Meriahkan Tahun Baru Imlek Dengan Kreasi Batik Shio

  • Whatsapp
batik imlek
KEBERAGAMAN INDONESIA: Kreasi batik shio memeriahkan momen Tahun Baru Imlek 2572.(istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Memeriahkan momen Tahun Baru Imlek 2572, sejumlah pengrajin batik di Kota Malang membuat kreasi unik. Salah satunya seperti kreasi unik dari Kait Handmade yang membuat motif shio untuk batik.

Dua belas hewan yang ada dalam shio dinilai bisa mewakili keberagaman yang ada di Indonesia. Mereka membuat kreasi batik shio dengan simbol 12 hewan yang mewakili tahun, bulan dan jam tertentu dalam astrologi Tionghoa. Yakni, tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing dan babi. Simbol shio dalam astrologi Tionghoa itu dinilai bisa mewakili keberagaman yang ada di Indonesia.

Baca Juga

BACA JUGA: Prediksi Shio yang Bakal Hoki di Tahun Kerbau Logam

“Kami melihat bahwa 12 hewan pada shio ini mewakili keberagaman di Indonesia. Walaupun berbeda tetapi tetap bisa bersatu dalam sebuah harmoni,” terang Direktur Kreatif Kait Handmade, Lusiana Limono.

Dalam proses pembuatan batik, baik cap maupun tulis, juga turut menggambarkan persatuan dalam keberagaman. Selama ini, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah perajin pada tiga kampung di Solo, Sragen dan Pekalongan.

“Bahan baku serta motif yang diinginkan dibuat di Malang. Kemudian dikirim ke tiga kampung tersebut untuk menjalani proses membatik dengan motif shio,” kata dia.

Untuk satu lembar kain, lanjut Lusiana, membutuhkan waktu kisaran 1,5 hingga 2 bulan untuk menyelesaikan.

“Dalam sekali pengerjaan tidak mungkin hanya satu lembar kain. Tetapi, biasanya kami mengirim sekitar 10 lembar. Nanti akan dikerjakan, setalah dua bulan kain yang sudah jadi akan dikirimkan kembali ke kami,” papar dia.

Setelah barang sudah dikirim kembali oleh perajin, proses selanjutnya adalah melakukan sortir. Mereka memilah produk yang akan dibuat dalam bentuk kain dan untuk produk turunan.

“Produk turunan yang dihasilkan adalah, pakaian, tas, kantong angpau hingga masker,” kata dia.

Sejauh ini, produk masker masih menjadi primadona dengan harga Rp 25 ribu per buah. Sementara, produk lainnya, yakni kantong angpau dibanderol seharga Rp 80 ribu, tas seharga Rp 150 ribu sampai Rp 800 ribu tergantung pada motif serta kerumitan dalam proses pengerjaan. Kemudian, baju yang dibanderol Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta.

“Untuk produk kain batik cap dijual dengan harga Rp 480 ribu ukuran 225 cm x 110 cm, batik tulis dipasarkan mulai Rp 1,5 juta untuk ukuran yang sama,” kata dia.

Produk turunan tersebut dibuat agar nilai jual dari kreasi batik shio tersebut bisa lebih baik ketimbang hanya dijual dalam bentuk kain.

“Proses ini juga bergantung pada cepat atau lambatnya kain selesai dibatik. Sebab, sebagian besar perajin yang bekerja sama dengan Kait Handmade tidak sepenuhnya bekerja sebagai perajin batik. Sebagian dari mereka adalah petani. Jadi kalau musim panen maka proses bisa lebih lama,” papar dia.

BACA JUGA: Tren Warna Batik Tulis Celaket di Tahun 2021, Lebih Mengedepankan Warna Harapan

Sejauh ini, produksi batik dan turunannya diminati oleh berbagai kalangan, tidak hanya kaum Tionghoa saja. Rata-rata, mereka tertarik pada motif batik yang berbeda, kualitas bahan serta hasil produk turunan yang menarik.

“Sejauh ini yang kami lihat peminatnya tidak hanya dari satu kalangan saja. Tetapi sama halnya seperti produk batik lain yang juga diminati oleh berbagai kalangan,” tandas dia.(nda/lna)