Harus Qada atau Bayar Fidyah? Ini Empat Macam Bentuk Batal Puasa dan Konsekuensinya

  • Whatsapp
puasa fidyah
Ilustrasi puasa Ramadan
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu menjalankannya.

Pelaksanaannya dimulai fajar shadiq (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari atau waktu maghrib. Diawali niat pada malam hari dan menjauhi segala hal yang membatalkannya. 

BACA JUGA: Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan, Lantas Mengapa Masih Ada Maksiat? – Imperiumdaily.com

Melansir dari NU Online, macam-macam putusnya puasa dan hukumnya terdiri dari empat hal; Pertama, perkara yang mewajibkan qada dan membayar fidyah. Kedua, perkara yang hanya mewajibkan qada saja. Ketiga, perkara yang mewajibkan membayar fidyah tidak qada. Keempat, tidak wajib qada dan tidak wajib fidyah.

1. Wajib Qada dan Bayar Fidyah

Golongan yang wajib mengqada puasa dan membayar fidyah terdiri dari dua, yaitu memutuskan puasa karena mengkhawatirkan selain dirinya dan keterlambatan menqada puasa hingga datang bulan Ramadhan berikutnya.

Syekh Nawawi memberikan gambaran pada poin pertama ini seperti halnya orang yang menyelamatkan orang lain atau selainnya sehingga ia membatalkan puasa. Contoh lain adalah ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya ketika ia berpuasa, meski dia sendiri sanggup melakukannya.

BACA JUGA: Ramadan Bulan Ampunan, Perbanyak Baca Doa Ini di Bulan Ramadan – Noktahmerah.com

2. Wajib Qada Saja

Syekh Nawawi memberikan alasan mengapa hanya diwajibkan qada tanpa membayar fidyah, yaitu tidak adanya dalil yang menunjukkan wajibnya fidyah.

Di antara yang termasuk dalam kelompok ini adalah orang yang meninggalkan puasa karena sakit ayan, melakukan perjalanan jauh, sakit tidak permanen, lupa berniat di waktu malam, menyengaja berbuka, dan sebagainya. 

3. Wajib Bayar Fidyah Tanpa Qada

Hanya wajib membayar fidyah tanpa wajib mengqada adalah diperuntukkan orang tua renta yang sudah tidak mampu lagi menjalankan ibadah puasa.

Termasuk juga orang-orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya. Logis jika hanya berkewajiban membayar fidyah, hal ini disebabkan lemahnya fisik yang tak mungkin lagi melakukan puasa. 

BACA JUGA: Baca Doa Ini Setelah Isya, Pahalanya Seperti Ibadah Sepanjang Malam – Nusadaily.com

4. Tidak Wajib Qada dan Fidyah

Hukum ke empat ini diperuntukkan bagi orang gila, anak kecil yang belum baligh, dan kafir asli. (Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Syarah Kasyifatus-Saja, Surabaya: al-Bayan, hal. 114).

Ternyata masih saja terjadi perbedaan pemahaman khususnya terkait qada dan fidyah. Sebagaimana penuturan para jamaah bahwa selama ini bagi wanita hamil atau menyusui yang meninggalkan puasa karena hawatir terjadi hal buruk pada bayinya, hanya membayar fidyah tanpa mengqada.Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan menjamur di tengah masyarakat Muslim.(mic)