Dampak Badai Matahari Ekstrem 2024, Munculnya Aurora dan Listrik Padam

"Kondisi ekstrem (G5) mencapai Bumi pada pukul 18.54 EDT (05.54 WIB)," menurut keterangan NOAA, "Peristiwa ekstrem (G5) terakhir terjadi saat Badai Halloween pada Oktober 2003."

May 11, 2024 - 18:15
Dampak Badai Matahari Ekstrem 2024, Munculnya Aurora dan Listrik Padam

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Badai Matahari ekstrem, terdahsyat dalam 20 tahun terakhir melanda Bumi sejak Jumat (10/5).

Imbas dari badai matahari tersebut dilaporkan membuat pemadaman listrik hingga memunculkan pemandangan langit malam spektakuler.

Menurut Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) di Lembaga Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), Badai Matahari ini terjadi imbas lontaran massa koronal (CME) terjadi tepat setelah pukul 16.00 GMT (23.00 WIB).

Diketahui, CME adalah pelepasan plasma dan medan magnet dari Matahari.

"Kondisi ekstrem (G5) mencapai Bumi pada pukul 18.54 EDT (05.54 WIB)," menurut keterangan NOAA, "Peristiwa ekstrem (G5) terakhir terjadi saat Badai Halloween pada Oktober 2003."

SWPC NOAA mengungkap Badai Matahari ini bersumber dari Bintik Matahari raksasa bernama AR3664.

Bintik gelap raksasa di permukaan Matahari ini dilaporkan membengkak dalam beberapa hari terakhir, menjadi salah satu bintik Matahari terbesar dan paling aktif dalam siklus Matahari ini.

"Wilayah 3664 berkembang pesat dan menjadi jauh lebih kompleks secara magnetis," menurut laporan SWPC NOAA.

"Hal ini menyebabkan peningkatan kemungkinan terjadinya jilatan api Matahari dalam beberapa hari ke depan."

Fenomena ini pun terungkap memicu sejumlah fenomena, baik positif maupun negatif. Berikut daftarnya:

Arurora borealis

Badai Matahari ini dilaporkan memunculkan fenomena cahaya utara atau aurora borealis di belahan Bumi utara dan cahaya selatan atau aurora australis di belahan Bumi selatan.

Hal ini dipicu oleh partikel energik yang diarahkan ke kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom oksigen dan nitrogen di atmosfer bumi.

Beberapa negara melaporkan kemunculannya. Benjamin Williamson, misalnya, mengunggah aurora itu dari mercusuar di Portland, Maine, AS.

"Ini adalah salah satu hal paling luar biasa yang pernah saya lihat, kekaguman dan keajaiban," kata dia, kepada CNN.

Wargenet juga ramai-ramai menggunggah foto aurora, termasuk dari Eropa bagian utara dan Australia.

"Kami baru saja membangunkan anak-anak untuk menyaksikan Cahaya Utara di taman belakang! Terlihat jelas dengan mata telanjang," Iain Mansfield, sebuah lembaga think tank di Hertford, Inggris, dikutip dari AFP.

"Langit yang benar-benar seperti di alkitab di Tasmania pukul 4 pagi ini. Saya berangkat hari ini dan tahu bahwa saya tidak dapat melewatkan kesempatan ini," imbuh fotografer Sean O' Riordan.

Ahli meteorologi Chad Myers memprediksi fenomena aurora ini akan berlangsung selama tiga malam.

Ahli astrofisika Janna Levin mengatakan partikel berenergi yang menyebabkan gelombang aurora saat ini bergerak jauh lebih lambat, sehingga menyebabkan fenomena tersebut berlangsung selama akhir pekan ini.

"Beberapa dari lontaran massal ini mencapai triliunan kilogram," katanya. "Mereka lebih lambat. Jadi lebih lama, tapi masih berjam-jam, mungkin puluhan jam."

Listrik padam

Fenomena ini, menurut NOAA, menyebabkan padamnya listrik di Swedia dan merusak infrastruktur listrik di Afrika Selatan dan diprediksi lebih banyak melanda Bumi dalam beberapa hari ke depan.

Padamnya listrik ini terkait dengan fluktuasi medan magnet yang terkait dengan badai geomagnetik menyebabkan arus pada kabel panjang, termasuk saluran listrik.

Jaringan pipa yang panjang juga dapat menjadi teraliri listrik, yang menyebabkan masalah teknis.

Bill Nye, pendidik dari the Science Guy, mengungkap Badai Matahari yang sangat besar dapat menghadirkan "bahaya yang nyata" terutama karena dunia modern sangat bergantung pada listrik.

Meski demikian, Nye menyebut insiden kali ini belum sebanding dengan fenomena Carrington 1859 yang pernah sangat mengganggu komunikasi telegraf saat itu.

"Hal lainnya, semuanya, yang merupakan bahaya nyata bagi masyarakat teknologi kita, berbeda dengan tahun 1859, adalah seberapa besar kita bergantung pada listrik dan elektronik dan sebagainya," kata Nye.

"Tak satu pun dari kita di negara maju bisa bertahan lama tanpa listrik."

Nye mencatat ada sistem yang diterapkan untuk meminimalkan dampak fenomena ini, tetapi tetap "ada yang tidak beres." Ia menekankan bahwa tidak semua trafo dilengkapi untuk menahan peristiwa Matahari seperti itu.

"Itu tergantung pada kekuatan peristiwa dan seberapa banyak infrastruktur kita siap menghadapi hal semacam ini," katanya.

Ganggu komunikasi

Para ilmuwan memperingatkan peningkatan jilatan api Matahari dan CME ini berpotensi mengganggu komunikasi di Bumi hingga akhir pekan karena mengganggu ionosfer atau bagian atas atmosfer Bumi.

Realitasnya, Badai tersebut menyebabkan pemadaman radio gelombang pendek di seluruh Eropa dan Afrika.

Pada 1859, Badai Matahari memicu kelebihan arus pada jalur telegraf hingga menyebabkan sengatan listrik pada teknisi bahkan membakar beberapa peralatan telegraf.

Matinya jaringan radio ini disebabkan oleh kuatnya sinar X-ray dan radiasi ultraviolet ekstrem yang dipancarkan selama CME.

Radiasi tersebut bergerak menuju Bumi dengan kecepatan cahaya dan mengionisasi (memberikan muatan listrik ke) bagian atas atmosfer Bumi.

Sinar-X pengion ini berbeda dengan CME yang menyebabkan plasma dan medan magnet meletus dari Matahari, yang bergerak dengan kecepatan lebih lambat, dan sering kali memerlukan waktu beberapa hari untuk mencapai Bumi.

Ionisasi ini menyebabkan lingkungan dengan kepadatan lebih tinggi untuk menavigasi sinyal radio gelombang pendek frekuensi tinggi guna mendukung komunikasi jarak jauh.

Gelombang radio yang berinteraksi dengan elektron di lapisan terionisasi kehilangan energi karena tumbukan yang lebih sering. NOAA menyebut hal ini dapat menyebabkan sinyal radio terdegradasi atau terserap seluruhnya.

Teknologi Antariksa

Partikel energik yang dilepaskan Matahari juga dapat mengganggu perangkat elektronik di pesawat ruang angkasa dan mempengaruhi astronaut tanpa perlindungan yang tepat dalam waktu 20 menit hingga beberapa jam.

Senada, pesawat luar angkasa berisiko terkena radiasi dosis tinggi, yang tak bisa mencapai Bumi imbas perlindungan dari atmosfer.

Meski begitu, NASA memiliki tim khusus yang mengawasi keselamatan astronaut, dan dapat meminta mereka yang ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk pindah ke tempat-tempat di dalam pos terdepan yang memiliki perlindungan lebih baik.

Konstelasi satelit Starlink pun kena dampak pada insiden kali ini. Pimpinan SpaceX, yang mengendalikan Starlink, Elon Musk mengaku Badai Matahari kali ini membuat "satelit-satelit Starlink di bawah banyak tekanan meski masih bisa bertahan."(han)