Perokok Berat, Malik Fadjar Lahirkan Muhammadiyah Mazhab Malikiyah

  • Whatsapp
banner 468x60


Ada catatan menarik yang ditulis oleh Alfi Limbak Malintang Sati. Tulisan penuh humor itu banyak tersebar di media sosial setelah Prof Malik Fadjar meninggal dunia.

Suatu hari ketika Pak Malik Fadjar, terlihat sedang asyik merokok di sudut bandara. Ketika itu di saat bersamaan, dikisahkan oleh Moeslim Abdurrahman, Kiai Hasyim Muzadi (catatan : keduanya sudah almarhum) secara tidak sengaja melihat koleganya itu.

Baca Juga

Kiai Hasyim Muzadi kemudian menegur, “Loh, sampean Muhammadiyah kok merokok?”
Tidak kehabisan akal Malik Fadjar memberikan jawaban, “Oiya, aku sedang pindah NU (Nahdlatul Ulama).”

Kiai Hasyim Muzadi agak tercengang dengan jawaban itu, “Loh, nanti kalau rokoknya sudah habis?”

“Ya, pindah Muhammadiyah lagi,” ucap Pak Malik Fadjar.
Kiai Hasyim Muzadi tentu saja terkekeh, begitu pula dengan dengan Pak Malik Fajar.

Bagi kami, warga atau simpatisan Muhammadiyah yang ahli hisap alias perokok, kisah lelucon beliau di atas itu selalu menjadikan testimoni untuk “berlindung” pada kebiasaan yang menurut sebagian orang adalah kebiasaan buruk. Kami menyebut diri sebagai jamaah Muhammadiyah pengikut mahzab Malikiyah. Ya, beliau dikenal sebagai seorang perokok berat, walaupun persyarikatan telah mengeluarkan fatwa haram untuk produk tembakau satu ini.

*Ada lelucon tentang pendapat Muhammadiyyah dalam masalah rokok yang terbelah jadi dua madzhab, malikiyyah dan syafiiyyah. Malikiyah ikut (alm) Prof. Malik Fajar yang pro-rokok dan Syafiiiyyah ikut Prof. Syafi’i Ma’arif yang anti rokok

Selamat jalan Pak Malik. Sebuah kehilangan yang besar atas kepergian dirimu. Semoga Husnul Khatimah.

Al fatihah

Post Terkait

banner 468x60