Menelisik Anggapan Paham Wahabi-Salafi Menjadi Pintu Masuk Terorisme

  • Whatsapp
Terorisme indonesia
Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA (DUTA.CO)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – KH. Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU, mengurai strategi menghabisi jaringan terorisme. Salah satunya dengan memberantas dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi.

BACA JUGA : Polri: Sebanyak 94 Terduga Teroris Telah Ditangkap Sepanjang 2021 – Nusadaily.com

Baca Juga

Tak urung pernyataan Said Aqil ini, menuai kontroversi dari sejumlah anggota dewan.

“Ini artinya, kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar kita satu barisan ingin menghabisi jaringan terorisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuknya yang harus kita habisi. Apa? Wahabi, ajaran Wahabi itu adalah pintu masuk terorisme,” kata Said Aqil dalam webinar ‘Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial’ yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Said Aqil menegaskan ajaran Wahabi bukan terorisme, tetapi pintu masuk terorisme. Sebab, ajarannya dianggap ajaran ekstremisme.

BACA JUGA : Terorisme Makassar, DPD Hanura Jatim: Masalah Keumatan – Noktahmerah.com

“Ajaran Wahabi bukan terorisme, bukan, Wahabi bukan terorisme, tapi pintu masuk. Kalau udah Wahabi ‘ini musyrik, ini bid’ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir,’ itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi ‘sudah halal darahnya boleh dibunuh’. Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan salafi adalah ajaran ekstrim,” ujarnya.

Ajaran Agama di Perguruan Tinggi

Kemudian, Said Aqil, juga meminta agar ajaran agama di perguruan tinggi bagi jurusan selain agama Islam mengutamakan pembahasan terkait akidah, syariat, dan akhlak. Serta diperbanyak penjelasan terkait akhlakul karimah, misalnya menolong sesama, menghormati orang tua, membantu orang lagi susah, silaturahmi, menghormati tamu dan tetangga, menengok orang sakit, menengok orang sedang berduka karena kematian, tidak boleh dengki, tak boleh hasut, tidak boleh adu domba, hoax.

“Jadi, kalau pelajaran agama disampaikan di fakultas yang bukan (jurusan) agama kemudian terulang-ulang ‘neraka, surga, kafir, sesat, musyrik, bid’ah, neraka surga’. Wah, radikal semua itu, itu bagian fakultas yang memperdalam akidah, yang memperdalam syariah,” ujarnya.

BACA JUGA : Bamsoet Minta Aparat Ustut Tuntas Aksi Terorisme Makassar – Beritaloka.com

“Kalau di fakultas umum cukup hanya mengenal hanya mengajak meyakini itu yang ditekankan adalah akhlakul karimah, menghindari radikalisme yang tumbuh di perguruan tinggi jurusan teknik atau yang bukan jurusan agama. Ini yang saya lihat kurikulum yang harus dijalankan di perkuliahan mata kuliah agama di perguruan tinggi yang bukan jurusan agama Islam,” imbuhnya.

Bagi PKS, Tepis Wahabi-Salafi Pintu Terorisme

Bagi PKS, radikalisme dan terorisme punya akar masalah yang berbeda dari pendapat Said Aqil.

Ketua DPP PKS Bukhori Yusuf saat dihubungi, Selasa (30/3/2021), awalnya ia mengatakan tidak bisa mengomentari secara langsung pernyataan Said Aqil. Namun dia punya pandangan tersendiri soal radikalisme dan terorisme.

“Dalam kaitannya, terorisme dan radikalisme menurut saya pemicu terbesarnya itu adalah ketidakadilan dalam kehidupan, dalam kesejahteraan dan kesenjangan dalam mengakses kesempatan,” ucap anggota Komisi VIII DPR itu.

Bukhori menyebutkan, kesejahteraan yang merata bakal mengurangi radikalisme dan terorisme. Dia juga berbicara soal akses kesempatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat.

“Jika kesejahteraan telah merata, akses untuk kesempatan terbuka secara adil, saya yakin, hakulyakin, akan sangat mengurangi tindakan radikalisme dan terorisme,” sambungnya.

Bukhori menyebut seharusnya perspektif yang dikembangkan adalah kerukunan, kerahiman dan persaudaraan sesama umat dan sesama anak bangsa, bukan permusuhan dan kebencian. Jika ada perbedaan, katanya, itu wajar dan bisa dicari solusinya.

“Dalam hal ada perbedaan pandangan, itu wajar sebagai umat manusia, karena Allah memang ciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda suku, agama, pikiran, dan pandangan, yang penting kita saling mencari titik temu,” tuturnya.

Ace Hasan: Itu Tugas Beliau

Komisi VIII DPR RI menyebut meluruskan pandangan keagamaan yang ekstremisme dan radikal bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga ormas keagamaan seperti NU.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily mengatakan salah satu penyebab tindakan terorisme berawal dari pengetahuan tentang pemahaman keagamaan yang diyakini. Misalnya, kata dia, memaknai konsep syahid dengan cara bunuh diri sebagai pintu masuk surga yang jelas merupakan pandangan bertentangan dengan ajaran Islam.

“Bisa jadi pemahaman tersebut didapatkan dari pandangan keagamaan yang eksklusif, menganggap ajaran orang lain salah. Baik antara seagama maupun antaragama lain, memiliki sikap intoleran, dan menghalalkan cara-cara kekerasan,” kata Ace Hasan kepada wartawan, Selasa (30/3/2021).

Ace menyebut pandangan seperti itu identik dengan paham aliran agama Wahabi dan Salafi. Dia menilai paham atau aliran agama seperti itu perlu diluruskan.

“Karena itu, tugas meluruskan pandangan keagamaan yang ekstremistis dan radikal dalam pengertian menghalalkan cara-cara kekerasan, bukan hanya tugas Pemerintah. Tetapi juga ormas keagamaan seperti NU yang dipimpin beliau (Said Aqil),” ucapnya.

“NU selama ini dikenal memiliki pandangan dan sikap yang moderat dalam beragama,” tambahnya.

BNPT Ungkap Tahanan Terorisme di Lapas Berpaham Salafi-Wahabi

Direktur pencegahan BNPT Brigjen R Ahmad Nurwakhid mengungkap tahanan terorisme di lapas BNPT ataupun di tahanan kepolisian berpaham Wahabi dan Salafi. Dia menuturkan semua teroris berpaham radikal, intoleran, dan bersikap eksklusif.

“Saya akan berbicara tentang pola radikalisme dan terorisme itu sendiri. Jadi semua terorisme yang ada di dalam tahanan kami di Densus, di BNPT, maupun di lapas-lapas untuk konteks Indonesia semua berpaham Salafi Wahabi,” ujar Ahmad Nurwakhid dalam acara webinar ‘Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial’ yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Akan tetapi, dia menuturkan tidak semua orang yang berpaham Salafi Wahabi menjadi teroris. Ia menyebut orang yang berpaham Salafi Wahabi jihadis-lah yang biasanya tergabung dengan jaringan terorisme.

“Tapi tidak semua Salafi Wahabi otomatis menjadi terorisme. Karena ada Salafi Wahabi dakwah, ada Salafi Wahabi yang mengikuti sistem demokrasi, ada Salafi Wahabi jihadis. Nah, Salafi Wahabi jihadis itu lah yang menjadi kombatan yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Daulah, Jamaah Ansharut Khilafah, dan jaringan terorisme yang ada di Indonesia maupun di dunia,” kata Ahmad.

Dua Hal yang Dilakukan Polri Dalam Memberantas Terorisme

Oleh karena itu, ada dua hal yang dilakukan Polri dalam memberantas terorisme, yaitu penegakan hukum oleh Densus 88 terhadap aksi terorisme serta melakukan pencegahan terhadap masyarakat yang belum terpapar paham radikalisme dengan melakukan kontra-radikalisasi, kontra-ideologi, kontra propaganda dan deradikalisasi.

“Strateginya adalah kontra-radikalisasi yang diisi oleh kontra-ideologi, kontra-propaganda, dan kontra-narasi ini ditujukan terutama bagi mereka yang sudah terpapar dari kadar rendah dan menengah. Mulai dari antipemerintahan yang sah, intoleransi, eksklusif, antibudaya lokal, antitradisi dan kearifan lokal, dan sebagainya melalui format moderasi beragama,” imbuhnya.

Kemudian pemerintah juga melakukan upaya deradikalisasi bagi para tersangka terorisme, terdakwa, terpidana, narapidana, mantan narapidana terorisme yang masih dalam pengawasan, dan yang belum moderat. Deradikalisasi untuk mengurangi kadar radikalisme.

BNPT: Lukman Bomber Makassar Berideologi Salafi Wahabi yang Membid’ahkan

Direktur pencegahan BNPT Brigjen R Ahmad Nurwakhid menyebut pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar berinisial L memiliki ideologi salafi wahabi yang membid’ahkan. Padahal sebelumnya sosok pelaku dinilai lemah lembut.

“Termasuk yang dilakukan Lukman ini, Lukman ini orang baik, orang sabar pelaku yang ngebom di Makassar. Tetapi karena dia berkenalan dengan ideologi salafi wahabi yang membid’ahkan, menyesatkan budaya tradisi-tradisi lokal keagaman yasinan, tahlilan,” kata Ahmad Nurwakhid, dalam acara webminar Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Sosok bomber Gereja Katedral Makassar itu disebut berubah kepribadiannya setelah mengenal paham ideologi salafi wahabi dan mengenal istrinya. Kepribadiannya yang awalnya penyabar dinilai berubah menjadi keras hingga menjadi teroris.

“Setelah kenal dengan seorang wanita yang kemudian jadi istrinya maka berubah karakternya, maka berubah sikapnya, berubah wataknya. Tadinya hatinya sabar lembut berubah menjadi keras dan akhirnya menjadi teroris,” ungkapnya.

Pasangan Suami Istri Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Seperti diketahui, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar. Menyebut pasangan suami istri yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar merupakan kelahiran 1995. Boy menyebut mereka merupakan kaum milenial yang terpapar virus radikalisme.

“Karena teridentifikasi pelaku kelahiran tahun ’95. Jadi inisialnya L dengan istrinya adalah termasuk tentunya kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan teroris,” ucap Boy, Senin (29/3).

Wanita berinisial YSF atau Dewi bersama suaminya, berinisial L, yang juga bomber Makassar, baru menikah sekitar 7 bulan lalu. Ibu kandung Dewi, EM, menyebut dia sudah jarang bertemu putrinya setelah menikah dengan L.

“(Menikah) 7 bulan lalu. (Kegiatan) jualan online, saya tahu dia jualan online dan suaminya yang antar makanan,” ujar ibu kandung Dewi, EM, saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, Senin (29/3).

Menurut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, L dan YSF dinikahkan tersangka teroris lain.

“Saudara L dan YSF ini beberapa bulan yang lalu, tepatnya 6 bulan lalu, dinikahkan oleh Risaldi,” kata Sigit saat jumpa pers di Mapolda Sulawesi Selatan, Makassar, Senin (29/3).

Direktur Pencegahan BNPT: Saya Pernah Terpapar Paham Radikal

Direktur pencegahan BNPT Brigjen R Ahmad Nurwakhid mengaku pernah terpapar paham radikal hingga membuatnya hampir berangkat ke Afganistan.

“Memang saya juga pernah terpapar paham radikal, sampai saya juga mau berangkat ke Afganistan,” kata Ahmad Nurwakhid dalam acara webinar ‘Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial’ yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Ahmad Nurwakhid bercerita awal mula dia terpapar paham radikal. Ketika mendengar ceramah-ceramah dengan paham Salafi Wahabi di salah satu masjid di Solo. Sejak saat itu, ia mulai sering menghadiri kajian.

“Meskipun saya dilahirkan di lingkungan NU dan kemudian di sekolah Muhammadiyah sudah dikenalkan doktrin-doktrin al-wala wal-bara. Setelah saya jadi Kapolsek di Solo Banjarsari kami sering mendengarkan ceramah di Al Mu’min Ruki. Disitulah berkenalan dengan Salafi Wahabi takfiri, akhirnya kami sering idat, sering liqo,” ujar Ahmad Nurwakhid.

Ia menyebut, pada sekitar 1995-1996, pemerintah saat itu belum mewaspadai soal terorisme. Kemudian, setelah peristiwa bom Bali pada 2002, negara baru memiliki UU Terorisme sehingga Ahmad mulai berpaling dari paham radikal.

“Baru setelah 2002, ketika terjadi bom Bali negara baru peduli tentang radikalisme. Alhamdulillah saya sudah mulai sadar, transisi sampai ketemu ideologi pengganti. Tercabutnya ideologi takfiri yang berawal dari pemahaman atau mazhab Salafi Wahabi takfiri tadi itu akan hilang jika terganti dengan ideologi Islam yang kaffah,” ungkap Ahmad.

“Yang tadinya Islam dipahami sebagai iman Islam dan jihad, iman Islam dan khilafah. Maka harus tergantikan secara benar, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Iman, Islam, dan akhlakul kharimah tadi yang dijelaskan oleh KH Said Aqil Siroj,” sambungnya.(han)