Penambang Belerang di Kawah Ijen ‘Sang Pejuang Kemerdekaan Hari Ini’

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Tak terasa, kemerdekaan Republik Indonesia sudah mencapai usia yang ke-75. Momen sakral inipun disambut suka cita oleh ratusan juta rakyat Indonesia di seluruh penjuru Nusantara, sebagai rasa syukur atas kemerdekaan yang diperoleh melalui pengorbanan jiwa raga dan darah pejuang bangsa.

"
"

Baca Juga

"
"

Tepat di hari kemerdekaan, rakyat Indonesia melaksanakan ritual penghormatan kepada leluhur bangsa dengan melaksanakan upacara bendera. Maupun uforia lainnya, seperti mengabadikan momen kemerdekaan di tempat-tempat eksotis. Seperti Kawah Ijen yang terkenal dengan blue fire-nya.

Bolehlah meluapkan rasa kegembiraan dengan berbagai uforia atas kemerdekaan negeri tercinta ini. Namun jangan sampai terlalu larut, hingga melupakan esensi dari sebuah kemerdekaan itu sendiri. Menghayati nilai kemerdekaan, tidak hanya sebatas dengan melakukan ritual ceremony. Namun yang lebih penting dari itu, ialah bagaimana mewujudkan cita-cita luhur pejuang bangsa yang mendambakan anak cucunya bebas dari belenggu kemiskinan dan penindasan.

Di usia yang cukup tua, sang Ibu Pertiwi ternyata belum benar-benar merdeka. Masih banyak rakyat Indonesia yang masih berjuang untuk memperoleh kemerdekaannya karena terjerembab jurang kemiskinan. Baik kemiskinan ‘warisan’ maupun kemiskinan terstruktur akibat tingkah birokrat dan korporat yang tak pro rakyat kecil.Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin jatuh miskin.

Contoh nyata dari ketimpangan sosial tersebut tercermin dalam sosiol-ekonomi masyarakat lereng Gunung Ijen. Di balik keagungan Kawah Ijen yang keindahannya terkenal hingga mancanegara, terdapat sekelompok orang yang hidup dalam zona kemiskinan. Kemiskinan yang tergolong akut, hingga membuat mereka harus mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi.

Ya. Mereka adalah kuli angkut tambang belerang. Yang menggantungkan hidupnya dari Kawah Ijen. Medan yang berat serta kepulan asap beracun tak menjadi arang, demi mendapat bongkahan belerang yang menjadi ‘harta’ satu-satunya untuk kelangsungan hidup anak isteri.

Potret Penambang Belerang, Pertaruhkan Nyawa Demi Sesuap Nasi

Selepas salat subuh, sesosok kakek tua tengah menyibukkan diri. Wajahnya nampak lebih tua dibandingkan usianya, sebagai pertanda betapa keras kehidupan yang harus dia jalani. Tanpa banyak bicara, dia kenakan setelan baju ‘dinas’ lusuh, lengkap dengan sepatu boot tua yang mulai termakan usia. Motor usang yang tidak kalah tua mulai dipanaskan. Dia pun bersiap mengais rezeki untuk mencari sesuap nasi, demi keluarga yang dikasihi.

Sahnawi namanya. Kakek berusia 58 tahun ini sudah menghabiskan sebagian umurnya untuk mengabdi di penambangan belerang. 28 tahun lamanya dia dedikasikan, bergelut mempertaruhkan nyawa menjadi kuli angkut tambang belerang Kawah Ijen. Hingga di usianya yang menginjak kepala enam, Sahnawi tak bisa bersantai dan tetap setia menjadi penambang belerang karena keadaan.

Berbekal sekantong ‘kresek’ nasi dan lauk pauk seadanya yang dihidangkan dengan cinta oleh sang isteri, Sahnawi menembus dinginnya embun subuh, melewati rimbunnya pepohonan hutan. Rasa dingin terasa menusuk daging. Namun baginya, tak ada satupun rintangan bisa menghadangnya ketika terbayang di rumah sudah ada yang menanti sedikit rupiah hasil keringatnya. “Demi anak siteri. Pekerjaan apapun akan saya lakukan. Meski berat tidak masalah. Yang terpenting halal, bukan dapat mencuri,” kata Sahnawi dengan berbahasa Using.

Aktifitas penambangan belerang di Kawah Ijen bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk mencapai lokasi penambangan, mereka terlebih dahulu melakukan pendakian menuju puncak Gunung Ijen dari Pos Paltuding sejauh 3 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam.

Pendakian Terasa Makin Berat karena Menarik Troli

Pendakian terasa semakin berat karena penambang harus menarik troli yang digunakan untuk mengangkut belerang. Sesampainya di puncak, penambang melanjutkan perjalanan menuju dasar kawah dengan menuruni tebing terjal dengan kemiringan mencapai 60 derajat. Kali ini, penambang harus membawa keranjang karena medan menuju dasar kawah tidak bisa dilewati troli.

Tak cukup sampai di situ, sesampainya di dasar kawah para penambang langsung disambut kepulan asap pekat dengan suhu panas yang berasal dari ‘pawon’ atau dapur sublimasi tempat produksi belerang. Asap tersebut memiliki bau yang menyengat dan tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Meski berbahaya, tanpa rasa takut para penambang menerobos kepulan asap dengan hanya bermodalkan kain penutup hidung ala kadarnya untuk mencegah gas beracun masuk ke tubuhnya.

“Biasanya kita hanya pakai kain yang direndam air untuk menutup hidung. Kain itu kita gigit dan bernafas lewat mulut,” kata Sahnawi.

Aktifitas penambangan belerang pun dimulai. Dengan menggunakan alat tradisional seperti cangkul dan linggis, para penambang membongkar gunungan belerang di dapur sublimasi menjadi bongkahan-bongkahan sebesar batu pondasi. Bongkahan belerang tersebut dipikul menggunakan keranjang dari dasar kawah menuju puncak Gunung Ijen. Beban yang diangkat pun bervariasi. Beratnya tidak main-main. Mulai dari 50 kilogram hingga 1 kuintal lebih. Beban tersebut jauh melebihi berat badan penambang itu sendiri.

“Kalau saya mampunya maksimal 60 kilo karena sudah tua. Kalau dulu, masih muda bisa 80 kilo sampai 1 kuintal sekali pikul,” kata Sahnawi yang sudah menekuni profesi penambang belerang sejak tahun 1992 ini.

Perjalanan menuju puncak Ijen dari dasar kawah cukup berbahaya. Dengan memikul bongkahan belerang, penambang harus melewati medan terjal dengan kemiringan 60 derajat. “Alhamdulillah selama ini masih diberi selamat. Ya intinya harus hati-hati, karena memang medannya cukup sulit,” imbuhnya.

Sesampainya di puncak Ijen, bongkahan belerang langsung dipindah ke troli, untuk selanjutnya dibawa turun ke pos penimbangan Paltuding. Sama sulitnya dengan memikul bongkahan belerang dengan keranjang, menuruni gunung Ijen juga memerlukan tenaga ekstra. Selain medan yang menurun, penambang juga harus menahan troli dengan muatan bongkahan belerang. “Kalau sekarang mendingan karena ada troli. Kalau dulu, masih pakai keranjang lumayan berat. Kalau tidak hati-hati ya bisa celaka,” ungkapnya.

Sebelum menggunakan troli, penambang memang harus memikul bongkahan belerang dari dasar kawah Ijen menuju pos penimbangan Paltuding. Barulah pada Tahun 2016, penambang memperoleh bantuan berupa troli untuk memperingan pekerjaannya. “Sekitar 4 tahunan yang lalu kita dapat bantuan troli. Selain memperingan, jumlah belerang yang kita angkut bisa lebih banyak,” katanya.

Dedikasi Sahnawi dan penambang belerang lainnya nampak dari tubuh mereka yang kekar. Bahkan di bagian bahu mereka membentuk ‘punuk’ sebagai pertanda sering memikul beban berat. Namun di balik tubuh kekar tersebut, raga mereka sebenarnya ringkih. Akibat beban yang mereka angkut melebihi batas normal kekuatan manusia, serta asap beracun dari Kawah Ijen yang sudah masuk ke darah dan tubuh mereka.

Upah yang Diterima Penambang Hanya Rp 1.250 Perkilogram Belerang

Beban kerja berat serta resiko tinggi, tak lantas membuat upah yang diterima penambang belerang besar. Dari satu kilogram belerang yang berhasil diangkut, upah yang mereka terima hanya sebesar Rp 1.250. Jika dalam sehari mereka mampu mengangkut 1 kuintal atau 100 kilogram bongkahan belerang, maka upah yang diterima mencapai Rp 125.000. “Kalau dibilang besar juga tidak. Tapi lumayan dibandingkan jadi buruh tani atau kuli bangunan. Upah sebagai penambang belerang lebih besar,” kata Sahnawi.

Namun jika melihat beban kerja dan resiko tinggi yang harus dihadapi, upah yang mereka terima sebenarnya jauh dari kata layak. Belum lagi resiko kesehatan di masa mendatang akibat terlalu banyak menghirup asap racun belerang. Ditambah lagi, penambang tidak bisa setiap hari bisa bekerja. Paling-paling, dalam sepekan mereka hanya mampu bekerja selama 4 hingga 5 hari saja. “Nggak kuat kalau setiap hari. Selain itu juga dari perusahaan diterapkan sip-sipan. Paling dalam seminggu maksimal 5 hari,” ungkapnya.

Sahnawi menyadari, upah yang diterimanya sebagai penambang belerang belum mampu memberikan kesejahteraan bagi keluarganya. Namun dirinya tetap setia menekuni profesinya tersebut, lantaran tidak ada pilihan pekerjaan lain yang bisa ia dilakukan. “Maklum saya dulu tidak sekolah. Jadi bisanya jadi kuli angkut belerang. Cukuplah hasil menambang untuk makan sehari-hari,” imbuhnya.

Dengan beban kerja dan resiko yang harus dihadapi penambang, menurut Sahnawi, upah yang diperoleh semestinya bisa lebih besar lagi. Terlebih, penambang beresiko tinggi menderita penyakit dalam, akibat terlalu sering menghirup asap belerang. “Kita berharap ada kenaikan harga. Setidaknya Rp 2.000 perkilogram. Apalagi, selama ini kenaikan harga tidak terjadi setiap tahun. Kalaupun ada naiknya juga tidak seberapa. Paling hanya sebesar 50 rupiah perkilogramnya,” sebutnya.

Sahnawi mengaku, awal dirinya menjadi penambang belerang pada Tahun 1992 silam, harga belerang yang ditetapkan perusahaan sebesar Rp 100 perkilogram. Artinya, selama 28 tahun ini harga belerang yang dipatok perusahaan hanya mengalami kenaikan sebesar Rp 1.150 saja. “Sempat beberapa waktu lalu harga naik sampai Rp 1.500 perkilogram. Entah kenapa, perusahaan menurunkan kembali harganya menjadi Rp 1.250 perkilonya,” sebut Sahnawi.

Penambang bukannya tidak pernah ‘memberontak’ atas kecilnya upah yang diterima. Beberapa kali, penambang melakukan aksi protes kepada perusahaan menuntut agar kesejahteraannya diperhatikan. Namun, jeritan para penambang selalu saja hanya menjadi angin lalu hingga akhirnya mereka tak mampu berbuat apa-apa lagi. “Kita sudah capek. Toh ujung-ujungnya sama, tidak dihiraukan. Kalaupun ada kenaikan, ya tadi nilainya tidak seberapa,” sesalnya.

Akhirnya, penambang belerang memilih kembali ke dasar kawah, karena di penambangan belerang itulah satu-satunya sumber mata pencaharian mereka. “Kalau terlalu lama mogok kerja, terus mau makan apa anak isteri. Ya kita terima saja dan kembali menambang. Tak ada pilihan lagi,” tukasnya.

Berharap Anak Cucunya Hidup Lebih Baik

Patutlah penambang belerang disebut sebagai salah satu pejuang kemerdekaan di masa kini. Sebab, bagi mereka, kerja keras yang dicurahkan tidak lain untuk kelangsungan masa depan anak cucunya. Sahnawi mengaku tidak masalah dirinya harus membanting tulang hingga mempertaruhkan nyawa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun jangan sampai anak cucunya mengalami nasib yang sama dengannya. “Tidak ada namanya orang tua yang ingin anaknya hidup sengsara. Cukup saya saja yang menghabiskan berpuluh tahun menambang belerang di Kawah Ijen. Anak cucu saya semoga tidak,” tegasnya.

Sedikit demi sedikit, hasil keringat dari memikul belerang dia tabung untuk kebutuhan pendidikan anaknya. Hingga akhirnya, putra Sahnawi dapat mengenyam pendidikan SLTA dan saat ini sudah membangun bahtera rumah tangganya sendiri. “Hasil dari nambang saya sisihkan. Alhamdulillah bisa terkumpul dan bisa buat beli ternak sapi dan kambing. Dari ternak inilah, bisa untuk membiayai anak sekolah. Alhamdulillah saat ini putera saya sudah punya keluarga sendiri,” ujarnya.

Meski belum mapan, setidaknya putera Sahnawi memiliki pekerjaan yang lebih layak dibanding dirinya. “Alhamdulillah tidak mengikuti jejak saya nambang belerang. Dia bekerja di Bali membuka usaha, meski kecil-kecilan. Cuma sekarang ada di rumah, karena memang pekerjaan lagi sepi akibat Corona,” sebutnya.

Penyebaran Covid Memberi Hikmah

Baginya, penyebaran COVID-19 memberikan hikmah tersendiri. Meski membuat perekonomian lesu, setidaknya dalam beberapa bulan ini Sahnawi bisa hidup berkumpul bersama anak cucunya. Kehadiran sang cucu menjadi kebahagiaan tersendiri dan menjadi obat penawar lelah usai dirinya menambang belerang. “Rasa lelah hilang terobati dengan melihat senyuman cucu-cucu saya. Semoga mereka kelak memperoleh hidup yang lebih layak. Berbakti kepada orang tua, patuh terhadap ajaran agama dan membanggakan nusa dan bangsa,” doanya.

Potret kehidupan masyarakat penambang belerang ini, hanyalah secuil contoh bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya memperoleh kemerdekaan. Masih banyak masyarakat yang terbelenggu garis kemiskinan. Baik dikarenakan nasib yang kurang beruntung maupun akibat kebijakan pemerintah serta kelakuan korporat yang tidak peduli terhadap nasib rakyat kecil.

Tentu untuk mewujudkan kemerdekaan yang hakiki, semua pihak (pemerintah, korporat, dan juga elemen masyarakat) harus dapat bersinergi dengan baik. Memikirkan nasib rakyat kecil. Sehingga kesenjangan sosial bisa terurai dan bangsa Indonesia hidup dalam kesejahteraan sebagaimana cita-cita luhur pahlawan bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Jayalah Indonesiaku, Jayalah Negeriku, Indonesia Merdeka. (ozi/aka)

Post Terkait

banner 468x60