Dialog Publik RPS; Cak Sholeh Siap Porsneling Lima, ‘Warning’ Bagi PKB

“Kami mengundang sekitar 75 orang, yang hadir 150 orang. Ini bukti acara dialog publik ini menarik bagi masyarakat agar mengetahui gagasan calon pemimpinnya membangun Sidoarjo ke depan,” ujar Sujani S.Sos, penggagas Dailog Publik Cabup-Cawabup Pilkada Sidoarjo 2024.

Jun 24, 2024 - 12:19
Dialog Publik RPS; Cak Sholeh Siap Porsneling Lima, ‘Warning’ Bagi PKB
Acara Dialog Publik RPS jilid tiga berlangsung di Cafe Mbak Atiek Sidoarjo, Minggu malam.

NUSADAILY.COM – SIDOARJO; Tampil dengan style khasnya pada Dialog Publik RPS, M. Sholeh dalam paparannya lebih mengedepankan edukasi hukum dan politik. Bakal calon bupati (Bacabup) PDIP mencoba mendobrak ‘money politic’, termasuk mengubah  stigma bahwa kekuatan logistik adalah  penentu elementer untuk memenangkan Pilkada Sidoarjo 2024.

Dialog publik yang digelar RPS (Ruang Publik Sidoarjo),--sebuah komunitas group Whatsapp (WA) beranggotakan sekitar 400 orang ini, merupakan kali ketiga digelar di Cafe Mbak Atiek, pada Minggu (23/6) malam. “Dalam memilih pemimpin, kita harapkan masyarakat bukan karena uang, namun lebih menitik beratkan pada rekam jejak, integritasnya,” ujar Cak Sholeh, sapaan praktisi hukum yang terkenal dengan jargon; “No Viral No Justice”.

Lebih lanjut, dia mengemukakan bahwa integritas harus menjadi pertimbangan dasar bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin ke depan bagi Sidoarjo. Sebaliknya bila money politic tetap dominan digunakan sebagai alat untuk memenangkan Pilkada Sidoarjo, bisa dipastikan sulit melahirkan pemimpin yang bersih dan tidak korupsi.

“Ini karena ada cost politic yang besar akibat money politic. Dan selama ini saya menjadi Caleg pada Pileg kemarin, tidak pernah money politic. Begitu pula saya mencalonkan diri sebagai Cabup pada Pilkada 2024, tidak akan menggunakan uang sebagai sarana menang atau untuk mendapat rekom dari partai,” ujarnya. “Kalau pun saya tidak mendapat rekom dari PDIP, juga tidak apa apa. Saya tetap menjadi seperti sekarang ini, akan membantu masyarakat mencari keadilan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Cak Sholeh mengungkapkan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, dan  bebas korupsi tidak sekadar bermodal slogan. Misalnya getol deklarasi atau melakukan gerakan integritas anti korupsi di institusi pemerintahan,--seperti yang sekarang dilakukan Pemkab Sidoarjo akhir-akhir ini.  

Lebih dari itu, lanjut dia, dalam memerangi korupsi harus dimulai dari pribadi masing-masing. “Gerakan berantas korupsi, anti korupsi itu sudah ada sejak dulu, karena bagian dari  agenda reformasi. Kenyataannya masih banyak pelaku korupsi di negeri ini. Mulai kalangan ASN, pengusaha, bahkan dari pesantren juga sudah ada yang masuk penjara,” katanya. “Jadi korupsi bisa dicegah harus dari pribadi dahulu yang diperbaiki,” tambahnya.

Disinggung strategi membangun Sidoarjo ke depan dengan segala potensinya sebagai isu yang ditawarkan kepada masyarakat  pada Pilkada 2024, Cak Sholeh, mengaku belum saatnya membuat konsep itu, karena masih menunggu kepastian mendapatkan rekom dari PDIP sebagai Cabup pada Pilkada mendatang. “Itu gampang. Ketika sudah ada rekom dari PDIP, saya langsung tancap gas, bila perlu masuk porsneling lima,” katanya.

Dialog Publik RPS yang dimoderatori Nanang Haromain dari IRPD kali ini juga menampilkan H. Haris, bakal calon wakil bupati (Bacawabup) dari PAN dan Kusumo Adi Nugroho, Bacawabup PDIP. Juga Baihaqi Sirajd, direktur eksekutif  Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI).

Sementara itu, pemaparan Bacawub H. Haris maupun Kusumo Adi Nugroho tidak banyak berbeda,--keduanya menginginkan dalam pembangunan Sidoarjo ke depan diperlukan program berkesinambungan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pemerintah bersih dan pelayanan publik yang prima, akan menjadi kekuatan tersendiri dalam melaksanakaan pembangunan segala sektor yang bermuara meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sidoarjo.  

 “Untuk mencapai SDM yang unggul, maka kualitas pendidikan harus go internastional. Dan SDM unggul itu juga harus ditopang dengan pelayanan kesehatan yang prima, sebagai dasar kebutuhan hidup sehat dan berkaulitas,” katanya.

Baihaqi Sirajd, berpadangan pada Pilkada 2024 ini menjadi kesempatan sekaligus peluang bagi partai lain merubah dominasi PKB. Sejak Pilkada 2005 hingga 2020, selalu dimenangkan PKB, namun untuk kali ini sangat terbuka peluang direbut partai lain. Apalagi jika melihat trend kemenangan PKB cenderung menurun,--pada Pilkada 2020, kemenangan PKB cuma 39 persen. Sebelumnya Pilkada 2015 sebesar 57 persen, dan Pilkada 2010 sebesar 60 persen dan 2005 sebesar 67 persen. “Kalau melihat trend yang menurun, PKB harus waspada. Harus cermat dan jeli mengusung jagonya jika tidak ingin dominasi kemenangannya direbut partai lain,” katanya.

Sementara itu, Sujani S.Sos, penggagas dialog publik mengapresiasi dukungan semua pihak atas kegiatan ini yang diharapkan dapat memberikan gambaran bagi masyarakat Sidoarjo terhadap sosok, sekaligus ide dan gagasan para calon pemimpinnya.  “Alhamdulillah, acara dialog publik yang sudah berjalan tiga jilid ini, semuanya berlangsung lancar,” ujarnya.

Bahkan yang membuat bangga adalah besarnya animo masyarakat dari berbagai kalangan yang hadir mengikuti acara dialog tersebut. “Sesuai kapasitas tempat, kami mengundang sekitar 75 orang. Tapi yang hadir 150 orang. Ini bukti acara dialog seperti ini benar-benar dibutuhkan masyarakat agar mengenal calon pemimpin dan gagasan-gagasannya membangun Sidoarjo,” ujarnya. (*/ful)