Menelisik Musabab ‘Keproek Tjina’ di Pesisir Utara Jawa

  • Whatsapp
kawasan pecinan
Kawasan pecinan di Jawa. FOTO/Wikicommon
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Awal abad ke-19 adalah kebangkitan kelompok Cina peranakan di Jawa. Sejak akhir abad ke-18 hingga sebelum Perang Jawa (1825-1830), mereka memainkan peran penting di bidang ekonomi dan pengelolaan lahan. Beberapa di antaranya bahkan pernah memangku jabatan berpengaruh dalam administrasi kolonial dan diberi gelar setingkat Ronggo Tumenggung dan Bupati.

Bangkitnya komunitas elite Tionghoa di Jawa pada masa itu ditanggapi dingin oleh sebagian penguasa feodal Jawa. Orang Tionghoa yang sebelumnya hanya sebagai kelompok Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang menonjol berkat kegigihan dan keuletan mereka, mulai tumbuh sebagai pesaing dalam urusan penguasaan lahan di pedalaman. Sentimen rasial yang berlebihan kemudian timbul ketika Gubernur Jenderal Daendels mendirikan pemerintahan birokratis pertama di Jawa dengan mereduksi kekuasaan elite pribumi dan memberi kesempatan kepada orang-orang kaya Tionghoa.

BACA JUGA : Begini Syarat dan Ketentuannya Jika Ingin Mengkritik Presiden Soeharto

Saksi Kerawanan Sosial


Probolinggo menjadi saksi dari kerawanan sosial yang muncul atas kebijakan berani Daendels tersebut. Seperti dikisahkan Vlekke dalam Nusantara Sejarah Indonesia (2016: 233), kenaikan tuntutan fiskal pemerintah kolonial tahun 1807 memaksa Marsekal Guntur (Daendels) menjual kabupaten Probolinggo di Jawa Timur kepada Kapiten Cina asal Pasuruan bernama Han Tik Ko. Hal ini berdampak pada pemecatan massal pejabat desa pribumi dan digantikan dengan orang-orang Tionghoa.

Kedudukan sebagai pemilik tanah dengan sendirinya membuat Han Tik Ko memperoleh gelar Mayor Cina. Setelah resmi menjadi pemilik Probolinggo pada 1811, dia diberi izin membentuk kesatuan bersenjata dan membuat uang kertas baru. Jadilah Han Tik Ko tampil bak penguasa feodal Jawa. Kekuasaannya menyamai bekas bupati sebelumnya, Raden Tumenggung Joyodiningrat, hingga dia dijuluki sebagai Babah Tumenggung.

Tidak sampai tiga tahun, kekacauan sosial karena persoalan politik desa membuat keluarga Han dan orang-orang Tionghoa lainnya menjadi sasaran kemarahan rakyat. Puncaknya terjadi pada 1813, kerusuhan berdarah bernama Kepruk Cina atau dikenal juga dengan sebutan Perang Kedopok meletus di Probolinggo. Sasaran amuk massa adalah orang-orang Tionghoa, terutama Han Tik Ko sebagai tuan tanah.

BACA JUGA : Ini 10 Tempat Wisata yang Dipercaya Bisa Membuat Enteng Jodoh

Keputusan Gegabah Marsekal Guntur

Istilah Kepruk Cina (Keproek Tjina) pertama kali muncul dalam catatan penulis Belanda bernama Jan Gerrit Willem Lekkerkerker. Dalam Probolinggo, Geschiedenis en Overlever (1931), dia menerjemahkan peristiwa tersebut sebagai aksi penyerangan terhadap orang-orang Tionghoa yang mengakibatkan kematian Mayor Han Tik Ko. Lekkerkerker juga merinci adanya perseteruan antara keluarga Han dengan keluarga Bupati Joyodiningrat yang sangat besar pengaruhnya di Probolinggo.

Claudine Salmon dalam laporan penelitian “The Han Family of East Java Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries)” (1991, PDF) menyebut jejak keluarga Han di Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa dilacak sejak awal abad ke-18. Secara turun-temurun, keluarga peranakan berpengaruh ini memiliki hubungan dekat dengan pemerintah kolonial dan kerap ditunjuk mengisi jabatan Kapitan.

BACA JUGA : Tata Cara, Keutamaan, dan Niat Puasa Rajab


Menurut Salmon, peristiwa jual beli wilayah antara Dandels dengan keturunan keluarga Han merupakan titik mula keterlibatan kelompok peranakan dalam pemerintahan. Pada 1810, Daendels memutuskan untuk menjual sejumlah tanah negara di Jawa Timur untuk menutupi kondisi keuangan pemerintahannya yang morat-marit. Distrik Besuki dan Panarukan dijual kepada Han Chan Piet, putra ketiga Kapiten Cina Han Bwee Kong.

Strategi Membuahkan Hasil


Setelah strategi tersebut dianggap membuahkan hasil, Daendels kembali menjual sebuah wilayah di bagian tenggara Pasuruan kepada adik Han Chan Piet. Pada 1811, Probolinggo diserahkan kepada Han Tik Ko (atau Han Kik Ko dalam sumber berbahasa Cina) dalam sebuah upacara yang besar dan megah. Dia diberi izin untuk tinggal di kediaman bupati yang bagus, sementara bupati sebelumnya dimutasikan ke Sedayu, Gresik.

Sri Margana dalam disertasinya di Universitas Leiden, “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, 1763-1813” (2007, PDF), mencatat wilayah pesisir utara Jawa Timur di sebelah tenggara Surabaya maju pesat di bawah kekuasaan kakak-beradik Han. Wilayah di sekitar Besuki dan Panarukan yang mulanya terbengkalai akibat perang, perlahan menjadi subur. Kondisi ini berangsur menarik perpindahan penduduk dari Madura dan Sumenep.