Misteri Gunung Merapi, Mak Lampir, Pasar Bubrah dan Mbah Marijan (2)

  • Whatsapp
Gunung Merapi yang penuh misteri.
banner 468x60


NUSADAILY.COM – YOGYAKARTA – Nama Mak Lampir sangat terkenal di awal tahun 1990 an. Lalu di tahun 2000 an nama tokoh Mbah Marijan juga menghiasi pemberitaan. Bedanya jika Mak Lampir adalah tokoh gaib yang jahat, Mbah Marijan adalah tokoh nyata yang baik hati. Dua duanya dikaitkan dengan Gunung Merapi.

Dikutip dari cahyogya.com, suatu ketika Mbah Marijan mengatakan, di Gunung Merapi selain terdapat sebuah kerajaan ghaib, keangkeran lainnya adalah pasar dedemit yang bernama Pasar Bubrah. Tempat ini merupakan pasarnya para makhluk halus. Yang dapat dilihat pada setiap malam Jumat. Pada saat itu, jangan heran bila akan terdengar keramaian layaknya sebuah pasar malam di puncak gunung ini.

Baca Juga

Ada kisah dari seorang pendaki. Awalnya seorang pendaki dan dua orang temannya tidak begitu yakin tentang semua yang dikatakan oleh Mbah Marijan. Tapi, ketika mereka bertiga mendapat izin dari Mbah Marijan untuk mendaki puncak Garuda, merekapun merasakan dan mengakui kebenaran kisah itu yang membuat kami gemetar ketakutan. Kebenaran kisah itu terbukti saat mereka melakukan pendakian melalui jalur Kaliurang yang terdapat di Desa Kinahrejo. Mereka ditemani Mas Budi, anak angkat Mbah Marijan.

Medan berbatu yang terjal dan juga sangat rapuh harus dilalui sehari penuh. Rasa penat bertambah lagi ketika harus melintasi kawah mati. Karena uap belerang membuat napas semakin sesak. Sesampai di Pasar Bubrah, mereka sepakat berkemah dan bermalam di sana, untuk merasakan keanehan yang kerap dibicarakan orang itu. Bukannya sombong, tapi sekadar membuktikan bahwa semua itu adalah sebuah kebenaran dan bukan mitos. Selain itu, tempat ini merupakan lokasi ideal berkemah karena letaknya sudah mendekati puncak.

Sering Terdengar Suara Gamelan dan Keramaian Seperti Pasar

Tak lama, ketika mata mereka mulai terpejam karena rasa penat setelah seharian berjalan, kisah pasar setan yang diceritakan oleh Mbah Marijan menunjukan kebenaran. Suara-suara gamelan dan gending Jawa mulai mengalun di telinga mereka. Keramaian sebuah pasarpun menyusul. bersamaan dengan itu deru angin semakin besar dan menambah gaduh suasana.

Seperti terhenyak dari mimpi buruk, mereka langsung terjaga dengan wajah pucat dan keringat dingin. Tanpa sepatah kata, mata para pendaki itu saling memandang dan berusaha menjawab pertanyaan yang ada dalam hati masing-masing. Sebuah pertanyaan yang baru akan terjawab bila mentari telah menampakkan dirinya. Dalam keadaan demikian, teringatlah semua dosa yang pernah dilakukan. Doa dan harapan kepada Tuhan terus terucap dari bibir kami dengan terpatah-patah.

“Semoga Allah masih mengijinkan untuk menebus kesalahanku. Dan tidak membiarkan para dedemit itu membawa kami ke alam ghaib,” ujar saya. Dari ketinggian 2919 Dpl, keramaian pasar setan itu terus berlangsung hingga larut malam. Rasa penat yang tak tertahankan akhirnya membuat kami terlelap saat hari menjelang pagi.

Saat sinar mentari membangunkan, rasa syukurpun spontan keluar dari mulut mereka. Mesti sempat terlintas tidak melanjutkan pendakian, tetapi akhirnya pada pukul 08.00 WIB. Mereka melanjutkan pendakian menuju puncak Garuda. Karena untuk mencapai puncak tinggi membutuhkan waktu sekitar satu jam.(aka/bersambung)

Post Terkait

banner 468x60