Dampak Tsunami Layanan Paylater: Sebuah Ulasan Mendalam dari Berbagai Sudut Pandang  

Layanan Paylater merupakan sebuah metode pembayaran tunda yang semakin popular di kalangan masyarakat kita karena kemudahan dan fleksibilitasnya. Begitu dahsyatnya perkembangan layanan ini, bagaikan tsunami yang melanda sektor keuangan Indonesia. Namun demikian, layanan ini menyimpan potensi risiko besar yang perlu kita waspadai.

May 30, 2024 - 08:13
Dampak Tsunami Layanan Paylater:  Sebuah Ulasan Mendalam dari Berbagai Sudut Pandang   

 Oleh: Dr. Franky Ariyadi., S.E., S.H., M.M.

 

Layanan Paylater merupakan sebuah metode pembayaran tunda yang semakin popular di kalangan masyarakat kita karena kemudahan dan fleksibilitasnya. Begitu dahsyatnya perkembangan layanan ini, bagaikan tsunami yang melanda sektor keuangan Indonesia. Namun demikian, layanan ini menyimpan potensi risiko besar yang perlu kita waspadai.

Fenomena "Tsunami Layanan Paylater " merujuk pada pertumbuhan cepat layanan ini yang memberikan dampak signifikan dan luas pada kondisi ekonomi dan keuangan, dinamika sosial masyarakat, serta industri perbankan dan keuangan non-bank. Penulis ingin mengupas tuntas dampak tsunami layanan Paylater   ini dari berbagai sudut pandang, serta menawarkan solusi komprehensif untuk meminimalkan risikonya.

 

Dampak Paylater  terhadap Ekonomi dan Keuangan di Indonesia

Layanan Paylater memiliki dampak positif, antara lain:

1.             Stimulasi konsumsi. Paylater  telah merangsang konsumsi domestik dengan memudahkan akses terhadap kredit bagi konsumen, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

2.             Inklusi keuangan. Layanan ini juga berkontribusi pada inklusi keuangan dengan memberikan akses ke layanan keuangan bagi segmen populasi yang sebelumnya tidak terjangkau oleh sistem perbankan tradisional.

3.             Mempermudah transaksi keuangan, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Sebaliknya, layanan Paylater ini juga memiliki dampak negatif, di antaranya:

1.             Kredit macet. Risiko kredit macet meningkat seiring dengan penggunaan layanan Paylater  yang tidak disertai dengan penilaian kredit yang memadai.

2.             Over-leverage konsumen. Konsumen berisiko terlalu banyak berhutang, yang dapat berdampak pada stabilitas keuangan pribadi dan meningkatkan risiko sistemik dalam ekonomi.

3.             Mengancam stabilitas sistem keuangan jika tidak dikelola dengan baik.

 

Layanan Paylater juga memiliki dampak positif dan negatif terhadap sosial masyarakat. Dampak positif dari layanan Paylater, antara lain:

1.             Kemudahan akses. Layanan Paylater memberikan kemudahan dan fleksibilitas pembayaran, memungkinkan konsumen untuk membeli barang dan jasa yang diperlukan dengan lebih mudah.

2.             Mempermudah akses terhadap barang dan jasa, terutama bagi masyarakat dengan pendapatan rendah.

3.             Meningkatkan taraf hidup masyarakat.

4.             Memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Sedangkan dampak negatif dari layanan Paylater terhadap masyarakat yaitu:

1.             Konsumerisme berlebihan. Layanan ini dapat mendorong konsumerisme berlebihan dan pengambilan keputusan pembelian yang impulsif, yang mungkin tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

2.             Ketimpangan sosial. Pertumbuhan layanan Paylater yang tidak diikuti dengan literasi keuangan yang memadai dapat menyebabkan ketimpangan, di mana sebagian masyarakat terjebak dalam lingkaran hutang.

3.             Meningkatkan potensi penipuan dan cybercrime.

4.             Memperparah kesenjangan sosial dan ekonomi masyarakat.

5.             Memicu stres dan kecemasan akibat terlilit hutang.

 

Selain itu, layanan Paylater juga memiliki dampak positif dan negatif pada sektor perbankan dan keuangan non-bank. Dampak positif dari layanan Paylater pada sektor ini meliputi:

1.             Inovasi finansial. Layanan Paylater  mendorong inovasi dalam produk dan layanan keuangan, meningkatkan kompetitif di sektor ini.Memperluas basis nasabah bank.

2.             Peningkatan efisiensi operasi bank.

3.             Peningkatan pendapatan bank melalui bunga dan biaya layanan.

Adapun dampak negatif dari layanan Paylater pada sektor perbankan dan keuangan non-bank, antara lain:

1.             Meningkatkan risiko kredit macet dan Non-Performing Loan (NPL).

2.             Meningkatkan persaingan di industri perbankan.

3.             Menurunkan profitabilitas bank.

4.             Persaingan yang tidak sehat. Dapat terjadi persaingan yang tidak sehat antara lembaga keuangan tradisional dan penyedia layanan Paylater, yang mungkin tidak selalu beroperasi di bawah regulasi yang sama ketatnya.

 

Apa solusi yang komprehensif terhadap hal-hal di atas, khususnya dampak negatif dari layanan Paylater?

Ada beberapa solusi komprehensif yang dapat diterapkan sesuai akar permasalahan, antara lain:

Regulasi dan pengawasan yang meliputi:

1.             Kerangka regulasi yang kuat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait harus mengembangkan kerangka regulasi yang kuat untuk layanan Paylater, yang mencakup penilaian kredit, batasan pinjaman, dan transparansi produk.

2.             Pengawasan teknologi. Implementasi teknologi AI dan big data untuk memonitor dan menganalisis risiko kredit secara real-time, memungkinkan deteksi dini perilaku pinjaman yang berisiko.

3.             OJK melakukan kerjasama dengan Bank Indonesia (BI) untuk membangun sistem informasi debitur yang terintegrasi.

 

Edukasi dan literasi keuangan, antara lain:

1.             Kampanye literasi keuangan. Pemerintah dan lembaga keuangan harus berkolaborasi dalam kampanye edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya terkait dengan penggunaan layanan kredit seperti Paylater, Bekerja sama dengan lembaga pendidikan, media massa, dan influencer untuk menyebarkan informasi yang kredibel.

2.             Pelatihan pengelolaan keuangan pribadi, yaitu menyediakan akses ke sumber daya dan pelatihan bagi konsumen untuk pengelolaan keuangan pribadi yang lebih baik; dan mendorong pengembangan produk dan layanan keuangan yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

Perlindungan konsumen meliputi:

1.             Transparansi produk. Memastikan semua biaya, bunga, dan syarat layanan Paylater  disajikan secara transparan kepada konsumen.

2.             Mekanisme pengaduan.  Mengembangkan mekanisme pengaduan yang efektif bagi konsumen yang mengalami masalah dengan layanan Paylater .

 

Kolaborasi antar lembaga, antara lain:

1.             Kolaborasi sektor publik dan swasta. Mendorong kerja sama antara pemerintah, lembaga keuangan, dan penyedia layanan teknologi finansial untuk mengembangkan standar industri yang sehat dan berkelanjutan.

2.             Pertukaran data. Membangun sistem pertukaran data antar lembaga keuangan untuk mempermudah penilaian kredit dan mengurangi risiko kredit macet.

 

Peningkatan kapasitas dan kemampuan finansial masyarakat, di antaranya:

1.              Memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat tentang pengelolaan keuangan yang baik.

2.              Mendorong pengembangan produk dan layanan keuangan yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

Inovasi teknologi dan produk:

1.              Mengembangkan teknologi dan produk yang membantu masyarakat dalam mengelola keuangan dan menghindari risiko kredit macet.

2.              Menerapkan sistem credit scoring yang lebih akurat dan akuntabel.

 

Kesimpulan

Tsunami layanan Paylater  membawa dampak positif dan negatif bagi ekonomi, keuangan, sosial masyarakat, dan perbankan. Diperlukan solusi komprehensif dan berkelanjutan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko layanan ini. Dengan regulasi yang kuat, edukasi yang masif, dan kolaborasi yang erat, layanan Paylater  dapat menjadi instrumen keuangan yang bermanfaat bagi kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Melalui regulasi yang efektif, edukasi, perlindungan konsumen, dan kolaborasi antar lembaga, Indonesia dapat memastikan bahwa layanan Paylater  berkembang dalam ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan.

 

 

Dr. Franky Ariyadi., S.E., S.H., M.M., adalah dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

Artikel ini telah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Madiun dan Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).