Supriyadi Pahlawan Nasional yang Hilang Misterius, Sampai Sekarang Belum Diketahui Kuburnya

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – Tanggal 6 Oktober 1945, pemerintah Indonesia yang baru didirikan menyatakan Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Namun, pria yang memiliki nama panjang Fransiskus Xaverius Suprijadi ini tidak pernah muncul, dan pada tanggal 20 Oktober digantikan oleh menteri ad interim Imam Muhammad Suliyoadikusumo. Hingga kini nasibnya masih misterius.

Sampai detik ini tidak ada yang mengetahui di mana Supriyadi sesungguhnya. Ada yang mengatakan dia masih hidup ada yang mengatakan di sudah dibunuh oleh tentara Jepang karena telah melakukan pemberontakan.Tapi meski keberadaannya misterius, nama Supriyadi tetap harum di hati bangsa Indonesia. Ia secara resmi dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 Agustus 1975 berdasarkan Keputusan Presiden No. 063/TK/1975.

Baca Juga

DiIkutip dari Wikipedia Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancoh Soeprijadi lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923. Dialah pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar untuk memberontkan kepada Jepang pada Februari 1945. Setelah Jepang kalah ia ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidensial, tetapi kemudian digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo pada 20 Oktober 1945 karena Supriyadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Supriyadi wafat, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Supriyadi menamatkan Europeesche Lagere School (setingkat Sekolah Dasar),kemudian melanjutkan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat Sekolah Pertama), dan masuk Sekolah Pamong Praja di Magelang. Namun, Jepang menyerbu Hindia Belanda sebelum ia lulus. Ia kemudian mengikuti pelatihan Seimendoyo di Tangerang, Jawa Barat.

Pada Oktober 1943, Jepang mendirikan milisi PETA untuk membantu tentara Jepang menghadapi Sekutu. Supriyadi bergabung dengan PETA dengan pangkat shodancho atau komandan platon, dan setelah mengikuti pelatihan ditugaskan di Blitar, Jawa Timur. Ia ditugaskan mengawasi pekerja romusha. Penderitaan pekerja-pekerja tersebut mendorongnya untuk memberontak melawan Jepang. (aka)

Post Terkait

banner 468x60