Di Mana Letak Kasta Seorang Guru?

Oleh: Sanusi, M.Pd.

May 27, 2024 - 14:54
Di Mana Letak Kasta Seorang Guru?

Siapa yang tidak kenal dengan guru? Ya, mereka yang berprofesi mengajar. Masyarakat luas memviralkannya dengan istilah pahlawan tanpa tanda jasa. Secara singkat guru dapat didefinisikan sebagai orang yang mengajar di sekolah. Mereka bertugas menuntun para siswa belajar dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak bisa menjadi bisa. Lebih dari itu guru memiliki tanggung jawab menjadikan siswa memiliki akhlak atau kepribadian yang mulia.

Di sekolah-sekolah formal guru harus berpendidikan tinggi, sebagai tuntutan beban kerja dan kemajuan zaman. Tapi hakikat tinggi rendahnya kasta seorang guru tidak ditentukan olah gelar yang disandangnya. Tidak juga ditentukan oleh kepangkatan yang diembannya, kasta seorang guru justru ditentukan oleh kinerjanya.

Tugas utama seorang guru adalah mengajar, mencerdaskan ranah kognitif siswa. Guru juga bertugas mendidik, yaitu menyentuh ranah afektif mereka. Hasil dari pengajaran dan pendidikan adalah terciptanya para siswa yang terpelajar, serba tahu dan berwawasan luas. Selain itu juga tercipta para siswa yang terdidik, yang mulia akhlak dan kepribadiannya.

Memperhatikan sejarah para nabi, ternyata semua dari mereka berperan sebagai pendidik dan pengajar. Dalam konteks ini guru bisa disejajarkan dengan para nabi. Walau tentu saja tidak secara utuh bisa disetarakan. Namun paling tidak tugas mengajar dan mendidik diperankan juga oleh mereka para guru. Betapa dahsyat peranan guru dalam mencerdaskan bangsa. Buktinya Jepang bisa bangkit setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom karena kebijakan Kaisar Hirohito menyelamatkan para guru. Sang Kaisar rupanya menyadari, bahwa Jepang tidak akan bisa mengejar teknologi Amerika, jika mereka tidak belajar.

Naskah kuno masyarakat Sunda seperti yang ada dalam Fragmen Carita Parahiyangan, menyebutkan tentang Tri Tangtu Buana, yaitu tiga hal yang menentukan. Naskah ini kemudian menyebutkan ada tiga unsur yang mempengaruhi perkembangan seseorang atau masyarakat, yaitu rama, ratu dan resi. Pertama, rama adalah orang tua, yang harus bersifat tanah, yaitu dapat menumbuhkan apa yang ditanam padanya. Kedua, ratu-raja atau pemerintahan, ia bersifat batu, artinya keras memegang aturan. Di tangan pemerintahlah segala kebijakan berada, termasuk kebijakan pendidikan anak yang akan mempengaruhi masa depannya. Ketiga, resi, yaitu para pendeta, ulama atau para penganjur agama. Ia harus bersifat seperti air yang memberi semangat dan daya tumbuh.

Dalam konteks Tri Tangtu Buana, guru sejajar dengan para resi yang bersifat seperti air. Air mengandung zat-zat yang dengannya kehidupan bisa bermula. Pantas kitab suci menyebutkan: “dan kami jadikan dari air segala sesuatu menjadi hidup” (QS Al-Anbiyya:30). Dengan siraman air hujan misalnya, tanah yang tadinya tandus dan kering bisa menumbuhkan tanaman hijau nan lebat. Tanaman yang tadinya layu dengan siraman air bisa bangkit dan segar kembali. Seperti itulah filosofi seorang resi yang juga harus dimiliki seorang guru. Guru harus peka membantu menumbuhkan kreativitas dan daya cipta para muridnya. Ia juga harus bisa mengasah rasa, agar melahirkan budi pekerti yang baik. Guru harus mampu mendorong karsa anak didiknya  agar dapat melahirkan karya-karya baru.

Dengan bantuan pemahaman pada filosofi air, tidak diragukan lagi tugas guru sangat mulia. Sepanjang jalan dalam rentang pengabdian seorang guru merupakan ladang amal yang tidak akan terputus walau maut menjemput. Mereka para guru yang ikhlas mengabdi pasti memiliki tabungan amal tak terhingga. Terhadap hal ini penulis berani bersaksi, seperti sebuah peristiwa di Jalan Raya Mangin kabupaten Tasikmalaya menjadi bukti adanya hubungan antara guru, murid dan tabungan amal soleh.

Perlu diketahui Mangin merupakan akronim dari Mangkubumi dan Indihiang, yaitu jalan sepanjang 6,8 Km yang menghubungkan antara Cipari Mangkubumi dan terminal Indihiang. Jalannya cukup lebar mencapai 14 meter, di kanan dan kiri jalan ini merupakan lokasi penambangan pasir gali, yang tiap harinya ramai oleh lalu lalang truk-truk besar pengangkut pasir. Dua pekan lalu penulis bersama 2 pemumpang lain melewati jalan ini. Ketika jalan kosong kami memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi untuk meyalip truk pengangkut pasir, namun tiba-tiba ban depan sebelah kanan pecah dan mobilpun oleng. Seandainya sopir truk yang kami salip tidak sigap ngerem bisa jadi kami mengalami kecelakaan maut. Sambil gemetar kami segera mepet ke bahu jalan menyelamatkan diri.

Setelah basa-basi dengan sopir pengangkut pasir, ia pun terus melanjutkan perjalanan karena memang sudah ditunggu pelanggan pasir di tempat lain. Sejurus kemudian dari belakang truk muncul Xenia merah dengan pengemudi lelaki setengah baya bernama Ruli yang datang menghampiri kami dan menawarkan bantuan. Singkat cerita Mas Ruli inilah yang membantu membongkar ban. Ia juga yang mengantar kami mencarikan ban baru untuk mengganti ban yang pecah. Untuk mencari ban dengan ukuran ring yang diinginkan sampai harus mendatangi dua toko dengan jarak yang cukup berjauhan, namun Mas Ruli dengan sabar mengantar kami hingga mendapatkan ban baru dan kembali ke TKP, lalu beliau juga yang memasangkan kembali ban itu ke mobil kami.

Mas Ruli yang baru kami kenal dalam kecelakaan itu, ternyata adalah sopir Gocar yang beroprasi di kota Tasikmalaya. Setelah selesai membantu pemasangan ban, kami segera menanyakan berapa upah yang harus kami bayar? Mas Ruli malah tersenyum lebar dan sama sekali tidak mau dibayar, ia hanya mengatakan, “Dalam hal ini, saya ingin menaati pesan guru SD saya untuk menolong orang yang membutuhkan tanpa pamrih.”

Setelah berbincang-bincang agak lama, kemudian diketahui bahwa guru SD Mas Ruli telah meninggal 10 tahun yang lalu. Namun pesannya demikian melekat di hati seorang Ruli. Ia tidak sekadar mendengarkan dan menyimpan pesan itu di lubuk hatinya. Saat ini ia telah mengamalkan pesan gurunya dengan sempurna. Bahkan ia tidak mau mendapatkan bayaran dari penderitaan orang lain, sebagai bukti ketaatan terhadap nasihat gurunya. Rupanya Mas Ruli terus menerus mengenang gurunya. Nampak baginya peringatan hari guru bukan tanggal 25 Nevember saja, bagi Mas Ruli hari guru adalah sepanjang waktu.

Dari peristiwa inilah penulis dapat menyimpulkan sebuah opini pemikiran, bahwa tinggi rendahnya kasta seorang guru bukan karena gelar atau jabatannya, tetapi mereka para guru yang senantiasa dirindukan dan ditaati oleh para muridnya. Ketika pengabdian seorang guru mengantarkannya ke titik ini, maka mahkota kasta tertinggi telah ia raih. Boleh jadi tubuh mati berkalang tanah, tapi jasa kebaikan seorang guru akan tetap dikenang. Terimakasih Mas Ruli, semoga amal kebaikanmu juga mengalir untuk gurumu yang telah tiada. Pegiat. (****)

 

Sanusi, M.Pd. adalah aktivis Humanity First Indonesia dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

Editor: Wadji