Kisah Cawat Purba, Ada Kathok Emas Pengaman Vagina dari “Serangan” Codot

  • Whatsapp
Kisah cawat purba
Inilah kathok atau badhong emas. Ditemukan Seger tahun 1989 di Desa Laosan Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Badhong jadi koleksi di Museum Tantular ini berbahan emas 22 karat, dengan bobot total 1.163,09 gram dan disertai batu-batu permata (lengkapnya 64 buah, sekarang tinggal 48 buah).
banner 468x60

Oleh: M. Dwi Cahyono*

A. Badhong sebagai Media Pengaman

Kisah cawat purba menarik untuk diulas. Sebutan celana dalam atau kathok masa lalu adalah badhong. Kata “badhong” bisa menunjuk kepada properti pada wayang orang (wayang wong) Jawa. Lalu wayang orang Priyangan maupun topeng Malang. Berbentuk segi tiga, dengan sudut terlancip ke arah atas. Badhong dipakai sebagai penutup bagian atas punggung. Pada khasanah wayang orang Jawa, yang amat dikenal adalah badhong dari Raden Gathotkaca. Ada anggapan bahwa badhong adalah kelengkapan busana, dengan bentuknya seperti sayap. Berkaitan dengan pengertian itu terdapat perumpamaan “Gatotkoco ilang badhonge”. Ini untukmenggambarkan tentang Gatotkaca yang tak dapat terbang. Sebab kehilangan sayapnya. Kalau Gatotkaca kehilangan gapitnya, ia tak mempunyai daya. Dan apabila yang hilang badhongnya maka tak bisa terbang.

Beda Badhong dan Baju Zirah Gatotkaca

Selain istilah “badhong” hadir di dalam bahasa Jawa Baru, kedapatan pula kata “badong” sebagai suatu kosa kata dalam bahasa Indonesia, yang menunjuk pada lengkapan wayang (KBBI, 2002). Benarkah badhong menggambarkan sayap ? Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa badhong merupakan perangkat pelindung (pengaman) bagian atas punggung. Kemungkinkan, aslinya badhong yang dibuat dari bahan logam itu berfungsi khusus sebagai komponen baju perang (baju zirah, harnas, varman). Hal itu mengingat ada tokoh-tokoh cerita lain pada wayang orang yang mengenakan badhong, namun ia tidak dapat terbang. Sebenarnya, yang membuat Gatotkaca dapat terbang itu adalah selendang (sampur)-nya, bukan badhong-nya. Lihatlah, ketika tengah memperagakan adegan terbang (ngangklang), kedua sampurnya dibentangkan, seseperti sayap unggas yang tengah terbentang. Para bidadari pun dapat terbang berkat selengangnya. Ketika selendang Dewi Nawang Wulan dicuri dan disembunyikan oleh Joko Tarub. Maka ia tidak dapat terbang untuk kembali ke Kaindran.

Baca Juga

Badhong juga menjadi properti tari yang khas pada sendra tari wayang topeng Malang. Fungsinya sama, yakni sebagai perangkat pelindung (pengaman) bagian atas punggung. Ternyata, badhong juga kedapatan pada wayang orang di daerah Priyangan. Ada kemungkinkan, aslinya badhong yang terbuat dari logam adalah komponen baju perang, pelindung tubuh (baju zirah, harnas, varman). Baik kotang Onto Kusumo — bentuknya menyerupai rompi, yang dilengkapi dengan gambar bintang warna keemasan pada dada adalah komponen baju perang. Begitu pula, Dewi Durga di dalam pengarcaannya juga mengenakan semcam rompi, yang berfungsi sebagai baju zirah. Para raja pun konon memakai baju perang ketika terjun ke medan laga. Oleh karena itu, dapat dipahami ada sejumlah raja dengan unsur nama gelar (abhiseksnama) “varmman”, yang berarti : mengenakan baju zirah (baju perang).

Terdapat pula sebutan “badhong” namun menunjuk pada perangkat pelindung (pengaman). Namun, yang dilindungi bukannya punggung, melainkan kemaluan perempuan (vulva) hingga vagina. Bentuknya juga segitiga atau kadang menyerupai bentuk daun waru. Apabila pada badhong pelindung punggung sudut lancipnya menuju ke arah atas. Maka pada badhong pelindung vulva ke arah bawah dan ukurannya lebih kecil. Pada sejumlah penggambaran pada seni arca masa Hindu-Buddha. Terbayangkan bahwa badhong dibuat dari bahan logam atau kulit, yang disertai dengan tali melingkar pinggang semacam sabuk atau bahkan rantai.

B. Badhong sebagai Pengaman Vulva pada Artefak Masa Lalu

Kisah cawat purba

Soal kisah cawat purba, pada halaman III Candi Sukuh terdapat sepasang arca Garuda besar dengan jenis kelamin berbeda. Yaitu pejantan dan betina. Sayang sekali, keduanya telah tak berkepala. Arca garuda yang betina mengenakan badhong, menyerupai cawat. Bentuknya segi tiga, bahkan mendekati bentuk daun waru, dengan sudut lancip ke arah bawah. Badhong itu dilengkapi dengan semacam “sabuk” untuk melingkarkan ke pinggang. Sebagai pembanding, pada arca Dwarapala (Raksasi) dari batu andesit koleksi Museum Daerah Tulungagung tali badhongnya berupa rantai cukup besar tiga deret. Arca Garuda lainnya tidak mengenakan badhong, melainkan kain bawahan hingga di atas lutut. Boleh jadi, arca Garuda yang memakai badhong itu berjenis kelamin betina. Bahwa jenis kelaminnya itu adalah betina tampak pada ciri anatomi dada dan perutnya.

Tergambar pada badhong yang dikenskan oleh sosok antrophomorfis — setengah manusia setengah burung, yakni Garuda di Candi Sukuh. Terdiri atas dua bagian, yang satu sama lain mempunyai sistem kait. Lengkung pada sisi atas badhong membetuk gelung. Ini yang menjadi pangkal atas pada garis belah dari kedua bagian bahong itu. Selain itu diperlengkapi dengan sebuah lubang. Dan karenanya rambut-rambut kemaluan (jembut)nya kelihatan. Tidak dapat dipastikan apa bahan yang digunakan untuk membuat badhong ini. Bisa logam, bisa juga kulit yang tebal.

Ada Cawat Emas Permata Seberat 1.163,09 Gram

Kisah cawat purba lainnya. Bahwa terdapat badhong yang dibuat dari bahan logam, bahkan logam emas. Ini tergambarkan jelas pada artefak emas yang ditemukan oleh Seger tahun 1989 di Desa Laosan Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Badhong yang kini dijadikan benda koleksi di Museum Tantular ini berbahan emas 22 karat. Dengan bobot total 1.163,09 gram dan disertai batu-batu permata (lengkapnya 64 buah, sekarang tinggal 48 buah). Yang disusun simetris berdasar warna di bagian kiri dan kanan. Menilik bahannya yang berupa logam mulia dan batu mulia. Tentulah pemiliknya adalah golongan sosial tinggi.

Sisi depan diberi ragam hias (ornamen) yang bergambar Garuda membawa kamandalu (kundi atau kendi, yang berisi tirtha amreta). Ini suatu gambaran cerita Garudeya yang berinduk pada kisah Garudeya dalam kitab Adiparwa — bagian (parwa) pertama dari 18 parwa (hastadasapar-wa) kitab wiracarita Mahabharata. Di atasnya terdapat gambar telapak tangan kiri yang dihi- asi dengan motif hiasan motif lidah api (flame). Ada pula gambaran berupa raksasa membawa gada. Seolah menjadi penjaga amreta di dalam kamandalu itu. Raksasa yang lainnya digambarkan dengan sikap tangan menyangga. Seperti gambaran Gana — raksasa prajurit Dewa Siwa, yang pada arsitektur candi digambarkan menyangga perbingkaian atas.

Pada dasarnya, badhong adalah media lindung bagi kelamin. Bentuknya serupa cawat (cawat). Terkait dengan cawat di masa lampau. Selain badhong pernah ada semacam cawat bagi pria pertapa yang dibuat dari kulit kayu lengkap dengan wajah penis — semacam koteka di Papua, yang diistilahi dengan “valkaladara”. Pada relief cerita “Arjunawiwaha”, manakala bertapa di lereng Indrakila, Arjuna memakai walkaladara. Istilah “walkaladara” telah kedapatan di dalam bahasa Jawa Kuna, yang menunjuk kepada : memakai pakaian dari kulit kayu. Kata ‘walkala” berarti : kulit kayu, pakaian yang dibuat dari kulit kayu (konon lazim dipakai oleh para pertapa) (Zoetmulder, 1995: 1378). Demikianlah, perangkat badhong lebih merupakan cawat untuk perempuan. Sedangkan valkaladara adalah cawat untuk laki-laki.

C. Perangkat Pengaman “Barang kang Permono”

Salah satu organ tubuh yang masuk kategori maha penting (permono) adalah kemaluan (alat kelamin). Baik kelamin laki-laki (phalus) atupun kelamin wanita (vulva). Oleh karena itu, kelamin mendapat sebutan “wawadi’. Letaknya tersembunyi, sehingga disebut “rahsya (istilah kini “rahasia”). Mengingat bahwa kelamin adalah “barang kang permono atau wafi”. Maka wajib hukumnya bagi semua orang untuk menjaganya, melindunginya, atau mengamankannya. Telebih lagi kelamin wanita (vulva), yang rawan terhadap tindak kejahatan seksual. Yakni dari lelaki jalang, yang bisa diibaratkan dengan binatang bernama “codot”.

Kisah cawat purba
Inilah Garuda Bercawat di Candi Sukuh.

Binatang malam codot adalah pemangsa buah-buahan yang telah matang. Ia memangsanya di malam hari, seolah tindak pencurian. Oleh karena itu, ketika buah sudah memasuki proses matang. Biasanya diberi pembungkus (bahasa Jawa “dibrongsong”), agar terhindar dari tindak pencurian codot, supaya “ora kedisikan codot”. Kelamin wanita diibarati dengan buah yang masak. Sehingga karenanya perlu untuk dilindungi dari pemangsaan codot. Media kuno untuk melindungi dinamai “badhong”, yang bisa diibaratkan dengan “brongsongan vulva”.

Kisah cawat purba di istana. Konon pada lingkungan keraton maupun di kalangan bangsawan, badhong menjadi peralatan yang penting untuk melindungi vulva istri raja/bangsawan. Khususnya bagi para selir. Boleh jadi, selir yang lama tak mendapatkan giliran sanggama rawan untuk “dicodoti” oleh punggawa keraton yang terbilang sebagai lelaki jalang. Ada sebutan sarkastis untuk badong sebagai “kathok seng (celana dalam berbahan logam)”. Hal demikian mengingatkan kita pada tindak pengamanan pada wanita juru pinjat di panti pijat bebera dasawarsa lalu. Yang diberi celana dalam disertai gembok guna mencegah praktik seksual dengan para tamu pijat

Demikianlah, keberadaan badhong membawa pesan moral bahwa perlunya menjaga kalamin. Sebab kelamin terkait langsung dengan hawa nafsu. Salah satu bentuk kejahatan, yang ada dari masa ke masa, adalah “kejahatan kelamin” sebagai perwujudan dari “kejahatan nafsu seksual”. Oleh karena itu, lingdungi kelamin anda. Badhong adalah perangkat purba dari pria buat melindung kelamin wanitanya. Nuwun.

Sangkaling, 3 Februari 2021
Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog Universitas Negeri Malang, Redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com