Rahasia Ilmu Morfologi Jawa Kuno di Relief Candi Borobudur

  • Whatsapp
Rahasia ilmu morfologi Jawa kuno
RELIEF TUMBUHAN: Tangkapan layar gambar tumbuhan di relief Borobudur dalam publikasi The identification of plant reliefs in the Lalitavistara story of Borobudur Temple, Central Java, Indonesia dari peneliti-peneliti LIPI dan pengkaji Balai Konservasi Borobudur. (ANTARA/Virna P Setyorini).
banner 468x60

NUSADAILY.COM-JAKARTA- Rahasia ilmu morfologi Jawa Kuno terpahat di relief Candi Borobudur Jawa Tengah. Pahatan detail morfologi itu menunjukkan keilmuan masyarakat Jawa kuno. Mereka paham akan pentingnya kekayaan jenis tumbuhan di lingkungannya.

Peneliti Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI Destario Metusala menjelaskan hal itu. Ia memberi pencerahan dalam diskusi daring Seperti Apa Flora yang Tumbuh di Masa Nenek Moyang? Belajar dari Relief Borobudur di Jakarta, Jumat (8/5/2020).

Baca Juga

Ia mengatakan dalam penelitian bersama dengan pengkaji Balai Konservasi Borobudur, tim menemukan 14 spesies tumbuhan. Yang juga ditemukan dalam kisah Lalitavistara Sutra dari India, ternyata juga ada di relief candi abad 8 masehi tersebut.

Ia mengatakan ditemukan juga tumbuhan asli Indonesia maupun tumbuhan alami yang tumbuh di wilayah tropis dataran rendah. Berperan sebagai latar kisah dalam relief Borobudur yang mereka teliti. Rahasia ilmu morfologi Jawa Kuno terlihat di Candi Borobudur.

Pahatan tumbuhan latar dalam relief yang menurutnya, jika memang tidak perlu mengikuti pakem. Bahwa itu merupakan tumbuhan yang benar-benar harus ada dalam kisah, seharusnya pemahat fleksibel menggambarkannya.

Seperti halnya tumbuhan yang dipahat di candi abad 12 masehi Angkor Wat, Kamboja, yang terlihat lebih homogen, sehingga secara teknis tidak rumit membuatnya.

Candi Borobudur Memuat Kisah Lalitavistara

Namun, dari penelitian terhadap 120 panil kisah Lalitavistara dalam relief Borobudur tersebut. Terlihat bentuk tumbuhan dalam relief tidak monoton tetapi beragam, dibentuk berkesesuaian. Misalnya daun sukun dipasangkan benar dengan buah sukun.

Artinya, menurut dia, pemahat butuh keahlian khusus. Pemahat saat itu sadar dengan kondisi sekitarnya.

“Mereka paham morfologi tumbuhan dan kekayaan hayati penting, sehingga rela membuat keribetan luar biasa saat memahatnya. Mereka tetap ingin ada keragaman tumbuhan itu,” ujarnya dikutip nusadaily.com.

Arkeolog Balai Konservasi Borobudur Jati Kurniawan mengatakan, relief dibuat sebagai hiasan dalam arsitektur dapat dibuat di punden berundak atau bisa juga di pintu gerbang. Sehingga relief menjadi penambah estetika dan terkadang memiliki nilai religius atau nilai keagamaan tertentu. Seperti teratai, kala, kalpataru.

Menurut dia dilansir induk imperiumdaily.com ini, pemahatnya tidak bisa menggambarkan flora dengan benar. Jika belum melihat secara langsung tumbuhan yang akan dipahat di relief.

Sementara itu, kekayaan jenis tumbuhan di masa Jawa kuno sangat beragam. Sehingga jika pemahat dibebaskan untuk berkarya. Namun penggambarannya bahkan untuk latar relief saja sangat detil dan tidak asal. Maka orang tersebut tentu paham betul tentang jenis-jenis tumbuhan tersebut.(cak)

Post Terkait

banner 468x60