Ekspose Phallus Arca Asal Sukapura: Fenomena Ikonografi di Akhir Masa Klasik Bergaya Megalitik

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Menarasikan Unggahan Foto Dokumenter

Ada unggahan sebuah foto dokumenter menarik dari mas Riyan Dhamma. Foto tentang dua buah arca yang berasal dari Tjakrawati di Soekopoero Kabupaten Probolinggo, yang berlokasi di lereng Gunung Tengger. Foto koleksi dari van Kinsbergen (KITLV 87597), yang menurut catatan dipindahkan ke Museum Masyarakat Bataviaasch (Kni “Museum Nasional” di Jakarta) pada sebelum tahun 1900. Nb: Oude albumnrs 2/51 en K 21. Beschrijving van de foto’s in Bijlage D van het Oudheidkundige Verslag over het eerste kwartaal in 1914, nr 73.

BACA JUGA: “Dewi Kesejukan Air dan Penyembuh Sakit” Shitala pada Jaladwara Patirthan Geneng

Baca Juga

Foto dokumenter tak senantiasa dilengkapi dengan narasi yang cukup tentang obyek terfoto. Padahal, foto lama itu penting artinya bagi peristiwa masa lalu . Disamping itu informasi tentangnya bisa jadi butuhkan oleh khalayak. Oleh karena itu, maka ada baiknya unggahan foto-foto dokumenter disertai dengan narasi, baik oleh si pengunggah foto atau oleh orang lain yang berkompeten. Berkaitan itu, tulisan ini dimaksudkan untuk menarasikan sejarah dan budaya yang terkadung di dalamnya. Dengan cara demikian, maka foto dokumenter itu menjadi dapat bercerita tentang dirinya dan bisa dijadikan sebagai bahkan ajar budaya masa lampau.

B. Gaya Ikonografi Megalitik Arca di Sukapura

phallus
Ikonografi pada arca ini amat bersahaja. Foto: Diunggah Riyan Dhamma.

Gaya ikonografi arca itu terlihat amat bersahaja, terkesan kaku, dan tak proporsional anatominya. Figur yang terpahatkan tanpa busana (telanjang bulat). Sehingga tampak kemaluan (phallus)-nya. Satu atau kedua tangannya disilangkan di depan dada. Seperti sikap “protektif”, perlindungan diri dari gangguan yang bersifat gaib. Bahkan, salah satu dari kedua arca tersebut digambarkan dengan tangan (kanan) menggenggam alat kelaminnya. Arca dengan gaya ikonografi yang demikian acapkali didapati dalam konteks “candi gunung”. Kebanyakan berasal dari akhir Masa Hindu- Buddha (abad XV-XVI Masehi). Orang sering menyangka bahwa arca-arca yang demikian berasal dari Masa Perundagian di akhir Zaman Prasejarah, yang bersamaan dengan hadirnya “Tradisi Budaya Megalitik Muda (Younger Megalith Tradition)”.

Apabila dibandingkan dengan ikonigrafi dari pra- Hindu-Buddha, arca ini memiliki keserupaan gaya dengan arca dari “tradisi megalitik”. Gejala budaya yang demikian didapatkan pada sejumlah tempat. Khususnya pada candi-candi gunung (baca “punden berundak”). Menurut pendapat.W.F. Stutterheim, pada Masa Akhir Hindu-Buddha terjadi fenomena kultura yang diistilahinya dengan “Neo-Megalitik”. Yakni munculnya kembali (revivalisasi) ataupun menguatnya kembali (revitalisasi) anasir tradisi budaya Megalitik. Kemunculannya itu antara lain terlihat dalam seni-arca (ikonografi), seperti yang tergambar pada arca tertelaah ini.

Selain pada seni arca, revivalisasi tradisi Budaya megalitik juga terjadi pada seni bangun (arsitektur) keagamaan, yang ditandai oleh hadirnya bangunan berpola “berundak” — karenanya muncul sebutan “punden berundak”. Adapun dalam sistem keyakinan terlihat menguat kembali ritus pemujaan terhadap arwah nenek moyang (ancestors worship). Antara lain tergambar pada pemujaan terhadap” dewa lokal”, yakni “perdewaan terhadap arwah leluhur’. Fenomena ini mengingatkan saya kepada apa yang kini disebut dengan “posmo”. Bila benar demikian, he he he ….. seperti “post modern”-nya zaman itu, manakala hegemoni pengaruh budaya India mengalami degradasi.

C. Makna “Phallus” Arca Gaya Megalitik Sukapura

phallus
Fenomena “Neo- Megalitik”.
Foto diunggah Riyan Dhamma.

Arca pada foto ini memperlihatkan fenomena “Neo- Megalitik” yang terletak terpencil di “luar keraton”. Yakni pada areal keberadaan “Candi Gunung” dari masa akhir Hindu-Buddha. Ada kesengajaan untuk menampilkan phallus-nya. Malahan dalam posisi digenggam dengan tangan kanannya, seperti orang yang tengah beronani. Simbolik religius-magis yang terkadung pada ekspos phallus ini amat boleh jadi berkenaan dengan : (a) “ritus kesuburan (fertility rites)” untuk keturunan, tanaman pertanian, serta pembiakan hewan ternak, dan sebagai media (b) penolak bencana alam maupun bahaya gaib. Salah satu kelamin yang kala itu sangat populer adalah phallus Bhima (sebutan lokal “Konthol Bhimo”). Arca dengan phallus digenggam tangan didapati pula pada halaman III di mulka candi induk Sukuh, di Desa Jatimulyo – Tulungagung. Di Situs Gaprang dan Reco Warak di Kabupaten Blitar. Bahkan, phallusnya digambarkan tak proporsional, kelewat besar dan panjang. Pada era akhir Hindu-Buddha ini pula didapatkan sejumlah patung kelamin pria yang digambarkan natural. Antara lain dinamai dengan “reco gathak (varian sebutan dari ‘gathel’), kacuk, dsb.” Misalnya, pada awal abad X (di dalam ROC) diberitakan tentang adanya reco Gathak di Desa Ngujang – Toeloengagoeng. Begitu pula di Kacuk – Kota Praja Malang, pernah pula didapatkan arca phallus, yang disebut dengan istilah lokal “kacuk”.

Demikianlah tulisan yang cuma ringkas ini, yang dibuat untuk mengapresiasi foto dokumentet yang terbilang “unik”. Arca pada foto ini amat mungkin menggambarkan tentang arwah nenek moyang dari Wong Tengger yang telah ” diperdewa”. Semoga menambah wawasan bagi para pembaca tentang suatu fenomena budaya Nusantara di masa lampau. Nuwun.

Catatan : Matur nuwun mas Riyan Dhamma atas unggahan fotonya yang says telaah ini.

Sangkaling, 2 Agustus 2020 Griyajar CITRALEKHA

Post Terkait

banner 468x60