Selasa, Desember 7, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaCultureWaspada! Hujan Bisa Bikin Galau dan Patah Hati, Begini Penjelasannya

Waspada! Hujan Bisa Bikin Galau dan Patah Hati, Begini Penjelasannya

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Hujan merupakan sebuah fenomena yang diciptakan oleh tuhan yang selalu dikaitkan dengan kegalauan, patah hati, serta kenangan-kenangan yang dapat menjadi sumber keluarnya air mata. Lalu, apa kaitannya hujan dengan berbagai macam perasaan yang menyakitkan tersebut?.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Salah satu ciri khas akhir tahun bisa terlihat dari makin seringnya intensitas hujan. Tak jarang hujan bisa terjadi sepanjang hari dari pagi hingga malam. Jika sudah begitu, terkadang suasana hati ikut terbawa sendu, patah hati, mudah lapar, atau mungkin juga jadi malas gerak alias mager.

Suasa hati seperti itu bukan hanya terjadi tiba-tiba akibat cuaca dingin selama hujan. Tapi sebenarnya juga ada peran sejumlah hormon dalam tubuh.

Tubuh manusia terdiri dari berbagai macam hormon, zat yang diproduksi otak dan organ lain, seperti pankreas, kelenjar tiroid, juga alat reproduksi. Hormon berpengaruh terhadap sistem kerja organ tubuh.

Jika jumlah zat tersebut tidak seimbang, maka manusia mengalami masalah kesehatan. Contoh, kelebihan hormon androgen pada perempuan dapat menyebabkan jerawat dan gangguan menstruasi.

BACA JUGA: Kata-Kata Indah Bahasa Indonesia yang Jarang Digunakan

Dikutip dari Ruang Guru, berikut berbagai peran hormon yang mempengaruhi perasaan manusia saat turun hujan.

Perasaan Sedih

Suasana hati manusia sangat dipengaruhi oleh kerja hormon serotonin. Banyaknya hormon serotonin akan menimbulkan perasaan bahagia. Sebaliknya, kadar serotonin yang rendah membuat seseorang merasa sedih hingga depresi.

Untuk meningkatkan hormon serotonin, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi asam amino. Hormon serotonin juga bisa diperoleh dari kegiatan olahraga serta paparan sinar matahari.

Akibat selama hujan sangat minim sinar matahari, kondisi itu bisa jadi salah satu penyebab perasaan galau muncul. Sinar matahari berperan dalam pembentukan vitamin D yang juga penting dalam produksi serotonin.

Mengantuk

Selain hormon serotonin, cahaya matahari juga mempengaruhi produksi hormon melatonin. Hormon tersebut yang menimbulkan rasa kantuk.

Hormon melatonin dihasilkan oleh otak dan area mata, serta berfungsi untuk mengatur siklus tidur manusia. Semakin tinggi kadar melatonin, semakin besar pula keinginan untuk terus rebahan di kasur. Sebaliknya, jika melatonin dalam tubuh menurun, maka kemungkinan tubuh akan terus terjaga.

Hormon melatonin diperoleh dari sinar matahari dan sumber cahaya lainnya. Ketika sinar matahari jatuh ke saraf mata, produksi hormon melatonin dalam tubuh menurun.

Kebiasaan begadang juga mempengaruhi hormon melatonin. Mata akan jadi terpapar cahaya terus-menerus, kemudian otak mengirim sinyal bahwa tubuh tidak butuh istirahat.

Lapar

Saat suhu dingin, tubuh otomatis memproduksi termogenesis (rasa panas) agar tidak terjadi hipotermia. Secara biologis, ada 2 jenis termogenesis yaitu shivering thermogenesis (ST) dan non-shivering thermogenesis (NST). Shivering Thermogenesis (ST) dihasilkan dari gerakan otot, sementara Non Shivering Thermogenesis (NST) berlangsung tanpa adanya gerakan otot.

BACA JUGA: Ketahui Perbedaan Stres dan Kecemasan

NST akan mengeluarkan energi panas dari dalam tubuh untuk meminimalisir rasa menggigil.

Saat itu lah, hormon ghrelin memainkan perannya dengan meningkatkan rasa lapar sebagai pengganti energi yang terbuang untuk mempertahankan suhu tubuh.

SAD

Meskipun terbilang normal, perubahan emosi yang terjadi saat pergantian musim juga perlu diwaspadai. Seasonal Affective Disorder (SAD) merupakan kondisi seseorang mengalami depresi akibat perubahan cuaca, terutama saat musim dingin dan musim hujan berlangsung.

Seasonal Affective Disorder dapat disebabkan oleh tiga faktor, yakni genetik, psikologi, dan lingkungan.

Ketika musim dingin, paparan sinar matahari menjadi berkurang. Akibatnya, waktu malam terasa lebih lama, dan waktu siang terasa lebih pendek. Hal ini mempengaruhi ritme sirkadian (ritme yang mengatur hormon manusia), yang berujung pada jumlah hormon serotonin dan melatonin.

Kedua hormon tersebut mengatur suasana hati dan pola tidur manusia. Jika jumlahnya tidak seimbang, maka tubuh akan merasa tidak nyaman dan timbul rasa sakit, seperti pusing dan mual karena gangguan tidur.

Gejala SAD umumnya sama dengan gejala depresi, seperti kehilangan nafsu makan, kurang konsentrasi, sedih berkepanjangan, hingga merasa tidak berharga. Jika mengalami gejala seperti itu, cobalah berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Jangan mengabaikan gangguan kesehatan mental, apalagi mendiagnosis sendiri hingga sembarangan minum obat. (kal)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily