Muda Mudi Bali Punya Tradisi Ciuman Masal, Begini Awal Mula Ceritanya

  • Whatsapp
Kemeriahan tradisi Omed Omedan (Foto: travelingyuk.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BALI- Di Bali ada tradisi unik yang sangat digemari oleh ara jomblowan dan jomblowati. Tradisi itu namanya Omed Omedan, yaitu tradisi berciuman antara pemuda dan pemudi setelah Hari Raya Nyepi. Karena cukup unik, tradisi yang sudah turun temurun ini juga menarik wisatawan mancanegara.

Omed-omedan (tarik menarik) adalah tradisi turun temurun yang telah dilakukan oleh kelompok warga (Banjar) Kaja, Desa Adat Sesetan, Denpasar Selatan, Bali. Saat ini, tradisi yang konon telah ada sejak abad ke-17 diartikan sebagai tradisi ciuman masal antara pemuda dan pemudi yang dilakukan setelah Hari Raya Nyepi.

Baca Juga

Lalu bagaimana sejarah ciuman masal itu lahir? Konon tradisi ini berawal dari kisah di kerajaan kecil di daerah Denpasar Selatan. Suatu hari, sang raja yang sedang sakit merasa terganggu oleh suara gaduh yang bersumber dari permainan anak laki-laki dan perempuan yang sedang bermain dan saling tarik.

Berang dengan suara bising, sang raja pun keluar dengan maksud menghentikan keributan tersebut. Tapi yang terjadi justru di luar dugaan. Alih-alih mengeluarkan amarah, sang raja justru tiba-tiba merasa sehat dan sembuh total. Karena itulah, sang saja menyerukan supaya kegiatan tarik  menarik atau omed-omedan digelar setiap tahun setelah Nyepi, yaitu pada hari Ngambek Geni.

Dalam tradisi ini, muda-mudi dipisah dua kelompok, yakni kelompok laki-laki (teruna) dan perempuan (teruni). Sebelum melakukan ritual, semua peserta wajib mengikuti upacara atau sembahyang bersama di Pura Banjar, di mana mereka akan dipercikkan air suci.  Dalam sembahyang ini juga dipertunjukkan tarian ritual untuk keselamatan, agar pelaksanaan acara ini senantiasa lancar.

Kedua kelompok ini kemudian baris berhadapan dengan dipandu pecalang. Kemudian dipilih seorang dari masing-masing kelompok untuk diangkat dan diarak. Kedua muda-mudi yang berada di posisi terdepan harus saling berpelukan dan berciuman. Ciuman ini akan berhenti setelah tetua adat membunyikan peluit atau menyiramkan air kepada peserta.

Namun, tradisi omed-omedan ini kabarnya pernah dihentikan karena dianggap tidak sesuai dengan adat ketimuran. Tapi karena dianggap sakral, muncul kekhawatiran akan terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa warga jika tradisi ini tidak diteruskan. Peserta acara Omed-omedan adalah mereka yang berusia 17 – 30 tahun, atau yang sudah dewasa namun belum menikah.

Omed-omedan ini berlangsung sekitar 2 jam atau hingga seluruh peserta mendapat kesempatan untuk melakukan Omed-omedan. Tak hanya peserta yang menikmati keseruan ini, rupanya penonton juga ikut berpartisipasi memeriahkan acara. Setiap penggelaran Omed omedan, banyak penonton yang saling berdesakan menyaksikan tradisi unik ini juga tak luput dari siraman air yang dilakukan panitia acara. Memang, panitia juga menyiram penonton yang dianggap mengganggu ketertiban jalannya acara, meski hal tersebut tidak dianggap sebagai masalah karena acara berlangsung sangat meriah.

Omed-omedan juga dianggap sebagai wujud silaturahmi sesama warga, ajang menjaga keharmonisan dan solidaritas masyarakat. Karena kesibukan warga bekerja dan sekolah setiap hari, maka waktu untuk bertemu dengan warga sekitar terbatas. Melalui kesempatan inilah mereka bisa menjaga keakraban antar warga.

Meski  kontroversi, Omed-omedan tetap dijalankan hingga sekarang. Bahkan tradisi ini sukses menarik minat wisatawan lebih banyak setiap tahunnya.(aka)