Konon Keris Empu Gandring dan Keris Diponegoro Terbuat dari Batuan Meteorit

  • Whatsapp
Keris meteorit. Foto: Merdeka.com
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Batu dari langit atau Meteorit memang bernilai tinggi. Bahkan keris Empu Gandring yang legendaris nan terkutuk dari Tanah Jawa tepatnya dari Kerajaan Singhasari, konon juga terbuat dari meteorit.

“Meteorit sudah dikenal oleh leluhur kita dari sebelum abad ke-6. Hal ini bisa ditemui pada artefak keris zaman Mataram Hindu, zaman Purwacarita, dan seterusnya,” kata ahli pembuat keris Empu Totok Brojodiningrat dikutip Nusadaily.com dari detik.com Sabtu, 21 November 2020.

Baca Juga

Zaman Purwacarita berarti sama dengan zaman prasejarah atau era sebelum dikenal catat-mencatat peristiwa dengan tulisan. Artinya, sejak dahulu kala, masyarakat Jawa sudah paham bahwa meteorit adalah barang berharga yang bisa diolah menjadi mahakarya.

“Bahkan seorang empu zaman dahulu sudah mengerti tanda-tanda benda langit ini kapan akan jatuh. Misalnya Empu Gandring menunggui meteorit yang akan jatuh di Padang Karautan,” tutur Ki Totok, begitu panggilan Empu Totok Brojodiningrat.

Meteorit menjadi bahan baku keris karya Empu Gandring, pembuat keris dari era Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari (Singhasari/Singosari). Keris Empu Gandring inilah yang dipakai Ken Arok untuk menikam Empu Gandring, sang pembuatnya.

Keris itu lantas mengiringi intrik politik pendirian Kerajaan Singasari. Ken Arok menikam kepala daerah bernama Tunggul Ametung dengan menjadikan Kebo Ijo sebagai kambing hitam pelaku pembunuhan.

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengawini pasangan Tunggul Ametung bernama Ken Dedes. Ternyata Ken Dedes sudah mengandung anak Tunggul Ametung bernama Anusapati. Akhirnya, Ken Arok dibunuh oleh Anusapati lewat tangan pembantunya, hingga akhirnya pembantunya itu dibunuh pula oleh Anusapati dengan keris yang sama.

Kembali ke penjelasan Ki Totok, keris itu berbahan meteorit. “Dari campuran meteorit itu tercipta keris yang sangat ampuh yang mampu menembus kekebalan ilmu Tunggul Ametung, penguasa Tumapel di tlatah Jawa Timur,” kata Ki Totok.

Sebagai rezeki dari langit, kandungan meteorit tidak main-main. Material yang susah didapat ini sangat berharga. Bukan hanya keris karya Empu Gandring yang konon sudah musnah dilarung ke kawah Gunung Bromo, keris legendaris lainnya juga terbuat dari meteorit.

Keris abad ke-13

Ada keris Pari Sawuli karya Empu Kasa, diperkirakan berasal dari abad ke-13. Pamor keris itu berbahan meteorit. Maju ke era Majapahit, ada keris berbahan meteorit yang legendaris.

“Keris Condhong Campur, keris andalan Keraton Majapahit yang disimpan di Gedong Pusaka,” kata Ki Totok.

Kanjeng Kiai Condhong Campur konon muncul bak wabah penyakit di era akhir pemerintahan Majapahit, demikian menurut buku ‘Pesona Tosan Aji’ karya Prasida Wibawa. Menurut dongeng, keris ini rusak akibat pertarungan dengan keris lain. Keris Condhong Campur hendak diperbaiki, tapi malah melesat menjadi lintang kemukus atau bintang berekor menandai berakhirnya Majapahit, dan menandai tumbuhnya kerajaan-kerajaan baru pasca-Majapahit.

Keris legendaris lain yang juga mengandung meteorit adalah keris dari era Mataram Islam. Keris yang satu ini punya legenda yang mengerikan.

“Keris Margopati atau Keris Kumboyono milik Hamangkurat (Amangkurat I, 1646-1677). Konon, keris Margopati untuk mengeksekusi para kiai dan santri dengan tangan Hamangkurat sendiri di alun-alun,” kata Ki Totok. Dia sendiri mengaku sempat melihat fisik keris Margopati itu dan juga merawatnya, meski keberadaan keris ini sangat dirahasiakan.

Di era selanjutnya, ada meteorit jatuh di Prambanan pada era abad ke-18, yakni pada 1784 era Paku Buwana III. Bongkahan meteorit itu dinamakan Kiai Pamor, disimpan di Keraton Kasunanan Surakarta. Pecahan meteorit itu banyak dijadikan keris juga.

Kemudian yang terakhir, ada keris Kiai Naga Siluman (Naga Seluman dalam bahasa Jawa) milik Pangeran Diponegoro. Pada awal 2020 ini, keris Naga Seluman ini kembali ke Indonesia setelah sekian lama berada di Belanda. Ki Totok adalah salah satu orang yang sempat memeriksanya di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air.

“Keris Naga Raja bergelar Naga Seluman, milik Pangeran Diponegoro,” kata Ki Totok. (han)

Post Terkait

banner 468x60