Kenapa Islam Menolak Komunisme

  • Whatsapp
peaceful media
Akh. Muwafik Saleh
banner 468x60

Oleh: Akh. Muwafik Saleh
(Dosen FISIP UB dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang)

Islam sebagai ad diin, bukan hanya hubungan dengan tuhan dalam pengertian ibadah ritual semata. Karena pengertian ad diin setidaknya memiliki beragam makna. Hal ini mendasarkan pada Firman Allah SWT :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Baca Juga

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
(Q.S. Ali ‘Imran, Ayat 19)

Makna Ad Diin

Berdasarkan Firman Allah tersebut maka al maududi memberikan makna atas ad diin dengan 4 pengertian :

:

  1. الصُلْطة والقهْر
  2. As Sulthoh wal qohru (Kekuasaan/memaksa): orang yang beragama berarti telah menyerahkan kekuasaan dirinya dan bersedia dipaksa untuk tunduk pada aturan. (Q.S. Al waqiah 85-86)
  3. الخضوع لهذه الصلطة
  4. Tunduk pada kekuasaan itu. Yaitu sikap taat dalam menjalankan aturan/pemikiran dari apa yang telah diyakininya. Termasuk dalam hal ini ideologi, keyakinan dsb
  5. النظام المُنزّل من هذه الصلطة
  6. Undang-undang yang bersumber dari kekuasaan. Pengertian ini memberika pemahaman bahwa seseorang bersedia patuh menjalankan dan terikat pada undang2 kekuasaan tsb. (Qs.Yusuf : 76)
  7. الجزاء لمن طاع ومن عصاء
  8. Balasan bagi yang taat dan siksa bagi yang melanggar. Sebagaimana dalam surat al fatihah ayat 3 yaitu yaumud diin: hari pembalasan

Islam Tak Sebatas Konsepsi Ritualisme

Berdasarkan konsepsi tersebut bahwa Islam tidaklah sebatas konsepsi ritualisme belaka. Namun sekaligus konsepsi keyakinan atas jalan hidup (way of life) atau ideologi yang secara sistematis diperuntukkan mengatur hidup manusia menuju jalan kebahagiaan yang abadi. Namun karena Islam bukanlah berdasar hasil ide pemikiran seseorang melainkan wahyu Allah maka Islam tentu berada di atas semata ideologi atau melebihi dari ideologi (beyond ideologi). Sehingga tepatlah jika dikatakan Islam adalah ushul (akar atau dasar), yaitu aqidah (keyakinan) dan syara’ (aturan).

Dengan demikian berdasarkan Firman Allah Q.S. Ali Imron ayat 19 tersebut bahwa ad diin yang diridhoi oleh Allah hanyalah Islam dan bukan yang lain.

Untuk itu ideologi kapitalis maupun lebih-lebih komunisme pastilah tertolak dan haruslah dijauhi. Khususnya dalam aspek penerapan konsepsi ideologi itu dalam tataran praksis pengelolaan kehidupan (beda tentu dalam tataran sebatas kajian ilmu pengetahuan, siapapun sah sah saja mendalaminya, tentu setelah mendalami ide Islam terlebih dahulu).

Dalam hal komunisme maka hal ini tertolak secara diametral dengan konsepsi pemikiran Islam. Hal ini dikarenakan beberapa alasan. Antara lain mengapa komunisme bertentangan dengan Islam yaitu :

Komunisme Dibangun dengan Filsafat Logika Dialektika Materialisme

Pertama, Komunisme dibangun atas dasar filsafat logika dialektika materialisme. Yang memahami segala suatu itu terbentuk dari materi kongkrit indrawi. Dan semua realitas materi itu bersifat final. Sehingga bagi komunisme mereka tidak percaya pada hal yang bersifat ghoib karena hal itu tidak materi indrawi. Sementara Islam memahami suatu konsepsi akan hal yang ghoib bahkan konsep ghoib adalah sentral dalam Islam. Banyak konsepsi dalam Islam yang meletakkan percaya pada yang ghoib sebagai hal mendasar dalam keyakinan keimanan seorang muslim. Misal percaya pada Allah yang Maha Ghaib, malaikat, taqdir, hari akhir dan hari pembalasan. Semua hal tersebut adalah bersifat ghaib. Yang kesemua ini ditolak oleh komunisme.

Kedua, konsep Class strugle (pertentangan kelas). Komunisme memahami bahwa didalam masyarakat terdapat dua kelompok yaitu borjuis (the have) dan proletar (the poor). Untuk mewujudkan kesejahteraan maka kelompok proletar harus menang dan berkuasa dan cara yang paling mungkin untuk mewujudkannya adalah dengan jalan perebutan kekuasaan, revolusi, kekerasan, pemaksaan, bahkan pembunuhan (pembantaian). Sehingga tidaklah mengagetkan jika dalam sejarah komunisme dunia selalu diwarnai dengan pembantaian dan pembunuhan.

Penuh dengan Kekerasan

Coba kita perhatikan data pembantaian pemimpin komunis terhadap rakyatnya sendiri di dunia misalkan antara lain Lenin di Rusia (1917-1923) membantai lebih dari 500.000 orang, Stalin rusia terhadap petani kulak membantai 6 juta orang, Stalin di Rusia (1975-1978) membantai 40 juta orang, Mao Tse Tung di China (1947-1976) membantai 50 juta rakyatnya, Pol Pot di Kamboja (1975-1979) membantai 2.5 juta orang, Eropa Timur dibantu Rusia Soviet membantai 1 juta orang, di Amerika Latin lebih 150.000 orang yang dibunuh, Afrika sekitar 1.7 juta orang dibunuh , Najibullah Afganistan (1978-1987) 1.5 juta orang rakyatnya sendiri dibantai.

Kekerasan yang menyertai sejarah komunisme bukanlah peristiwa yang tiba-tiba. Melainkan buah dari cara pandang ideologinya itu sendiri bahkan tokoh utama komunisme Karl Marx (1818-1883) pernah berkata: “Bila waktu kita tiba, kita tak akan menutup-nutupi terorisme kita.”

Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924) juga menyatakan: “Saya suka mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi sekarang ini, yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan darah.” Satu lagi tulisannya: “Tidak jadi soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”

Tentu tindakan kekerasan seperti itu sangat bertentangan dengan konsepsi Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang yang ini terungkap dalam bacaan yang selalu menjadi pembuka setiap aktifitas seorang muslim yaitu kalimat bismillahirrahmanirrahim. Dimana sifat arrahman dan arrahim lah yang lebih didahulukan dibandingkan dengan sifat Allah lainnya.

Komunisme Tak Punya Konsep Moral

Ketiga, komunisme tidak memiliki konsepsi moral, hal ini konsekwensi logis dari filsafat dialektika materialisme itu. Karena realitas hidup ini adalah sesuatu yang final dan tidak ada hubungan apapun dengan masa depan (akhirat yang ghoib) maka mereka bebas bertindak apapun saja tanpa nilai yang mengatur sehingga yang terjadi adalah berlaku filsafat macheavilism yang menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan.

Pemikiran seperti ini tentu bertolak belakang secara diametral dengan nilai islam dimana islam sangat memuliakan akhlaq bahkan itulah misi kerasulan, yaitu untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlaq manusia. Sehingga tujuan yang baik haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula. Bahkan yang menentukan nilai seseorang bukanlah pada hasilnya melainkan proses yang dilakukannya, apakah dilakukan atau didapat dengan cara yang baik atau tidak.

Keempat, ciri khas pemikiran komunisme adalah penolakannya terhadap agama atheisme), bahkan mereka mengatakan agama adalah candu masyarakat. Bagi komunisme agama adalah bentuk kelemahan manusia dalam menghadapi realitas dan sekaligus dalam sejarahnya agama dipahami adalah alat penindasan dari kalangan borjuis gereja terhadap kalangan proletar para buruh. Karena komunisme menolak agama maka secara otomatis komunisme menolak adanya Tuhan dengan kata lain komunisme sesungguhnya adalah atheisme.

Sementara Islam sebagai suatu agama tentu sangat menolak cara berpikir ini. Sebab dengan agama manusia akan mengetahui nilai kebenaran dan kebaikan serta dapat membedakan mana yang mudharat dan mungkar. Islam memahami bahwa agama adalah nasihat yang mengarahkan manusia pada jalan kebahagiaan masa depan.

Cita-Cita Kemakmuran yang Fatamorgana

Kelima, salah satu konsepsi yang di dengungkan oleh komunisme adalah pemerataan aset melalui prinsip sama rasa sama rata. Tidak boleh ada satupun yang menguasai berbagai aset baik ekonomi ataupun politik kecuali harus dibagi secara rata dan yang berhak untuk mengelolanya adalah sebagian kecil elit partai sehingga pada akhirnya yang sejahtera kemudian hanyalah sekelompok kecil saja dari kalangan partai. Sehingga dapatlah kita lihat bahwa diberbagai negara komunis mimpi ini tidaklah pernah terwujud. Bahkan semua negara komunis mengalami kebangkrutan dan masyarakatnya hidup dalam kemiskinan. Artinya cita-cita kemakmuran yang ditawarkan komunisme hanyalah ilusi dan fatamorgana belaka. Mereka memahami keadilan akan terujud jika semuanya dibagi secara merata. Mereka gagal paham bahwa Allah mencipta manusia dalam beragam perbedaan yang merupakan alamiah kehidupan yang dengannya manusia dapat berbagi. Disinilah perbedaan diametral dengan konsepsi islam. Islam memahami bahwa keadilan memang harus ditegakkan seadil-adilnya, namun dalam pemerataan aset tetap haruslah dibagi secara proporsional. Karena konsepsi adil menurut Islam adalah
وضع شيئ على محله
“Meletakkan sesuatu pada tempatnya” (proporsional).

Dan dari beragam perbedaan inilah Islam menegaskan pentingnya berbagi, peduli dan saling bertanggungjawab sesama umat manusia. Sehingga ada konsep zakat, infaq dan sedekah. Serta Islam juga mengatur agar aset-aset ekonomi tidak berputar (terpusat) pada segelintir orang saja. Sebagaimana Firman Allah :

(مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ)

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”
[Surat Al-Hasyr 7]

Keadilan Islam

Inilah keadilan Islam, siapapun boleh kaya dengan cara yang baik dan halal. Namun pula setiap orang memiliki hak atas setiap harta yang kita miliki sehingga disinilah kepedulian harus dilakukan. Bahkan zakat sebagai cara mensucikan harta. Bahkan merupakan tindakan dosa apabila berbuat kikir.

Di sinilah keadilan itu dibangun dengan sangat manusia dan adil seadil adilnya. Serta konsepsi ini tidaklah hanya ada dalam bayangan konsepsi belaka namun pernah hadir secara nyata dalam perjalanan sejarah dengan sangat menakjubkan dan memukau dunia.

Wallahu a’lam

Akh. Muwafik Saleh aktif menulis di nusadaily.com, induk dari imperiumdaily.com