“Nol Kilometer Kembar” di Kota Malang, Unikum dan Latar Belakangnya

  • Whatsapp
Nol kilometer
Nol kilometer Kota Malang.
banner 468x60

Oleh: M. Dwi Cahyono*

A. Konsepsi “Kilometer Nol”

1. Pal sebagai Petanda Jarak 

Nol kilometer di Indonesia memiliki akar panjang. Ada sebuah sebutan di dalam bahasa Inggris  “milestone”, yang berarti : penanda jarak satu mil. Unsur sebutan “mile” darinya berkenaan dengan satuan ukuran jarak yang digunakan, yaitu mil (mile). Pada bahasa Belanda diistilahi dengan “paal” (bahasa Inggris ‘pole’, berarti : tiang). Dan diserap dalam bahasa Indonesia menjadi “pal”, yang juga menggunakan “mil” sebagai satuan pengukur jarak antar pal. Selain satuan ukuran jarak “mil”, ada pula yang menggunakan satuan pengukuran jarak “kilo meter (Km)”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2002) kata “pal’ diartikan: tonggak batu sebagai tanda jarak, antara satu tonggak dan tonggak yang lain berjarak 1,5 km. Oleh sebab jarak antar pal itu sebesar 1,5 km, berarti pada pengartian ini satuan ukur jarak yang dipakai adalah ‘mil”. Ada pula sebutan lain untuknya, yaitu “batu penanda jarak”.

Wujud pal berupa serangkaian tonggak (tapal, pancangan, patok atau patokan, rambu, tiang), yang dipasang di median atau pinggir sepanjang jalan maupun rel kereta api. Fungsinya antara lain untuk menunjukkan seberapa jauh suatu ruas jalan/rel kereta api itu telah ditempuh.

Baca Juga

Ragam Sebutan Pal

Sebenarnya ada ragam fungsi dari “pal”, antara lain : (a) menyediakan titik referensi di sepanjang jalan, (b) meyakinkan kepada pengguna jalan bahwa jalur yang dilaluinya tepat digunakan, dan (c) menunjukkan jarak yang ditempuh atau jarak yang tersisa ke tujuan. Umumnya pal berwujud batu yang dilengkapi dengan penanda angka jarak tempuh beserta penanda nama daerah yang diukurnya.  Referensi semacam itu berguna untuk kepentingan pemeliharaan jalan maupun pelayanan darurat. Yakni untuk mengarahkan ke titik-titik tertentu pada suatu tempat padamana kehadirannya diperlukan. Kadang pula digunakan untuk menunjuk lokasi di jalan, termasuk apabila tidak ada tanda fisik buat menentukan lokasi itu. Selain itu, pal juga berguna untuk kepentingan pelaporan kecelakaan dan pencatatan lain.

Sejarah pemasangan paal di Indonesia diawali di Jawa pada masa Kolonial, tepatnya di era pemerintahan gouverneur- generaal Hindia- Belanda perdana, Herman Willem Daendels. Ia berdinas tahun 1808 – 1811 — ketika itu Belanda dikuasai oleh  Perancis. Daendels dilantik pada 28 Januari 1807. Dengan dua tugas pokok, yaitu (1) menpertahankan Jawa dari kemungkinan serangan Britania Raya dan  (2) membenahi sistem administrasi. Untuk kelancaran tugasnya di Pulau Jawa itulah maka dibangun “Jalan Raya Pos (Groote Postweg)” dari Anyer pada pangkal barat ke Panarukan di ujung timur, yang kira-kira berjarak 1.000 km.

Kisah Anyer Panarukan

Jalan terbangun itu selebar dua roed (1 roed = 3,767 m2, dikonversikan sekitar 7,5 m), dibatasi lapisan batu pada dua sisinya, dan tiap 1506,9 m diberi paal (tonggak batu) sebagai petanda untuk memudahkan perawatan dan perbaikan jalan. Paal menjadi pertanda kewajiban bagi setiap distrik beserta penduduknya untuk memelihara jalan tersebut. Jumlah total paal di sepanjang jarak Anyer-Panarukan adalah 600 buah (600 X 1,5069 km = 904,14 km, namun acapkali dinyatakan : 1.000 km). Pada jarak 15 km, 30 km dan terjauh 60 km didirikan kota- kota untuk mencapai kota yang lebih besar berikutnya. Besaran jarak tersebut mempertimbangkan jarak tempuh ideal untuk kuda dapat berjalan, yaitu sekitar 15 km. Setiap 15 km kuda tersebut istirahat atau diganti dengan kuda yang baru. Oleh karena itu, pada setiap jarak tersebut biasanya terdapat kandang kuda, yang berlokasi di sekitar alun-alun.

Tergambarlah bahwa satuan ukuran jarak yang terdahulu yang digunakan di Indonesia adalah “mil”. Dan kini lazim digunakan satuan ukuran jarak “kilometer”. Lazimnya 1 mil darat dikonversikan sebesar : 1,60934 km. Namun, pada Masa Kolonial berbeda-beda. Pada pulau Jawa,1 pal setara dengan 1.507 meter, adapun di Sumatra : 1.852 meter. Perbedaan itu diduga terkait dengan permainan jual- beli tanah seiring dengan berbiaknya perkebunan besar di kedua wilayah tersebut. Oleh karena itu, untuk mudahnya 1 mil dikonversikan dengan 1,5 Km.

Di dalam KBBI (2002) kata “pal” oleh karenanya diartikan :  tonggak batu sebagai petanda jarak, yang antara satu tonggak dengan tonggak lain berjarak 1,5 km.  Barulah pada masa yang lebih kemudian — misalnya, di Kuningan diubah pada tahun 1925 — diganti dengan tanda jarak dalam kilometer. Sebutannya berganti dari “milestone atau paal” menjadi “petanda kilometer”. Kini ukuran jarak yang resmi digunakan di seluruh wilayah Indonesia adalah kilometer (disingkat “km”). Dalam satuan ukuran ini jarak standar antar pal adalah 1 km, dan setiap jarak 100 meter diberi tonggak yang lebih kecil dengan tanda angka di bagian atasnya. ..

2. Petanda “Nol Kilometer”

Di antara serangkaian petanda kilometer, tepatnya di pangkalnya, terdapat apa yang dinamai dengan petanda “0 Km (Nol Kilometer, terkadang pula disebut  “Kilometer Nol” ). Setiap daerah pada umumnya memiliki “titik nol kilometer”. Fungsinya  sebagai penanda jarak dari pusat kota bersangkutan ke daerah-daerah lain di sekitarnya. Titik nol bisa berupa tonggak (pal), prasasti (monumen) atau bisa juga bangunan. Petanda “Nol Kilometer (acap disingkat “0Km”) adalah lokasi dimana awal jarak diukur secara tradisional. Nol Kilometer mengacu pada lokasi tertentu, sepert bangunan dan jalan. Orang lebih mengenal istilah “Paal Nol” ketimbang “Nol Kilometer”.

Pada era Kolonial Hindia-Belanda, paal (tonggak) pertama itu berupa tugu dari batu atau semen-pasir di suatu tempat sebagai pertanda “Titik O Mill” yang kini disebut dengan “Titik Nol Kilometer”. Wujudnya tonggak kecil dengan tinggi kira-kira 50 cm atau kurang dari satu meter, yang pada bagian paling atas ada tiga bidang. Masing-masing bidang ditulisi dengan (a) tiga huruf singkatan, dan (b) angka pada bagian bawahnya. Standard jarak antar tonggak pada konversi masa sekarang adalah 1 km. Dan untuk setiap jarak 100 meter diberikan tonggak yang berukuran lebih kecil dan disertai tanda angka di atasnya.

Titik “Nol Kilometer (Zero Kilometer)” itu tidak terkecuali dimiliki oleh Kota Malang. Bila lazimnya daerah hanya mempunyai satu “tugu nol kilometer”, berbeda halnya dengan yang terdapat di Kota Malang, yang memiliki dua tugu nol kilometer (baca “titik nol”), yang masing- masing berlokasi di tempat berbeda. Tugu titik nol itu adalah buatan lama, yang jika menilik bahan dan detail bentuknya berasal dari Masa Kolonial. Dalam kaitan itu, muncul pertanyaan “Apa yang melatari kepemilikan dua titik nol oleh Kota Malang tersebut? Lantaran  telah dibuat pada masa lalu, penjelasan terhadapnya berikut tentu menggunakan perspektif historis, yang terkait dengan dinamika Kota Malang lintas masa.

B. Tugu “Nol Kilometer” Kembar di Kota Malang

Pada paparan berikut ini, dua tugu “nol kilometer” di Kota Malang dideskripsi secara terpisah. Namun, pada bagian  analisis, keduanya direlasikan menurut konteks dinamika sejarah Kota Malang. Berikut paparan untuk masing- masing tugu “Nol Kilometer” Kota Malang. 

1. Deskripsi Tugu “Nol Kilometer”

1.1. Tugu “Nol Kilometer” di Alon-Alon Kotak

Satu di antara dua petanda ” Nol Kilometer” di Kota Malang terletak di sisi utara Alon-Alon Merdeka — karena berbangun persegi (bahasa Jawa “kotak”) dan agar selanggam sebutan dengan “Alon-Alon Bunder”, maka bisa dinamai “Alon-Alon Kotak”. Lokasi tepatnya di bawah Jembatan penyeberangan orang (Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) atau pada trotoar tepat di muka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Malang Selatan pada Jl. Merdeka Utara Nomor 3. Konon bangunan ini adalah gedung perbankan kepunyaan orang Belanda bernama “Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij”, yang terletak berdampingan dengan gedung  “Javasche Bank” (kini : Bank Indonesia Malang) yang berada di sebelah timurnya. Gedung Bank Escompto dibangun tahun 1929. Apabila menilik fasadnya, bangunan yang berusia hampir seabad ni mempunyau citra arsitektur era kolonial yang kuat. Sehingga masuk dalam kategori “Bangunan Indis’. 

Tugu petanda “Nol Kilometer” ini berupa  patok kecil (tinggi : kurang dari 1 meter), bercat warna hijau, kuning, biru dan putih. Tertera tulisan berwarna merah “Baya (akronim “Surabaya”) 89, yang menunjuk jarak ke Surabaya sejauh 89 km. Pada bawah di sisi kanan tertulis Pw.Sari (akronim Purwosari) 28. Ini menunjuk jarak ke Purwosari sejauh 28 km. Dan di sisi kirinya tertulis M.Lang (akro- nim dari “Malang). Aksara yang terakhir menjadi petanda jelas bahwa “titik 0 Kilometer” Kota Malang terletak di sinj.  Satuan pengukuran jarak yang dipakai  adalah “kilometer”, bukan “mil”. Adalah menarik juga untuk dicermati bahwa “titik 0 Kilometer” itu tidak ditempatkan di tengah Alon-Alon. Melain- kan justru berada di tepi jalan lingkar sisi utara Alon-Alon Kotak.

1.2. Tugu “Nol Kilometer” di Buk Gludug

Tugu “Nol Kilometer” yang lain di Kota Malang berada di ujung selatan pagar Buk Gludug (sebutan lokal untuk jembatan melintas Bangawan Brantas)” pada sisi barat. Tugu penanda jarak tersebut cukup jelas bila dilihat dari arah selatan Bug Gludug di Jl. Embong Brantas Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Bentuk, ukuran serta aksara yang tertera tidak jauh berbeda dengan tugu “Nol Kilometer” di sisi utara Alon- Alon Kotak. Hanya saja warnanya kuning, coklat, serta blok putih di bagian yang bertuliskan keterangan jarak, yaitu : Baya 89 km. Pw.Sari 28, dan M.Lang 0″.

Buk Gludug termasuk jembatan heritage, yang telah ada semenjak Masa Kolonial. Bentuk pagar beserta tiang lampunya jelas menunjukkan gaya arsitektur Indis. Jembatan yang menyeberangi Brantas ini terbilang panjang. Karena tepat di sini pada bantaran urara dan selatan permukaan tanahnya cekung (bahasa Jawa “ledok”, sehingga muncullah toponimi kampung “Ledok Brantas”), yang terdiri atas Ledok Brantas Wetan dan Ledok Brantas Kulon.

Kurang diketahui dengan pasti bilamana jembatan berkonstruksi beton ini dibangun. Ada kemungkinan pada akhir abad XIX, atau bahkan di permulaan abad XX, yang ditempatkan di atas ‘jembatan lama yang  berkonstruksi kayu”. Sebutan khas darinya, yakni “gludug”, memberi gambaran bahwa sebutan tersebut adalah “onomatope”, yakni sebutan berdasarkan suara (bunyi) dari yang tersebutkan itu. Tatkala masih berkonstruksi kayu, bila ada kendaran melintas, terlebih kendaraan beroda kayu (glodak), maka terdengarlah suara “gludug-gludug”. Terlepas dari apa konstruksinya, yang terang kehadirannya amat dibutuhkan pada “jalan poros ekonomi” di Kawasan Pecinan Besar ini..

2. Latar Keberadaan Tugu Kembar “Nol Kilometer”

Unsur sebutan tugu “0 (Nol) Kilometer” menyiratkan makna bahwa tonggak itu itu menandai titik mula atau pangkal dari suatu perhitungan jarak. Sudah barang tentu, tempat padamana tugu “0 Kilometer” ditempatkan adalah tempat yang memiliki arti yang penting bagi daerah bersangkutan. Salah satu tempat yang dipandang penting itu adalah “sentra” daerah. Bisa sentra pemerintahan atau sentra ekonomi, ataupun dari keduanya. Pada sosio-budaya Jawa, tempat yang dipandang sebagai sentra itu antara lain adalah Alon-Alon.

Untuk daerah Malang, alon-alon tersebut adalah “Alon-Alon Kotak (dinamai juga menurut nama jalannya dengan “Alon- Alon Merdeka”, yang dibangun tahun 1882. Saat itu, Malang masih berstatus “kaboepaten (regent,)”. Untuk kepentingan kolonial, maka Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Asisten Residen, yang berkantor di sisi selatan Alon-Alon Kotak — kala itu pusat karesidenannya berada di Pasuruan. Pemilihan lokasi Alon-Alon di tempat ini antara lain mempertimbangkan akses “jalan poros” dengan arah utara-selatan, yaitu Koridoor Kajoe Tangan  yang bersinambung dengan Koridoor Celaket dan seterusnya ke Surabaya ataupun Pasuruan.

Ada Regent Malang di Masa Lalu

Jarak antar daerah, yaitu Regent Malang dengan daerah-daerah di sekitarnya oleh karena itu dihitung dengan “titik pangkal” Alon-Alon Kotak ini. Posisi penting dari Alon-Alon Kotak kian menguat lantaran dalam rencana pengembangan (bouw pland) Kota Malang ke dalam delapan tahap menggunakan “model jajaring (grid system’) dengan Alon-Alon Kotak sebagai “titik pusatnya”. Tergambar bahwa penempatan paal (tugu petanda jatak antar daerah) di posisikan di areal titik pusat ini, tepatnya di sisi utara Alon-Alon Kotak di depan gedung Bank Escompto.

Bila benar bahwa kesentralan Alon-Alon Kotak tersebut menjadi dasar pertimbangan untuk menempatkan “titik nol” bagi jarak antar daerah dari/ke daerah Malang. Tentu tugu “Nol Kilome- ter” yang berada di sisi utara Alon-Alon Kotak itu barulah dibuat setelah atau bersamaan waktu dengan pembangunan Alon-Alon Kotak, yaitu pada dekade 1880an. Lebih lanjut, jika benar tugu itu dibuat pada tahun 1880an, apakah sejak semula telah menggunakan satuan ukur jarak dalam “kilometer”? Bisa jadi, pada awalnya dipergunakan satuan ukuran jarak dalam “mil”, kemudian diubah ke dalam “kilometer (km)”. Ada kemungkinkan, waktu pengubahan satuan ukur jarak itu pada dekade 1920an — bandingkan dengan kasus serupa di Kuningan.

Alasan Penempatan di Buk Gludug

Adapun penempatan tugu “0 kilometer” pada pengujung selatan pagar Buk Gludug adalah mempertimbangkan arti penting dari Koridoor Boldy (Jl. Pertukangan dan Jl. Martadinata). Konon Boldy Straat adalah”sentra ekonomi” Malang, yang berada di klaster “Pecinan Besar’. Unsur sebutan “Pecinan (pe-Cina-an)” memuat informasi bahwa areal ini dalam strategi kolonial dilokasikan sebagai permukiman warga etnik Tiong Hoa. Yang menjadi pelaku ekonomi utama di sepanjang koridor Boldy. Seiiring dengan perubahan sistem pemerintahan dari “Katumenggungan Malang” menjadi Kabupaten Malang” pada dekade kedua tahun 1800an dan pergeseran pusat pemerintahan menuju ke arah barat. Maka terjadi pula perluasan (expansion) areal tinggal warga Tiong Hoa ke arah itu, dan terbentuklah areal “Pecinan Kecil”.

Selain itu, Koridoor Boldy yang berada di wilayah Kelurahan Jodipan juga menjadi sentra Pemerintahan Katumenggungan Malang pada pra tahun 1819. Dengan adanya “Kampung Tumenggungan” dan makam tokoh keramat “Mbah Menggung” pada Kelurahan Jodipan terdapat petunjuk bahwasanya areal ini konon dijadikan sebagai sentra dari Pemerintahan Katumenggungan Malang. Koridor ini   pula lah yang merelasikan dua stasiun kereta api (KA) di Malang, yaitu Stasiun KA Kota Lama yang terletak di selatan Stasiun KA Kota Baru yang berada di utara. Kesentralan ekonomi maupun pemerintahan itulah yang nampaknya menjadi pertimbangan untuk menempatkan tugu “Nol.Kilo Meter” Malang di ujung selatan Buk Gludug pada penghujung utara Koridoor Boldy.

Apabila menilik dinamika perkembangan sentra kota Malang, baik sentra ekonomi ataupun pemerintahan dari masa ke masa, boleh jadi “Titik Nol” Malang yang lebih awal adalah yang berada di ujung selatan Buk Gludug. Kurang lebih setengah hingga tiga perempat abad kemudian, dibuatlah “paal (tugu) penanda jarak” pada sisi utara Alon- Alon Kotak. Meski telah dibuat tugu “Titik Nol” yang baru di Alon-Alon Kotak itu, namun tugu “Titik Nol” terdahulu di ujung selatan Buk Gludug tak lantas dibongkar. Sehingga terdapat dua tugu “Titik Nol” di Kota Malang.

C. Urgensi dan Fungsionalisasi Dua Tugu “Titik Nol” di Kota Malang

Memang, bentuknya cuma berupa tugu (paal) berukuran relatif kecil (kurang dari satu meter). Tugu “penanda” jarak yang demikian ini cukup banyak jumlahnya, yang dipatokkan di tempat tempat tertentu pada tiap jarak 1 km atau 1 mil. Namun, yang menjadikan tugu “Nol Kilomrter” itu penting adalah posisinya sebagai “pangkal jarak” antar daerah. Penempatannya di sentra daerah, menjadikan tugu ini jadi petanda tentang arti penting tempat itu dalam dinamika sejarah daerah.

Fenomena “Dua Tugu Nol Kilometet” di Kota Malang memberi gambaran akan dinamika sejarah Kota Malang. Khususnya mengenai tempat-tempat yang konon pernah dan yang kini masih menjadi titik pusat (sentra) daerah. Sebelum tahun 1800an Koridoor Boldy pernah berperan sebagai sentra ekonomi dan pemerintahan, yang memasuki tahun 1800an posisi petanya tergantikan oleh Alon-Alon Kotak.  Meski wujudnya hanya berupa tugu, namun merupakan “tetenger sejarah”. Ada informasi kesejarahan yang tersirat di  dalamnya. Tugu ini pula yang menjadi titik acuan jarak antar daerah, padamana jarak antar daerah tersebut berpangkal.

Pada sejumlah daerah tugu “Nol Kilometer” kurang mendapatkan perhatian. Namun, ada daerah-daerah tertentu yang justru menjadikannya sebagai obyek perhatian penting, misalnya menjadi obyek wisata daerah. Apakah Kota Malang berkehendak menjadikan “unikum” daerahnya, yaitu suatu daerah dengan dua buah tugu “Nol Kilometer”, sebagai “tetenger sejarah” dan sekaligus sebagai obyek wisata?

Sangkaling, 19 Februari 2021

Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog Universitas Negeri Malang, Redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com