RELIEF MITOLOGIS-SIMBOLIK “AKASA (Garuda) LAWAN PRATIWI (Naga)” : Mitologi Interelasi Bhumi – Langit

  • Whatsapp
langit
Relief Garuda di Candi Sukuh.
banner 468x60

Oleh : M. Dwi Cahyono*

” …… mugya kadi boting akasa lawan pratiwi”

(Prasasti Gerbo dan Prasasti Pasrujambe).

Baca Juga

Langit (Akasa) yang digambarkan sebagai berlapis tujuh (langit sap pitu) dibedakan, malahan “dioposisikan”, dengan bhumi (Pratiwi) yang juga dikonsepsikan sebagai lapis tujuh (bhumi sap pitu). Di dalam kerangka “oposisi biner (binnary oposition)”, yakni : berlawanan namun saling hubungan serta saling melengkapi. Langit (Akasa) sebagai lawan dari Bhumi (Pratiwi) digambarkan. Walau keduanya berbeda, baik wujud ataupun tempat keberadaannya, namun berelasi dan saling mengimplementasi.

Dalam bahasa simbol dan mitologi, keduanya acap direlasikan. Makhluk penghuni Angkasa (Akasa = Langit, semisal Garuda) dan makhluk penghuni Bhumi (Pratiwi, semisal Naga) adalah dua makhluk yang berlawanan. Meskipun demikian, saling berhubungan, bahkan saling melengkapi. Ilustrasi lain tentang relasi antara langat dan bumi dalam mitologi adalah perjalanan manusia (manungso) sebagai makhluk penghuni Bhumi untuk menembus lapis demi lapis langit menuju ke Ilahinya. Seperti dalam kisah-kisah suci “Isra – Mikraj” dan “Kenaikan Isa Almasih (Kenaikan Yesus ke Surga)” ataupun “Pencapaian Moksa (Nirwana)”. Sebaliknya, ada pula mitologi yang menggambarkan mengenai makhluk penghuni “dunia atas (langit, Kaindran), misalnya Dewata, Widyadhari, Hapsara, dsb. yang turun ke Bhumi lantaran suatu hal.

Perjalanan dari Bumi Melintasi Langit

Perjalanan dari bumi buat melintasi langit, atau sebaliknya perjalanan dari langit menuju bumi,  bukan hanya hadir pada “Pesawat Ulang-Alik”, wahana teknologi canggih yang dinamai “Pesawat Angkasa Luar”. Namun juga telah amat lama terkisahkan di dalam mitologi berbagai bangsa. Oleh karena, langit dan bumi sejatinya adalah dua dalam satu (2in1). Relief di sisi kiri dan kanan gapura pertama Candi Sukuh. Menggambarkan gapura menggepakkan sayap, terbang dengan mencengkram sepasang naga yang saling melilitkan badan. Ini adalah salah satu jejak visual masa lalu tentang itu. Relief inilah yang antara lain memberi inspirasi pembuatan lambang negara RI, Garuda Pancasila.

Demikian tulisan ringkas dan bersahaja tentang “Interelasi Bhumi dan Akasa. Sesuatu hal yang menarik dan penting untuk dicermati dalam kaitan itu. Bahwa prasasti pendek (sort insvription) dari situs Gerbo dan Pasrujambe membuat nasihat bagi laki (pria) – stri (wanita) yang menikah dengan kalimat pengharapan : “…. kadi boting akasa lawan pratiwi (semoga bagai beratnya angkasa dan pertiwi”. Begitulah suatu penggambaran “mitologis – simbolik” dalam sejarah peradaban manusia. Adapun makna yang terkandung di dalamnya, sumonggo “dipun onceki piyambak” menurut pemikran serta keyakinan masing-masing. Nuwun.

Sangkaling, 11 Maret 2011

Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog Universitas Negeri Malang, redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com