Rabu, Desember 1, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaCultureEndog-endogan, Tradisi Arak Telur untuk Rayakan Maulid Nabi di Banyuwangi

Endog-endogan, Tradisi Arak Telur untuk Rayakan Maulid Nabi di Banyuwangi

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Banyuwangi memiliki tradisi unik dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) yaitu Endog-endogan.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Tradisi Endog-endogan merupakan acara mengarak bunga telur. Telur ayam yang direbus kemudian diletakkan pada tusuk bambu kecil yang sudah dihias dengan bunga kertas dan ornamen menarik lainnya yang disebut dengan kembang endog.

BACA JUGA: 5 Makanan Khas Maulid Nabi, Sudah Incip yang Mana?

Nantinya kembang endog ditancapkan pada jodang, batang pohon pisang yang sudah dihias dengan kertas warna-warni. Dalam satu jodang biasanya bisa diisi sekitar 27, 33 atau 99 kembang endog.

Jodang yang sudah ditancap kembang endog kemudian diarak keliling kampung. Dahulu biasanya masyarakat keliling kampung dengan memanggul jodang, namun sekarang sudah lebih banyak yang meletakkannya di kendaraan seperti becak atau mobil pick-up yang sudah dihias.

BACA JUGA: Pemerintah Geser Hari Libur Maulid Nabi ke 20 Oktober 2021

Jodang diarak dengan iringan alat musik tradisional macam patrol, terbang, atau rebana yang membuat suasanan semakin meriah.

Setelah diarak keliling kampung, jodang-jodang kemudian akan diletakkan di serambi masjid atau mushola. Kemudian, selepas pengajian dan makan bersama, telur-telur akan dibagikan pada masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, endog-endogan sudah semakin bervariasi. Kembang endog tak lagi hanya berbentuk bunga. Namun ada juga yang berbentuk barong, ular naga, pesawat, atau kerucut sesuai dengan kreativitas masyarakat.

Salah satu pembuat kembang endog Salimah mengatakah bahwa kini banyak masyarakat yang menggemari bentuk-bentuk kembang endog seperti burung atau kerucut. “Jadi telurnya tidak lagi ditusuk bambu tapi digantung agar tidak cepat basi. Bentuknya juga lebih menarik terutama bagi anak-anak,” kata dia.

BACA JUGA: Psikolog Bagi Kiat Relaksasi Pikiran Untuk Kesehatan Mental

Awal Muncul

Menurut Suhailik, sejarawan lokal Banyuwangi, tradisi Endog-endogan muncul pada akhir abad ke-18. Tradisi ini masuk setelah Islam masuk ke wilayah kerajaan Blambangan.

Konon, tradisi ini muncul diawali pertemuan di Bangkalan antara KH. Kholil, pimpinan Ponpes Kademangan Bangkalan dengan KH. Abdullah Fakih, pendiri Ponpes Cemoro Balak, Songgon, Banyuwangi.

BACA JUGA: Dinkes Surabaya Terapkan Tiga Strategi Cegah Kekerdilan

Dalam pertemuan tersebut, KH. Kholil mengatakan bahwa bunganya Islam sudah lahir di Nusantara (Nahdlatul Ulama) yang dipersonifikasikan dengan endog (telur). Dimana kulit telur melambangkan kelembagaan NU itu sendiri, sementara isi telur melambangkan amaliyah (amalan).

Sepulang dari pertemuan tersebut, KH. Fakih pun menyebarkan amanah tersebut dengan cara mengarak batang pisang yang sudah dihias dengan tancapan telur-telur dan bunga keliling kampung disertai lantunan shalawat dan dzikir.

Itulah cikal bakal tradisi Endog-endogan yang ada di Banyuwangi.(mic)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR