Kontroversi Festival Santet, Sejarah Kelamnya dan Citra Banyuwangi sebagai Kota Pariwisata (Bagian 1)

  • Whatsapp
Ilustrasi Pembantaian Dukun Banyuwangi
Ilustrasi Pembantaian Dukun Banyuwangi.
banner 468x60

Beberapa hari terakhir, masyarakat Banyuwangi dihebohkan Festival Santet yang rencananya akan diselenggarakan oleh Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu). Festival santet ini dinilai dapat merusak citra Banyuwangi yang selama kepemimpinan Bupati Anas dikenal sebagai Kota Pariwisata.Tak hanya itu, Festival Santet juga dikhawatirkan sejumlah pihak akan membuka luka lama atas terjadinya “Tragedi Pembantaian di Banyuwangi” pada Tahun 1998 silam.

Nusadaily.com mencoba untuk mengulas sedikit sejarah kelam terkait Tragedi Pembantaian Banyuwangi 1998 hingga akhirnya Banyuwangi bisa melejit dan dikenal sebagai salah satu Kota Pariwisata di Nusantara.

Baca Juga

Termasuk perubahan makna santet yang semula berarti ilmu putih pengasihan, namun pada perkembangannya berubah menjadi konotasi negative berarti sihir.

Baca Juga: Polemik Festival Santet, Ini Beda Santet dan Sihir Versi Perdunu

Tragedi Pembantaian Banyuwangi 1998

Isu santet Banyuwangi bermula pada awal Bulan September 1998. Kala itu, dua orang warga Kecamatan Rogojampi yakni Junaidi (53) dan As’ari (60) harus meregang nyawa dibatai oleh sosok-sosok bertopeng.

Pembantaian berlanjut keesokan harinya yang menewaskan Tafsir (70) Warga Desa Gintangan Kecamatan Blimbingsari.

Pelaku masih sama, yakni sosok-sosok bertopeng atau disebut ninja oleh masyarakat Banyuwangi kala itu.

“Ia dianiaya pada pukul 02.00 dini hari. Kemudian diseret dengan kendaraan hingga tewas. Kemudian, pada 3 September giliran Desa Watukebo, Blimbingsari yang jadi sasaran.

Januri (60), dibantai massa yang beringas. Ia digantung hingga meninggal dunia,” kata Bahrur Rohim peneliti sejarah Bumi Blambangan yang tergabung dalam Komunitas Pegon Banyuwangi.

Peristiwa ini, menurut Bahrur Rohim, menjadi pemicu awal pembantaian masal di Bumi Blambangan. Setidaknya ada 70 lebih kasus pembunuhan selama Bulan September 1998.

Awalnya, korban yang disasar ialah mereka yang dituduh sebagai dukun santet. Namun, lambat laun pembantaian merambat kepada para guru ngaji yang mayoritas merupakan warga Nahdliyin.

Saat itu, hampir setiap hari terjadi pembantaian di berbagai desa se-Kabupaten Banyuwangi. Pada 4 September, Sanusi (60) dan Abdul Holik (38), warga Kecamatan Kabat dijemput paksa oleh 200-an massa pada pukul 21.00 WIB.

Bapak dan anak tersebut dibantai kemudian digantung. Di hari yang sama, Mail (60) juga meregang nyawa setelah dihantam berbagai benda tajam dan tumpul.

Baca Juga: Didesak Ganti Nama Organisasi dan Istilah Festival Santet, Ini Jawaban Perdunu