Rabu, Oktober 20, 2021
BerandaCultureUsir ‘Pageblug’ Corona Ala Seniman Kampung Celaket di Saat Matahari ‘Pethak’

Usir ‘Pageblug’ Corona Ala Seniman Kampung Celaket di Saat Matahari ‘Pethak’

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – MALANG – Sutarman dan Nanang, Jumat 30 Juli 2021, sibuk di sanggar Kampoeng Celaket, dibantu beberapa seniman lain menyiapkan prosesi ‘tolak bala’ pageblug corona yang tengah menghantam negeri ini, sejak matahari sepenggalah.

Sementara Sodikin, sesepuh warga, berlari kecil sembari menutupi kepalanya dengan payung kecil yang sudah robek separo agar terhindar dari gerimis yang mengguyur wilayah Malang.

Tak banyak yang bercerita, semua khusuk menyiapkan ‘ugo rampe’ (persyaratan kenduri red.) yang akan digelar esok harinya. Kesadaran para seniman kampung Celaket ini timbul dikarenakan masih banyaknya masyarakat yang mempertanyakan dan tak patuh anjuran pemerintah tentang corona.

BACA JUGA: Seniman Celaket Usir Corona, Tumbuhkan Kesadaran Warga

“Saya berharap syiar 1 M ini bisa menjadi oase kecil ditengah jagat nusantara yang dipenuhi dengan perdebatan ada dan tidaknya corona, serta penting dan tidaknya pakai masker,” kata Mbah Yongki, seniman tari jailangkung yang kini sibuk sebagai pengajar di Dewan Kesenian Malang (DKM).

1 M yang dimaksud oleh Mbah Yongki adalah ‘Manuto’, patuh saja terhadap apa yang diperintahkan pemerintah, karena Mbah Yongki yakin, tak ada satupun pemerintahan didunia ini yang tega menjerumuskan warganya.

Yongki juga mencontohkan perihal ‘pageblug’ jaman Nabi Muhammad. Waktu itu kata Yongki, disebuah wilayah terjadi penyakit menular.

“Perintah Kanjeng Nabi sangat jelas, isolasi mandiri bagi penderita dan lockdown bagi wilayahnya, dan penyakitpun sirna lewat doa dan ikhtiar lainnya. Artinya apa, 1 M  atau ‘manuto’ taat pada anjuran pemerintah, menjadi kata kunci terusirnya ‘pageblug’ berupa penyakit kusta,” kata Yongki membuat tamsil.

BACA JUGA: Minggu Pagi di Kampung Celaket saat PPKM Darurat

Sementara Supraoen, seniman jaran kepang asal Lawang menyoroti fenomena ‘Serngenge Pethak’ matahari memutih di bumi Indonesia. Dijelaskan ketika ‘serngenge pethak’ tak sembarang muncul, biasanya kemunculan peristiwa alam itu sebagai pertanda ketidak seimbangan antara jagat kosmos dan kosmis.

“Ketidak seimbangan jagat besar dan jagat kecil itu yang biasanya melahirkan beragam peristiwa bagi penghuninya, bisa penyakit dan semacamnya,” kata Supraoen.

Oleh sebab itu dibutuhkan ‘suguh’ pada yang ‘Moho Sugih’ yaitu Sang Pencipta agar peristiwa alam ini tak sampai menjadikan alam dan isinya terutama manusia menderita.

“Ini fungsi dari prosesi ‘suguh marang gusti’ yang tengah dilaksanakan di Kampung Celaket Sabtu 31 Juli, (kemarin red.) kata Supraoen ditemui di tempat acara. (Prosesi acara dapat dilihat di Youtube Nusadaily, red.)

Usai memanjatkan doa bersama yang ditingkah oleh semburat kepul garam dalam tungku perapian, para seniman ini menggotong peti mati keliling kampung sembari membagikan masker.

Fenomena Matahari Memutih Versi LAPAN

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan fenomena surya “pethak” atau Matahari tampak memutih berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Fenomena surya pethak adalah saat matahari merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenam.

“Setiap wilayah di seluruh indonesia berpotensi mengalami surya ‘pethak’,” kata peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lapan Andi Pangerang mengutip Antara, Minggu (1/1).

BACA JUGA: Tren Warna Batik Tulis Celaket di Tahun 2021, Lebih Mengedepankan Warna Harapan

Menurut dia, jika dikaitkan dengan musim, surya pethak umumnya hanya terjadi di musim-musim penghujan, yang saat itu penguapan air cenderung tinggi sehingga kabut awan lebih mudah terbentuk.

“Surya pethak hanya bisa terjadi jika kualitas udara di lokasi pengamatan kurang baik, dan dari sisi meteorologis, lokasi tersebut tertutup kabut awan, sehingga penghamburan (scattering) tidak sekuat ketika langit bersih dan cerah,” katanya.

Penyebab Surya Pethak

Penyebab munculnya surya pethak karena letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang dapat memengaruhi penguapan dan pembentukan awan.

Secara harfiah, katanya, surya “pethak” bermakna matahari tampak memutih. Surya “pethak” dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari yang dimaksud di sini adalah dihitung sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

BACA JUGA: Pesona Rampal Celaket, Kenalkan Budaya dan Ekonomi Kreatif Lokal

Menurut dia sinar matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika matahari meninggi, sinar matahari tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan.

Kejadian tersebut dapat berlangsung selama tujuh hingga empat puluh hari paling lama.

Efek dari surya pethak dapat membuat suhu permukaan Bumi menjadi lebih dingin, sehingga tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan optimal dan manusia akan mudah menggigil.(A.Hanan Jalil)


- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

@nusadaily.com

Akhir-akhir ini Kota Malang panas banget nih, ngadem dulu yuk🍦🍦 ##tiktoktaiment

♬ Happy Ukulele - VensAdamsAudio

LIFESTYLE

Perubahan Gaya Hidup saat Pandemi Pengaruhi Risiko Osteoporosis

0
NUSADAILY.COM - JAKARTA - Perubahan gaya hidup saat pandemi COVID-19 turut mempengaruhi risiko osteoporosis. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) dr....