Gelar Field Trip, Bumi Banger Kunjungi Tempat Bersejarah di Probolinggo

  • Whatsapp
Komunitas Bumi Banger di Probolinggo, Saat mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Aksi ini, terus dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan sejarah (NusaDaily.com/Rahmad Soleh)
banner 468x60

NUSADAILY.COM-PROBOLINGGO – Aktivitas edukasi tentang sejarah yang dilakukan Komunitas Bumi Banger di Kota Probolinggo kian gencar. Minggu, 21 Februari 2021 mereka melaksanakan Field Trip ke tempat-tempat bersejarah.

Sejumlah tempat bersejarah di Kota Probolinggo dikunjungi. Diantaranya, Benteng peninggalan VOC di Mayangan, Tugu Tunggal Alun-alun, Pendapat Kabupaten, Kampung Belanda Gunung Bentar Situs Kentrungan dan Situs Masjid Kregenan.

Baca Juga

Benteng Mayangan, diketahui dibangun pada tahun 1650 yang digunakan sebagai pos pantau lalu lintas laut dan kantor pusat perdagangan VOC. Kemudian tahun 1768, berubah fungsi sebagai Pusat Pemerintahan Kadipaten Probolinggo.

Pada tahun 1942 – 1945, beralih fungsi sebagai tempat pembuangan segala ornamen milik Belanda dan milik Inggris.
Kemudian tahun 1945 – 1947, menjadi Markas TNI untuk pertama kalinya serta tahun 1947 – 1949, menjadi Markas tentara KNIL.

Ketua Bumi Banger Probolinggo Ino Imam Safiono didampingi Penasehat Bumi Banger Zulfikar Imawan menjelaskan, tujuan kegiatan ini untuk menggali sejarah Perjuangan Rakyat Probolinggo, melestarikan Peninggalan peninggalan sejarah baik masa kolonial maupun Kerajaan kerajaan di Probolinggo.

“Seperti diketahui, Komplek Benteng dan Tugu tunggal Alun-alun merupakan salah satu catatan sejarah bukti perlawanan Bangsa Indonesia melawan Kolonial Belanda maupun Inggris, perjuangan ditorehkan  dengan bukti prasasti juga Tugu Tunggal Alun alun,”jelas Ino pada NusaDaily.com.

Peninggalan Merupakan Bentuk Perjuangan Rakyat

Ia menilai, sejumlah peninggalan itu merupakan bentuk perjuangan rakyat untuk melepaskan penjajahan oleh kolonialisme yang  kala itu. Mereka memiliki tujuan yang sama, yakni bebas dari segala belenggu penjajahan.

Fieldtrip, kemudiam dilanjutkan mengunjungi Pendopo Probolinggo, Kampung Belanda Gunung Bentar, Situs Kentrungan dan berakhir di situs Masjid Kregenan yg merupakan jejak sejarah penyebaran agama Islam oleh para wali.

Ino mengatakan kegiatan ini akan diikuti oleh 25 peserta yakni anggota Komunitas. Aksi ini, sebenarnya ingin diikuti oleh masyarakat umum. Tetapi dikarenakan kondisi Pandemi COVID-19, sehingga dibatasi.

““Penyelenggaraan Field Trip ini akan terus dilaksanakan, yakni untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa. Memberikan pendidikan kepada masyarakat termasuk menjaga spirit perjuangan para pahlawan,” tandasnya.

Zulfikar Imawan, penasihat Komunitas Bumi Banger mengapresiasi upaya komunitas yang begitu aktif. Sebab, sejarah merupakan bagian yang harus dipertahankan.

“Apa yang dilakukan Komunitas Bumi Banger harus diapresiasi. Ini upaya nyata untuk melestarikan sejarah dan budaya di Probolinggo, tentu harus kita support terus,” ungkap politisi NasDem ini. (ras/aka)