Mengenal Komikus “Eggnoid” Archie The RedCat

  • Whatsapp
komik eggnoid
"Eggnoid" Karya komikus Archie The Redcat (instagram/archietheredcat)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Komik daring “Eggnoid” yang telah menemani pembaca webtoon selama lima tahun harus berakhir di awal tahun ini.

Mengutip dari Antara, kepopuleran komik ini membuat kisah remaja bernama Ran yang menemukan Eggy, pria tampan dari telur misterius, diadaptasi ke layar lebar pada 2019, dibintangi oleh Morgan Oey dan Sheila Dara Aisha.

Komikus “Eggnoid” Archie The RedCat kelahiran 31 Maret yang sudah menelurkan karya “Scarlet”, “White Feathers”, “Mulih”, “LUV” ini berbagi cerita mengenai kisah di balik nama pena, kegiatannya selama pandemi, hobi baru selama pagebluk hingga perasaannya setelah “Eggnoid” rampung.

BACA JUGA: Webtoonist “True Beauty” Yaongyi Cerita Rutinitas Komikus Webtoon – Nusadaily.com

Apa kabar Archie selama pandemi?

Lumayan kangen masa-masa ngafe, bosan di studio terus. Dulu mah suka ngumpul sama teman, ngafe sambil ngegambar bareng.

Bagaimana menjaga diri tetap happy selama pandemi?

Banyak nonton Netflix! (tertawa) Enggak sih, lumayan banyak kegiatan juga, kayak gambar-gambar fan art, atau gambar-gambar untuk senang-senang, saya belajar lagi menggambar pakai kuas. Kalau dulu, sudah selesai gambar buat webtoon, saya gambar lagi tapi yang buat kesenangan pribadi, bukan buat pekerjaan.

Sebetulnya apa sih cerita di balik nama Archie The Redcat?

Karena saya senang sama warna merah dan senang kucing. Dulu saya terobsesi sama warna merah. Sepatu, celana, jaket, aksesoris merah semua sampai orang lieur (pusing), semuanya merah (tertawa). Kalau belanja, lihat yang merah, wah bagus banget mencrang (indah).

Waktu kecil saya suka Sailor Mars, karena merah. Suka Jason di Power Ranger karena dia Ranger Merah. Waktu kecil kalau enggak salah saya pernah nonton TV show dari Belanda tentang kucing merah, dari situ saya mikir “oh kucing juga bisa warna merah”. Saya kan pengin yang beda, kucing warna merah kan enggak ada.

Archie-nya?

Singkatan dari RedCat. RC. Jadi Archie. Dulu pas SMP saya bikin Ucing Beureum (kucing merah dalam bahasa Sunda), tapi pas ditulis banyak yang enggak bisa ngomongnya (karena tidak familier dengan bahasa Sunda). Saya pikir bakal ngerepotin kalau dijadikan nama panggung (tertawa). Pas SMP saya sudah mikirin itu, makanya ganti jadi yang lebih go international (tertawa).

Karena namamu The RedCat, saya asumsi kamu punya kucing. Pelihara berapa ekor?

Dulu banyak, sekarang jadi tinggal tiga. Sambil mengurus stray cat. Kalau stray cat yang datang untuk makan lima ekor. Yang tiga ekor terus-terusan di studio. Kalau capek kerja tinggal main sama kucing.

Selamat ya sudah menyelesaikan “Eggnoid”, bagaimana perasaannya bertahun-tahun akhirnya rampung juga?

Lima tahun. Mulai Desember 2015, udahan Januari 2021. Rasanya lega, jadi merasa bebas banget bisa ngapa-ngapain. Kan kadang waktu terakhir-terakhir mau tamat, sering mimpi telat deadline, bagaimana kalau file hilang semua, pas lihat jam sudah hari Minggu, bagaimana ngejarnya (tenggat waktu)? Stres begitu sampai terbawa mimpi. Sekarang plong banget enggak perlu mikirin deadline lagi. Senang banget, lega banget.

Dulu memang rencana buat Eggnoid serial panjang sampai bertahun-tahun?

Memang rencana bakal empat season, cuma dulu rencananya satu season 50 episode, jadi ceritanya bakal 200 episode saja. Tahunya ada yang mulur jadi 70-80 episode (per musim). Kalau enggak salah jadi 250 sekian, mulur 50 episode.

Kenapa bisa mulur?

Kan setiap chapter saya harus bikin naskah, tapi bentuknya tulisan. Pas dibuat storyboard, ada bagian yang butuh banyak ruang untuk diekspresikan lewat gambar. Kalau misalkan kepanjangan, kagok kalau dipotong, jadi cut untuk episode selanjutnya.

Kamu pernah unggah buku yang isinya konsep “Eggnoid” di Twitter. Bagaimana sih proses membuat serial? Apa saja isi buku itu?

Isi bukunya konsep, kayak kerangka karangan. Misalnya, season satu ada pointer-pointernya. Contoh, pointer satu, Ran dan Eggy pertama ketemu, lalu bagaimana mereka setelah ketemu, kejadian apa yang membuat mereka tambah akrab. Kalau ada yang bisa dijadikan satu episode, pointer-pointer itu disatukan.

Kalau sudah ada pointer, dari setiap pointer dibikin naskah. Tapi naskahnya lebih kayak dialog. Isinya dialog-dialog karakter apa saja. Pas bikin storyboard, dialog di naskah dimasukkan ke balon dialog. Setelah sudah jadi saya baca ulang, lalu buat layout. Kalau sudah oke baru bikin sketsa.

BACA JUGA: “Big Bang Indonesia”, Pertunjukan Musik untuk Rayakan Hari Musik Nasional – Beritaloka.com