Kisah Negeri Tuak: Jejak Sejarah Panjang Ongkek, Alat Angkut Tuak dan Sesaji

  • Whatsapp
Kisah negeri tuak
Relief Ongkek di Candi Jawi
banner 468x60

Oleh: M. Dwi Cahyono*

………………………….

Tuak tuak tuak tuak

Baca Juga

Tuak adalah nyawa

Yening awai sing maan tuak

Hidupe serasa ada kuangan

……………………………

(Lirik lagu “Tuak Adalah Nyawa”, oleh : Masakepung)

A. Dari Wadah Twak hingga Tempat Sesajian

Ongkek, Wadah dan Alat Angkut Tuak

Kisah negeri tuak ada dalam tulisan ini. Namun sebelum itu kita bahas soal ongkek. Istilah “ongkek” kedapatan pada bahasa Jawa, Sunda maupun Indonesia. Secara harafiah kata “ongkek” di dalam bahasa Jawa Baru berarti : ngogak-ogak. Arti istilah ini berkaitan dengan aktivitas untuk melepas atau mencabut sesuatu dengan digerak-gerakkan kencang dan kuat. Adapun di dalam bahasa Sunda, kata “ongkek” berarti : brengsek atau bisa juga muntah. Pada arti yang terakhir, yakni muntah, tergambar adanya cairan di dalam sesuatu wadah, kemudian dialirkan ke luar. Pengertian demikian serupa dengan pengertian “ongkek” di daerah Tuban dan sekitarnya. Menunjuk kepada : wadah legen atau tuak, yang berupa beberapa tabung bambu yang dililiti dengan rotal (ron = daun, tal = pohon tal atau Siwalan. Dibawa dengan cara dipukul dan dilengkapi dengan centhak (semacam gelas yang juga dari batang bambu). Nira sowalan ditempatkan di dalam batang bambu agar sensasi legen tetap terasa segar.

Dulu di daerah Tuban dan sekitarnya pedagang tuak berjualan dengan menggunakan ongkek atau pikulan bambu. Namun kini sudah tidak terlihat lagi pedagang tuak yang menggunakan ongkek. Ongkek jadi barang langka, bahkan tak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, sebelum era 90-an masih banyak penjaja legen secara berkeliling dari kampung ke kampung dengan mempergunakan ongkek. Kini ongkek digantikan oleh botol plastik dan jerigen yang lebih awet dan praktis. Alih-alih terdapat souvenir yang berwujud miniatur ongkek yang bisa didapatkan di berbagai tempat wisata seperti di sekitar makam Sunan Bonang, Kelenteng Kwan Sing Bio atau di destinasi wusata Gua Akbar. Miniatur ongkek tidak difungsikan riil untuk wadah tampung legen — minuman dari nira pohon tal (siwalan, ental, lontar, bahasa Latin Borassus flabelifer) ataupun kelapa.

Ongkek dengan ukuran dan bentuk asli dapat dijumpai sebagai benda koleksi pada Ruang Etnografi pada Museum Kambang Putih di pusat Kota Tuban. Tabung bambu wadah legen berukuran sekitar 1,5 meter. Satu set ongkek diperlengkapi dengan caping ( capil) berbentuk khas dari lembar daun tal, sandal ban bekas, sabuk otog, tas kepis dan sebagainya. Selain itu ada kelengkapan nderes legen dari pohon tal, seperti angkul-angkul, pisau penyadap bunga lontar (mayang), dsb. Ongkek merupakan media nostalgia akan khazanah budaya Tuban.

Ongkek, Tempat dan Alat Angkut Sesajian

Kisah negeri tuak

Kata “ongkek” juga kedapatan di dalam bahasa Indonesia, yang menunjuk pada: pikulan yang dilengkapi dengan keranjang berkaki. Seperti yang acap dipakai penjaja sate dan soto (KBBI, 2002). Penekanan arti istilah ini adalah pada alat angkut yang berupa pikulan. Adapun yang diangkut bisa bermacam-macam, antara lain soto atau sate, dan biasa juga nira (tuak atau legen) — seperti pada arti sebutan ini di daerah Tuban dan sekitarnya. Berbeda pada warga etnik Tengger, sebutan “ongkek” menunjuk pula pada pikulan. Hanya saja, yang dipikul berupa sesajian untuk upacara (yajna), yang terdiri atas bermacam-buahan dan kue. Pada penghujung prosesi Kasada, ongkek beserta sesajian padanya dilarung ke dalam kawah (kaldera) Bromo.

Pembuatan ongkek pada setiap desa di area sosio-kultura Tengger mempunyai perbedaan menurut kepentingan di desa masing-masing. Pada jaman dulu ongkek dibuat dari kayu, dan kini acap dari bambu. Kendati demikian, fungsinya sama, yakni sebagai pikulan. Kelengkapan sesajian pada ongkek antara lain bunga kumitir (gumitir) secukupnya, bunga tanalayu (terdiri dari kata “tan = tidak” dan “alayu = melayu”) secukupnya, bunga waluh secukupnya, kentang 10 biji, kobis dua bungkul, kacang-kacangan beberapa bungkus, daun pakis secukupnya, daun beringin secukupnya, daun telotok secukupnya, daun tebu dua pucuk, jantung pisang dus biji, buah pare dua biji, dan buah pisang dua sisir. Biasanya ongkek dibuat oleh sesepuh Tengger, diatur dan dirancang sedemikian rupa sesuai nilai-nilai di dalam peradabannya dan sebagai bentuk kegotongroyongan. Terdapat ketentuan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat ongkek diambil dari desa yang pada setahun berselang tak ada warga yang meninggal dunia. Dalam pembuatan ongkek dilarang menggunakan garam dan ikan laut.

B. Jejak Visual Ongkek pada Relief Candi

Sebagaimana halnya dengan tuak yang menyejarah, wadahnya yang disebut dengan “ongkek” memiliki jejak sejarah yang panjang. Sebagai minuman tradisional, tuak telah disebut dalam sumber data tekstual dari masa Hindu-Buddha — baik prasasti ataupun susastra — dengan penulisan “twak” atau “tok”, yang menunjuk pada : nira pohon arean atau tal (ental) (Zoetmulder, 1995: 1310). Bahwa tuak berasal dari pohon tal tergambar dalam kitab Adiparwa (76), yang menyebut “twak ing tal”. Apabila tuak diminum berlebihan memiliki efek memabukkan.

Kendati kata “ongkek” tidak kedapatan di dalam sumber data tertulis berbahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, namun bisa dipastikan bahwa perangkat untuk wadah dan sekaligus buat alat angkut ini bisa dipastikan telah ada pada masa Hindu- Buddha, paling tidak di masa Majapahit. Hal ini terbukti oleh adanya panil relief candi yang menggambarkan perangkat yang serupa dengan apa yang di daerah Tuban dan sekitarnya dinamai dengan “ongkek. Relief tersebut dipahatkan di Batur candi Jawi sisi belakang.

Kisah negeri tuak

Konteks penggambarannya adalah suatu perjalanan dari sejumlah orang sembari membawa barang. Pada deret depan terdapat lima orang wanita membawa (Jawa Baru “mbopong”) canang dengan tangan kanannya. Pada deret di belakangnya ada tiga orang pria yang masing- masing membawa barang dengan cara dipukul. Dua orang di baris depan tengah memikul buah-buahan. Adapun seorang lain di posisi paling belakang memikul wadah minuman (berisi legen atau twak), yang ditempatkan di dalam dua buah tabung — terbuat dari bambu atau kayu bertutup. Kedua tabung (panjang sekitar 75 Cm) itu dihubungkan dengan tongkat pikulan. Bentuk mengingatkan kita kepada ongkek di masa berikutnya. Hanya saja, pada ongkek jumlah tabung itu bisa empat buah atau lebih.

Dengan adanya relief pada Batur candi Jawi itu, ada cukup alasan untuk menyatakan bahwa ongkek paling tidak ongkek telah dikenal pada masa Majapahit. Karena Candi Jawi yang merupakan tempat pemujaan bagi arwah (pendharmaan) raja Singhasari “Kertanegara” tersebut pernah direnovasi di era keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi). Terdapat gambaran yang serupa pada relief cerita Parthayajna di teras II bagian belakang pada gambaran tentang kompleks wanasrama. Digambarkan dua buah tabung yang diikat satu sama lain di latai depan-bawah bangunan berpanggung pada mana kedua punakawan dari Partha (nama muda Arjuna) tidur pulas di malam hari. Adapun tuannya, yakni Partha, tidur di geladak bangunan berpanggung tersebut. Selain kedua tabung itu, terdapat juga buah yang bentuknya mengingatkan pada nangka.

Bisa jadi tabung itu berisikan cairan nira atau air minum, yang bersama dengan buah nangka menjadi bekal dari Partha beserta dua punakawannya dalam perjalanan panjang menuju ke tempat pertapaan di lereng Gunung Indrakila. Cara membawanya adalah dipikul, seperti hal- nya pada perangkat angkut ongkek. Candi Jago (Jajaghu) adalah pendharmaan bagi arwah raja Singhasari “Wismuwarddhana”, yang juga pernah di renovasi atas perintah raja Hayam Wuruk. Dengan demikian baik relief di candi Jawi ataupun Jago, yang memuat gambaran tentang bentuk kuno dari ongkek. Dibuat pada keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi). Demikianlah, yang pasti ongkek telah ada pada masa Majapahit dan tradisinya terus berlanjut hingga sekarang.

C. Tradisi Penggunaan Ongkek sebagai Alat Angkut

Salah satu perangkat yang dari waktu ke waktu berguna dalam kaitannya dengan pengangkutan atau mobilitas barang adalah pikulan. Salah sebuah varian pikulan itu adalah ongkek. Sebagai perangkat angkut, ongkek kedapatan sejak masa Majahit dan terus berlanjut pemakaiannya hingga kini. Ongkek bisa digunakan untuk mengangkut barang cair seperti nira, yang ditempatkan di dalam tabung bambu ataupun kayu. Yaitu sebagai wadah dan media angkut tuak atau legen di daerah Tuban dan sekitarnya. Selain itu ongkek oleh warga Tengger dipakai untuk mengangkut persajian dari desa asalnya ke areal upacara di gunung Bromo pada upacara Kasada. Alat angkut yang berupa pikulan untuk berjualan soto atau sate bisa juga disebut dengan ongkek.

Demikianlah, ongkek merupakan khasanah budaya Jawa masa lampau, yang dari masa ke masa berguna sebagai perangkat angkut aneka barang. Teknologi angkut dengan menggunakan pikulan yang demikian terbilang bersahaja namun punya daya guna. Kini alat angkut yang berupa ongkek dan aneka pikulan lainnya telah banyak ditinggalkan, dan berganti dengan cara angkut lain. Kini ongkek malahan tinggal merupakan kenangan masa lampsu, yang hadirnya sebatas pada museum, galeri, atau dijadikan souvenir khas. Semoga tulisan singkat dan bersahaja ini memberi kefaedahan. Nuwun.

Griyajar CITRALEKHA