Eks Direktur WHO Minta RI Pakai Vaksin Bivalen untuk Cegah Covid Varian Baru

Eks Direktur Penyakit Menular Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama merekomendasikan agar Indonesia mulai mempertimbangkan penggunaan vaksin Bivalen di tengah Covid-19 subvarian Omicron XBB yang tengah menyebar di sejumlah negara.

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Eks Direktur Penyakit Menular Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama merekomendasikan agar Indonesia mulai mempertimbangkan penggunaan vaksin Bivalen di tengah Covid-19 subvarian Omicron XBB yang tengah menyebar di sejumlah negara.

"Akan baik kalau kita juga mempertimbangkan penggunaan vaksin Bivalen sekarang ini," kata Tjandra dalam keterangannya, Senin (17/10).

Tjandra mengatakan vaksin Bivalen saat ini sudah banyak digunakan di berbagai negara termasuk Singapura dan Australia.

Vaksin Bivalen, kata Tjandra, berbeda dengan vaksin yang saat ini digunakan di Indonesia. Bivalen merupakan vaksin yang bisa memberikan perlindungan terhadap varian-varian lama sekaligus varian baru seperti Omicron.

BACA JUGA : Presiden Jokowi Resmi Luncurkan Vaksin Covid-19 IndoVac Hari Ini

"Bivalen adalah perkembangan terbaru vaksin Covid-19 yang dapat memberi perlindungan terhadap varian-varian yang lama dan juga pada varian Omicron sekarang ini," ujar Tjandra.

Dengan efektivitas tersebut, Tjandra ingin pemerintah mulai mempertimbangkan penggunaan Bivalen sebagai vaksin di Indonesia, terlebih di tengah merebaknya subvarian baru Omicron yakni XBB. Sebab di beberapa negara, terutama India, subvarian itu mulai meluas dan bahkan dikhawatirkan terus meningkat.

"Kita ingat dulu varian Delta juga mulanya merebak di India dan kemudian meluas juga di negara kita," ujar Tjandra.

Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bakal menunggu rekomendasi WHO dan para ahli vaksin terkait penggunaan Bivalen di Indonesia.

BACA JUGA : Capaian Vaksinasi Covid-19 Tinggi, Sepuluh Desa di Situbondo Dapat DID dan BKK

"Kita akan tunggu bagaimana rekomendasi WHO, dan juga nanti para ahli vaksin dalam negeri yang tentunya akan mengkaji sesuai situasi yang ada," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi saat dikonfirmasi, Senin (17/10).

Nadia juga mengatakan sejauh ini subvarian XBB belum ditemukan di Indonesia. Ia lalu menegaskan hingga kini pemerintah terus melakukan pemeriksaan melalui whole genome sequencing (WGS) guna mengidentifikasi varian baru dalam negeri.

"Kita monitor terus melalui pemeriksaan genome sequencing," ujar Nadia.

Diberitakan, negara tetangga yakni Singapura dilanda gelombang kasus XBB belakangan ini. Gelombang itu dikabarkan bakal mencapai puncaknya pada pertengahan November.

Menurut keterangan Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung, XBB telah menyumbang 54 persen kasus lokal di Singapura, sejak 3 hingga 9 Oktober. Ong menilai penyebaran XBB berpotensi memicu gelombang kasus Covid-19 baru di negara itu.(lal)