Di Kramat Raya 106, Kos-kosan Bersejarah Saksi Bisu Lahirnya Sumpah Pemuda

  • Whatsapp
kramat raya 106 28
Gedung Kramat 106 yang sekarang menjadi museum Sumpah Pemuda
banner 468x60

JAKARTA – Wahai para pemuda, wahai semua anak bangsa, tahukah kalian semua, hari ini adalah hari yang spesial? Tepat pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, sebuah peristiwa bersejarah terjadi, tepatnya disebuah kos-kosan Kramat Raya 106.

Baca Juga

Kelompok pemuda dari berbagai macam Suku, RAS, dan Agama bersatu dan bersepakat untuk bersama-sama berjuang melawan penjajah. Hari itulah yang kemudian kita kenang sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Berbicara soal Sumpah Pemuda, tentu kita harus menilik kembali di mana peristiwa itu terjadi dan bagaimana awalnya.

BACA JUGA : 92 Tahun Sumpah Pemuda, Jangan Ajarkan Pemuda Tentang Anarkisme

Sebuah gedung saksi peristiwa Sumpah Pemuda masih berdiri kokoh di Jalan Kramat Nomor 106, Jakarta Pusat.  Gedung itu awalnya dikenal dengan nama Gedung Kramat Raya 106.

Gedung Kramat Raya 106 Jadi Saksi Bisu

Gedung ini menjadi saksi bisu atas pembacaan ikrar ratusan pemuda di Indonesia, 92 tahun silam. 

Di gedung seluas 1.285 meter persegi ini, para pemuda Indonesia melebur untuk berdiskusi terkait format perjuangan, hingga merumuskan apa yang kita sekarang kenal sebagai Sumpah Pemuda.

Gedung mulai difungsikan sejak awal abad 20-an. Awalnya, gedung ini merupakan rumah tinggal dari seseorang bernama Sie Kong Tiang. Barulah pada tahun 1908, Gedung disewakan bagi pemuda dan pelajar, sehingga memberi jalan bagi kemajuan pergerakan pemuda Indonesia.

Awal tahun 1900-an, muncul gelombang elite terpelajar di Indonesia. Mereka kemudian membentuk berbagai organisasi kempemudaan yang banyak dibentuk berdasarkan identitas etnis, seperti Jong Celebes (Sulawesi), Jong Ambon (Ambon), Jong Java (pemuda Jawa), Jong Sumatranen Bond (Sumatera), dan Pemuda Kaum Betawi.

Anggota dari organisasi tersebut bersekolah di kota-kota besar di Jawa. Baca juga: Mereka yang Merawat Ikrar Sumpah Pemuda di Maluku, Kalbar, dan Sumbar   Banyak dari sekolah-sekolah tersebut yang menyediakan asrama tingal.

Cikal Bakal Terjadinya Sumpah Pemuda

Namun, sebab jumlah pelajar semakin meningkat, asrama pun tak cukup lagi mengakomodir seluruh pelajar.

Alhasil, sebagian harus tinggal di indekos. Salah satu gedung yang menyediakan jasa tersebut, tak lain adalah Kramat Raya 106 yang kala itu dikenal dengan sebutan Commensalen Huis.

Sejak 1908, Kramat Raya 106 telah dihuni oleh pemuda dan mahasiswa dari sekolah kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) dan sekolah hukum Rechtsschool (RS).

Semenjak itu, pemuda lain berdatangan untung turut tinggal di sana. Pada tahun 1925, anggota dari organisasi Jong Java mulai tinggal di indekos tersebut.

Organisasi pemuda lainnya mulai mengikuti jejak Jong Java. Pada tahun 1926, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan lain-lain mulai menghuni gedung tersebut. Sehari-harinya mereka sering melakukan diskusi bersama.

Soekarno bersama Algemeene Studie Club dari Bandung pun sering datang untuk membicarakan format perjuangan dengan pemuda-pemuda lain yang tinggal di gedung.

Pernah Digunakan Untuk Lokasi Latihan Kesenian

Selain digunakan sebagai tempat diskusi politik, gedung ini juga dipergunakan sebagai lokasi latihan kesenian ‘Langen Siswo’.

Dari diskusi-diskusi tersebut, muncul keinginan untuk membentuk perhimpunan bersama. Alhasil, pada bulan September 1926, lahir Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di gedung tersebut.

Organisasi ini tak lagi didasari identitas kesukuan maupun agama, seperti organisasi yang bermunculan sebelumnya. PPPI menjadikan Kramat Raya 106 sebagai sekretariatnya.

Tak hanya itu, majalah terbitan PPPI, Indonesia Raja juga berlokasi di rumah tinggal bersama tersebut.

Pemuda Indonesia melebur dan bersama-sama melakukan diskusi terkait kemerdekaan Indonesia di sana.

Sebab digunakan oleh berbagai organisasi, pada tahun 1927, gedung pun beralih nama menjadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw yang berarti gedung pertemuan.

Lahirnya Sumpah Pemuda dan Teriakan “Merdeka!” Pada bulan Agustus 1928, gedung tempat tinggal tersebut diputuskan untuk menjadi lokasi diselenggarakannya Kongres Pemuda Dua.

Sebelumnya, kongres pemuda pertama telah diselenggarakan dua tahun sebelumnya, yakni pada April 1926.

Dalam kesempatan tersebut, pemuda ingin menyatukan berbagai kelompok menjadi satu organisasi.

Kongres Pemuda kedua diselenggarakan dengan diikuti organisasi pemuda, seperti PPPI, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamiente, Sekar Rukun, dan lain-lain.

Kongres kali ini diharapkan menghasilkan keputusan dari kelompok-kelompok pemuda untuk bersama-sama berjuang meraih kemerdekaan.

Yel-yel ‘Merdeka!’ telah diserukan pada hari pertama kongres. Karenanya, petugas keamanan Hindia Belanda pun menjaga jalannya kongres dengan ketat.

Bahkan, pada hari kedua, dokumen-dokumen yang ada ketika kongres disita oleh petugas keamanan pemerintah Hindia Belanda.

Namun, para pemuda berhasil melahirkan ikrar janji persatuan. Naskah janji persatuan tersebut dirancang Mohammad Yamin.

Pada ikrar tersebut disebutkan bahwa para pemuda bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu.

Peralihan Fungsi Gedung

Naskah tersebutlah yang sekarang kita kenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Pada kesempatan ini juga, WR Supratman pertama kali memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola kepunyaannya di depan seluruh peserta kongres.

Lagu tersebut juga bermaksud mewakilkan semangat perjuangan untuk kemerdekaan.

Jadi Rumah tinggal hingga Toko Bunga Pasca peristiwa tersebut, banyak pemuda yang tak lagi tinggal di Kramat Raya 106 sebab telah menyelesaikan masa pembelajarannya.

Dikutip Nusadaily.com dari Kompas.com, gedung pun mulai beralih fungsi. Banyak dari pemuda tersebut yang kemudian menjadi tokoh-tokoh terkemuka, bahkan pemimpin di Indonesia.

Pada tahun 1934 gedung digunakan sebagai tempat tinggal oleh Pang Tjem Tjam. Ia tinggal di sana hingga tahun 1937. Pada tahun 1937, gedung disewakan kepada orang lain, yakni Loh Jing Tjoe.

BACA JUGA : Ini Makna Logo Baru Hari Sumpah Pemuda 2020 yang Diluncurkan Kemenpora

Ia menggunakan gedung sebagai toko bunga hingga tahun 1948. Sementara itu, pada tahun 1948-1951 gedung difungsikan sebagai sebuah hotel yang dikenal dengan nama Hotel Hersia.

Barulah pada tahun 1951, gedung digunakan untuk kepentingan negara, yakni sebagai kantor dan mess Inspektorat Bea Cukai.

Akhirnya, pada tahun 1973, gedung dipugar dan dijadikan museum Gedung Sumpah Pemuda untuk mengenang peristiwa pembacaan Sumpah Pemuda.(A.Hanan Jalil)

Post Terkait

banner 468x60