Pasar Barang Antik Bikin Kota Batu Jadi Mentereng

  • Whatsapp
Beragam barang antik dipamerkan di halaman kantor Among Tani Foundation yang menggagas pameran barang antik bertajuk 'Batu Vintage'.
banner 468x60

NUSADAILY.COM -KOTA BATU- Pasar wisata khusus barang antik sangat pas dihadirkan di Kota Batu yang lekat dengan predikat kota wisata. Hadirnya pasar barang antik juga menjadi cita-cita mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko.

Hal itu disampaikan pendiri Indonesian Heritage, Reno Halsamer saat menjadi pembicara dalam sarasehan bertajuk ‘Mewujudkan Usaha Kolektor di Kota Batu’ (Senin, 28/12). Kegiatan ini merupakan bagian dari pameran Batu Vintage yang digelar Among Tani Foundation (ATF).

Hadirnya pasar barang antik ini sangat dibutuhkan, selain tempat untuk melepas penat, namun juga bisa menjadi wadah berkumpulnya kolektor.

“Sudah seharusnya Kota Batu memiliki wadah untuk komunitas kolektor berkumpul. Hal itu sangat wajib dimiliki oleh Kota Batu sebagai kota wisata” kata Reno.

Kota yang Memikat karena Barang Antik

Ia mencontoh beberapa negara maupun sejumlah daerah di Indonesia yang berhasil memikat pengunjung lewat hadirnya pasar barang antik. Ia menyebut beberapa daerah seperti Solo maupun Yogyakarta yang menjadi lebih mentereng karena keberadaan pasar barang antik.

“Kota Batu yang notabene kota wisata sangat pas sekali sebetulnya memiliki pasar barang antik. Ini akan menjadi destinasi wisata baru,” kata dia.

Meskipun disebut dengan istilah pasar, bukan berarti setiap pengunjung yang datang ingin berburu barang antik. Pengunjung bisa saja datang dan hanya sekedar melihat-lihat barang-barang yang unik. Sehingga muncul perasaan senang. Di titik inilah sarana rekreatif bisa ditemukan.

“Rekreasi itu membangkitkan perasaan senang, gembira. Barangkali dengan melihat barang antik kita ingin bernostalgia dengan pengalaman masa lalu,” imbuh Reno.

Reno berpesan kepada kolektor untuk mengoleksi benda-benda antik yang tak memiliki nilai historis. Karena benda-benda purbakala macam itu dilindungi dengan Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Mengoleksi benda semacam itu tentu memiliki konsekuensi lebih berat.

Ia menyarankan, lebih baik mengoleksi benda-benda etnografis yang tumbuh pada tradisi masa lampau. Seperti lumpang, lampu, maupun benda-benda lainnya yang tak termasuk benda purbakal. Benda-benda vintage itu banyak menjadi buruan seiring dengan selera masyarakat dalam mendesain interior ruangan yang menonjolkan kesan klasik.

“Lebih baik menjual barang yang vintage-vintage saja. Jadi tidak memperjual belikan benda-benda cagar budaya. Seperti misalnya benda-benda patung candi, arca atau benda bernilai sejarah lainnya,” imbaunya.

Selain berbahaya karena konsekuensi hukum, menjual benda purbakala seperti itu peminatnya juga sangat sedikit. Belum lagi yang bisa memastikan apa benda purbakala itu asli atau tidak

“Tapi kalau barang-barang vintage. Seperti mebel, kayu, lampu, telpon bekas dan semacamnya. Saat ini sedang digandrungi oleh banyak orang. Sehingga peluang bisnisnya sangat besar,” ungkap Reno.

Karena menurutnya, saat ini orang-orang itu tak hanya menjadi kolektor saja. Namun juga sebagai interior untuk menghiasi kediamannya. Untuk semakin menambah daya tarik.

“Tak hanya dirumah. Bahkan di hotel-hotel ataupun restoran. Saat ini sudah banyak yang menggunakan interior dengan menampilkan barang-barang vintage,” kata dia.

Banyak yang Berburu Barang Antik

Tingginya masyarakat memburu barang antik, direspon oleh industri yang mereproduksi bentuk barang berlanggam lawas. Meski bentuk modelnya bergaya klasik, namun produksinya keluaran terbaru.

Dari sinilah, Reno meminta agar para penjual untuk menjaga nilai kejujuran ketika menjelaskan suatu produk kepada pembeli. Serta harus ada edukasi sebagai saluran antara pedagang dan pembeli.

Karena dengan kejujuran itu pembeli akan semakin percaya bahwa di Kota Batu punya pasar antikan yang pedagangnya jujur-jujur. Menurutnya, berjualan barang seperti itu asal muasalnya dari mulut ke mulut. Sehingga jika si Kota Batu memiliki kejujuran maka sudah pasti akan dilirik peminat barang antik.

“Kalau barang itu asli maka ya dikatakan asli dan dijelaskan asal muasalnya. Namun jika barang itu repro maka juga harus dikatakan semestinya,” paparnya.

Bisa Disebut Antik Kalau Sudah 50 Tahun

Sementara itu, Arkeolog gaek Dwi Cahyono menjelaskan, bahwasanya barang antik itu bisa didefinisikan antik ketika sudah berusia lebih dari 50 tahun. Atau memiliki nilai sebuah nilai ang terkandung dalam barang tersebut.

“Salah satunya nilai kelangkaan, keunikan, kebudayaan dan informasi yang terkandung. Serta salah satu yang tak kalah penting adalah riwayatnya,” jelas Dwi.

Tak hanya itu, nilai dibaliknya juga merupakan poin penting agar barang itu bisa dikatakan antik. Namun tak kalah pentingnya, sebuah narasi yang elaboratif sangat diperlukan untuk mendeskripsikan suatu barang antik.

“Barang antik ini juga bisa dikatakan sebagai heritage. Jangan salah bahwa heritage saat ini oleh PPPI telah diartikan sebagai pusaka,” katanya.

Dwi menjelaskan, ada tiga macam pusaka, yakni pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana. Di sini Kota Batu mempunyai ketiganya yang harus dilestarikan dan dimanfaatkan.

Namun, ia menilai bahwa Pemkot Batu terlalu tertumpu pada pembangunan wisata artifisial atau buatan. Sehingga pusaka yang dimiliki Kota Batu tidak terlalu diperhatikan. Hal itu terbukti bahwa di Kota Batu tidak memiliki perda cagar budaya maupun tenaga ahli cagar budaya (TACB).

“Hal ini membuat pelestarian yakni konservasi dan preservasi serta pemanfaatan pusaka di Kota Batu sulit dilakukan. Karena tidak ada regulasi yang mengatur serta tidak ada aturan yang mengikat,” ujar Dwi.(wok/aka)

Post Terkait

banner 468x60