut.

“Banyak dari wisatawan yang pernah ke Senaru memasan kopi saya,” katanya.

Dari mancanegara seperti dari Australia, Swiss, Belgia dan Amerika Serikat. Kalau dari nasional, pesanan berasal dari Jakarta, Bandung, Cirebon dan sejumlah daerah lainnya.

Mayoritas pemesan dari mancanegara itu meminati kopi arabika. Harganya untuk arabika jenis biji kopi mentah (green bean) Rp150 ribu per kilogram dan kopi yang sudah dipanggang Rp200 ribu per kilogram.

“Kopi arabika cepat larisnya, dua bulan pasca-panen langsung ludes,” katanya.

Namun dirinya masih menjual kopi jenis lain. “Kami juga menjual kopi robusta seharga Rp75 ribu per 150 gram,” katanya.

Bisa dikatakan, untuk mempertahankan usaha kopi, mereka menjualnya masih secara konvensional alias hanya terbatas pada mereka yang kenal saja.

“Alhamdulillah pesanan selalu ada tapi terbatas kepada kenalan atau mereka yang pernah mendaki Gunung Rinjani saja,” kata Bang Saat.