Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaCultureSebelum Ada Idul Fitri, Orang Arab Punya Dua Hari Raya, Nairuz dan...

Sebelum Ada Idul Fitri, Orang Arab Punya Dua Hari Raya, Nairuz dan Mihrojan

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

NUSADAILY.COM – NUSADAILY.COM – Umat Islam sedang bersiap merayakan Hari Raya Idul Fitri di tahun 2020 ini. Sebelum ada Hari Raya Idul Fitri, orang Arab Jahiliyah sebenarnya sudah punya hari raya. Bahkan dua hari raya. Yaitu  Hari Raya Nairuz dan Hari Raya Mihrajan atau Mahrojan.

Di setiap dua hari raya itu, orang Arab Jahiliyah menggelarnya dengan pesta-pora. Mereka memainkan berbagai pertunjukan. Seperti tari tarian perang maupun tari ketangkasan. Mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman yang memabukkan.

Menurut Ensiklopedi Islam Hari Raya  Nairuz dan Hari Raya  Mihrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno.

Melansir situs muslim.or.id, saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di Madinah, orang Madinah mempunyai kebiasaan merayakan hari Nairuz dan Mihrajan. Nairuz adalah hari di awal tahun baru Masehi (syamsiyyah) versi Majusi.

Sedangkan Mihrajan hari raya 6 bulan setelahnya. Mendapati fenomena ini saat di Madinah, Nabi Muhammad mengingatkan bahwa umat Islam sudah mempunyai dua hari raya yaitu Idul Fithri dan Idul Adha, tidak perlu ikut-ikutan merayakan hari raya tersebut.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda:

Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Sahabat Abdullaah bin Amr  berkata:

“Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam (negeri kafir), meramaikan hari raya Nairuz dan Mihrajan (perayaan tahun baru mereka), serta meniru niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Hari Nairuz adalah hari raya tahun baru orang Majusi menurut perhitungan kalender Masehi (pergiliran matahari). Masyarakat Kota Madinah saat itu ikut-ikutan merayakan hari raya Majusi tersebut. Beberapa kamus Arab menjelaskan demikian definisi Nairuz, semisal kamus AL-Lughah Al-Arabiyyah AL-Mu’aashir dijelaskan,

 “Nairuz adalah hari pertama pada tahun syamsiyyah versi Persia (bangsa Majusi saat itu).”

Adz-Dzahabi juga menjelaskan bahwa Nairuz ini juga ikut-ikutan dilakukan oleh penduduk Mesir saat itu, beliau berkata,

 “Adapun hari Nairuz, penduduk Mesir berlebih-lebihan melakukan dan merayakannya. Nairuz adalah hari pertama pada tahun Qibhti yang mereka menjadikannya sebagai hari raya (diperingati setiap tahun), kemudian kaum muslimin mengikuti mereka (tasyabbuh).”

Demikian juga dengan tahun baru Masehi saat ini, bukan perayaan kaum Muslimin dan jelas itu adalah perayaan non-muslim serta memiliki sejarah yang terkait dengan agama kuno Romawi.

Sebagaimana dalam buku “The World Book Encyclopedia”  dijelaskan: “Semenjak abad ke 46 SM Jaja Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun. Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada Janus, dewa segala gerbang pintu-pintu dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri,yaitu dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”.(aka)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Usung Pembelajaran Bahasa, Sosial dan Budaya dalam MBKM, UM Gelar Seminar Nasional

NUSADAILY.COM – MALANG – Dalam rangka menyukseskan gerakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) khususnya bidang pembelajaran bahasa, sastra dan budaya. Departemen Sastra Jerman Universitas...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM – NUSADAILY.COM – Umat Islam sedang bersiap merayakan Hari Raya Idul Fitri di tahun 2020 ini. Sebelum ada Hari Raya Idul Fitri, orang Arab Jahiliyah sebenarnya sudah punya hari raya. Bahkan dua hari raya. Yaitu  Hari Raya Nairuz dan Hari Raya Mihrajan atau Mahrojan.

Di setiap dua hari raya itu, orang Arab Jahiliyah menggelarnya dengan pesta-pora. Mereka memainkan berbagai pertunjukan. Seperti tari tarian perang maupun tari ketangkasan. Mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman yang memabukkan.

Menurut Ensiklopedi Islam Hari Raya  Nairuz dan Hari Raya  Mihrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno.

Melansir situs muslim.or.id, saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di Madinah, orang Madinah mempunyai kebiasaan merayakan hari Nairuz dan Mihrajan. Nairuz adalah hari di awal tahun baru Masehi (syamsiyyah) versi Majusi.

Sedangkan Mihrajan hari raya 6 bulan setelahnya. Mendapati fenomena ini saat di Madinah, Nabi Muhammad mengingatkan bahwa umat Islam sudah mempunyai dua hari raya yaitu Idul Fithri dan Idul Adha, tidak perlu ikut-ikutan merayakan hari raya tersebut.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda:

Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Sahabat Abdullaah bin Amr  berkata:

“Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam (negeri kafir), meramaikan hari raya Nairuz dan Mihrajan (perayaan tahun baru mereka), serta meniru niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Hari Nairuz adalah hari raya tahun baru orang Majusi menurut perhitungan kalender Masehi (pergiliran matahari). Masyarakat Kota Madinah saat itu ikut-ikutan merayakan hari raya Majusi tersebut. Beberapa kamus Arab menjelaskan demikian definisi Nairuz, semisal kamus AL-Lughah Al-Arabiyyah AL-Mu’aashir dijelaskan,

 “Nairuz adalah hari pertama pada tahun syamsiyyah versi Persia (bangsa Majusi saat itu).”

Adz-Dzahabi juga menjelaskan bahwa Nairuz ini juga ikut-ikutan dilakukan oleh penduduk Mesir saat itu, beliau berkata,

 “Adapun hari Nairuz, penduduk Mesir berlebih-lebihan melakukan dan merayakannya. Nairuz adalah hari pertama pada tahun Qibhti yang mereka menjadikannya sebagai hari raya (diperingati setiap tahun), kemudian kaum muslimin mengikuti mereka (tasyabbuh).”

Demikian juga dengan tahun baru Masehi saat ini, bukan perayaan kaum Muslimin dan jelas itu adalah perayaan non-muslim serta memiliki sejarah yang terkait dengan agama kuno Romawi.

Sebagaimana dalam buku “The World Book Encyclopedia”  dijelaskan: “Semenjak abad ke 46 SM Jaja Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun. Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada Janus, dewa segala gerbang pintu-pintu dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri,yaitu dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”.(aka)