Duh duh duh... Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Cari Utangan Rp 16 T, Kok Bisa

Proyek KJCB mengalami pembengkakan biaya sebesar US$ 1,449 miliar atau setara Rp 21,4 triliun (kurs Rp 14.800/US$). Sehingga biaya proyek bertambah menjadi US$ 7,5 miliar dari US$ 6,071 miliar. Adapun skema penyelesaian yang disepakati pihak Indonesia dan China 25% ekuitas dan 75% pinjaman. Dari porsi ekuitas konsorsium Indonesia dibayar melalui tambahan PMN 2022 kepada PT KAI (Persero) sebesar Rp 3,2 triliun karena memiliki porsi sebesar 60% dalam konsorsium, sedangkan porsi China sebesar Rp 2,14 triliun dengan kepemilikan 40%. Nantinya 75% atau setara Rp 16 triliun akan dipenuhi melalui pinjaman dari China Development Bank.

Duh duh duh... Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Cari Utangan Rp 16 T, Kok Bisa

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan pinjaman sebesar Rp 16 triliun dari China Development Bank (CDB) untuk menyelesaikan masalah cost overrun atau pembengkakan biaya. Pemerintah berharap pinjaman ini bisa cair pada Desember 2022 mendatang.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan meski masih ada perbedaan pandangan mengenai angka final terkait angka Cost Overrun dengan pihak China, namun dipastikan tidak ada permasalahan dari pihak CDB.

"Angka belum final, karena ada perbedaan view mengenai angka final. belum disepakati sedang proses," kata Tiko usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, dikutip Kamis (24/11/2022).

Tapi dia mengatakan masih dalam proses negosiasi final, dan menetapkan struktur penjaminan pinjaman.

"Saat ini masih negosiasi final, tapi dari CDB tidak ada isu, tinggal struktur penjaminannya saja," kata Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo

Adapun pencairan dana pinjaman ini dikejar dapat pada Desember mendatang, supaya target penyelesaian proyek yakni Juni 2023 tidak meleset.

"(Desember) harus itu," katanya saat ditanya kemungkinan pencairan dana.

Proyek KJCB mengalami pembengkakan biaya sebesar US$ 1,449 miliar atau setara Rp 21,4 triliun (kurs Rp 14.800/US$). Sehingga biaya proyek bertambah menjadi US$ 7,5 miliar dari US$ 6,071 miliar.

Adapun skema penyelesaian yang disepakati pihak Indonesia dan China 25% ekuitas dan 75% pinjaman.

Dari porsi ekuitas konsorsium Indonesia dibayar melalui tambahan PMN 2022 kepada PT KAI (Persero) sebesar Rp 3,2 triliun karena memiliki porsi sebesar 60% dalam konsorsium, sedangkan porsi China sebesar Rp 2,14 triliun dengan kepemilikan 40%. Nantinya 75% atau setara Rp 16 triliun akan dipenuhi melalui pinjaman dari China Development Bank.

Tiko menjelaskan diharapkan dukungan PMN dan pendanaan dari CBD bisa cair pada bulan Desember 2022 ini. Sehingga jadwal penyelesaian proyek pada Juni 2023 bisa tercapai.

"Kami meyakini dukungan PMN dan pendanaan dari CDB bisa dicairkan bulan Desember, Insya Allah schedule Juni dan Juli ini bisa dicapai dan tentunya kita akan terus mendorong kontraktor baik dalam negeri WIKA dan kontraktor China untuk lebih baik lagi," kata Tiko.(han)