Festival Among Budaya Tosan Aji Kota Batu, Wariskan Pengetahuan Pusaka Nusantara pada Generasi Muda

Festival Among Budaya Tosan Aji bagian dari rangkaian acara memeriahkan HUT ke 21 Kota Batu. Kegiatan itu digelar perkumpulan pelestari budaya Jawa dan tosan aji, Paguyuban Sangga Praja bekerja sama dengan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu.

NUSADAILY.COM – KOTA BATU – Ratusan pusaka warisan Nusantara seperti keris, betok, kudi hingga tombak  dipajang di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Kota Batu. Artefak budaya itu ditampilkan selama penyelenggaraan Festival Among Budaya Tosan Aji mulai 14-16 November.

Festival Among Budaya Tosan Aji bagian dari rangkaian acara memeriahkan HUT ke-21 Kota Batu. Kegiatan itu digelar perkumpulan pelestari budaya Jawa dan tosan aji, Paguyuban Sangga Praja bekerja sama dengan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu.

Sekretaris Sangga Praja, Didik Eko Purwanto menyebutkan, pusaka yang ditampilkan berasal dari era Mataram Kuno, Kamardikan maupun era Baru. Jenis pusaka tertua yang dihadirkan dalam festival tersebut, yakni betok dan kudi era Mataram Kuno pada masa persebaran Hindu-Budha atau era Kabudhan.

"Kedua pusaka itu, betok dan kudi lebih spesifik sebagai pusaka tindih atau pengendali. Suatu pusaka dengan tangguh tua dan dianggap mempunyai tuah yang baik bagi para kolektor tosan aji," ujar Didik.

Berbicara mengenai pusaka, streotipe masyarakat terperangkap pada hal mistis. Padahal, kata Didik, pusaka seperti keris memiliki aspek estetika, pamor dan kemutakhiran peradaban bangsa di masa lampau yang ahli dalam ilmu metalurgi. Hal itulah yang membuat dunia takjub hingga akhirnya UNESCO mengakui keris sebagai warisan budaya tak benda.

"Nenek moyang kita bahkan sudah mendahului Eropa. Sudah ahli dalam metalurgi merangkai tujuh unsur logam mengandung energi atom aktif. Karena material pembuatan pusaka memakai besi bumi dan besi langit, meteor," urai dia.

Pada hari kedua pelaksanaan Festival Among Budaya Tosan Aji (Selasa, 16/11), para peserta didik sekolah dasar mengamati dan mencatat jenis-jenis pusaka yang ditampilkan.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan, tujuan penyelenggaran ini mengarah pada wisata edukasi bagi masyarakat umum. Terlebih bagi generasi muda seperti para pelajar agar mereka kenal dan mencintai pusaka Nusantara warisan nenek moyang.

Festival pusaka itu sekaligus menjadi embrio membangkitkan kebudayaan Kota Batu sebagai ikon wisata. Selain itu, juga sejalan dengan UU Pemajuan Kebudayaan yang ditindaklanjuti Kota Batu dengan mengusulkan Perda Pengembangan Kebudayaan. Perda itu dimasukan dalam  program pembentukan perda Kota Batu tahun 2023.

“Ini komitmen Disparta membangkitkan wisata kebudayaan Kota Batu agar mencapai kejayaan. Motivasi dan landasan berpikir kami, yakni memfasilitasi pengembangan seluruh komponen budaya,” ujar Arief. (oer/wan)