Diduga Karena Flu Babi Ribuan Ternak di Sulsel Mati Mendadak

Ribuan hewan ternak babi dilaporkan mati mendadak di tiga kabupaten Sulawesi Selatan (Sulsel) sejak akhir tahun 2022 hingga 2023. Berdasarkan hasil investigasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel kematian babi tersebut disebabkan wabah African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika.

Diduga Karena Flu Babi Ribuan Ternak di Sulsel Mati Mendadak
Ilustrasi flu babi Afrika. REUTERS/CHALINEE THIRASUPA

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Ribuan hewan ternak babi dilaporkan mati mendadak di tiga kabupaten Sulawesi Selatan (Sulsel) sejak akhir tahun 2022 hingga 2023. Berdasarkan hasil investigasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel kematian babi tersebut disebabkan wabah African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika.

Daerah yang terdeteksi terjangkit wabah flu babi Afrika di Sulsel yakni, di Kabupaten Gowa, Luwu Timur dan Luwu Utara. Kasus pertama kali ditemukan di Kabupaten Gowa pada November 2022 lalu.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Nurlina Saking menuturkan berdasarkan laporan warga, hewan ternak babi yang mati mendadak awalnya mengalami diare hingga akhirnya mati dalam jumlah yang besar.

"Hasil investigasi yang dilakukan pada Januari 2023 lalu di Kabupaten Gowa diperkirakan babi yang mati sebanyak 4.000 ekor," kata Nurlina kepada CNNIndonesia.com, Minggu (14/5).

Kasus yang sama, kata Nurlina ditemukan di Luwu Timur yang diperkirakan 1.336 ekor ternak babi mati setelah mengalami tanda klinis diare.

"Kasus ini ditemukan di Luwu Timur pada bulan Maret lalu, dilaporkan terdapat 1.374 babi yang sakit dan 1.336 babi yang mati," ungkapnya.

Selanjutnya di Luwu Utara, kata Nurlina, pada bulan April lalu dilaporkan hewan ternak babi mengalami sakit dengan tanda klinis seperti tidak nafsu makan, demam, pendarahan di hidung dan telinga, sesak nafas, feses encer berwarna coklat kehitaman hingga feses bercampur darah.

"Kematian babi di Luwu Utara diperkirakan sebanyak 4.529 ekor babi," ujarnya.

Sementara untuk data populasi ternak babi di Sulsel terdiri 10 kabupaten diantaranya, Kabupaten Gowa sebanyak 25.421 ekor, Maros sebanyak 3.274 ekor, Wajo sebanyak 440 ekor, Pinrang sebanyak 7.164 ekor, Tana Toraja 346.710 ekor, Palopo sebanyak 869 ekor, Luwu sebanyak 15.899 ekor.

Kemudian Luwu Utara sebanyak 75.510 ekor, Luwu Timur sebanyak 24.103 ekor dan Toraja Utara sebanyak 452.677 ekor. Total keseluruhan sebanyak 952.067 ekor babi. Sementara di Gowa terdapat populasi babi 25.421 ekor, mati 4.000 ekor.

Adapun di Luwu Timur populasi 24.103 ekor dan 1.336 babi yang mati dengan analisa dari 1000 populasi terdapat 55 ternak yang mati karena AFS. Luwu Utara populasi babi ada 75.510 dan 4.529 babi yang mati dengan hasil analisa 1000 populasi terdapat 59 ternak yang mati karena AFS.

Nurlina mengatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah mewaspadai peningkatan flu babi Afrika ini berdasarkan surat edaran Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 524.3/1262/Disnak-Keswan tanggal 7 Februari 2023 tentang peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit AFS.

"Kita koordinasikan dengan dinas terkait pemerintah setempat yang terdampak, kemudian pengambilan sampel, pengawasan lalu lintas hewan. Menyemprotkan disinfektan di lingkungan kandang dan segera menangani bangkai serta hewan yang sakit," tuturnya.

Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan diperoleh informasi, kata Nurlina bahwa ternak babi menunjukkan tanda klinis seperti diare, tidak mau makan, lemas, bintik merah di badan dan mati sekitar dua hari sejak timbul gejala.

"Berdasarkan hasil konfirmasi laboratorium BBVet Maros di diagnosa ternak babi yang mati, karena terinfeksi penyakit AFS," imbuhnya.

(roi)