Kamis, September 23, 2021
BerandaCultureCarok, Antara Kekerasan dan Mempertahankan Harga Diri

Carok, Antara Kekerasan dan Mempertahankan Harga Diri

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Seorang teman perempuan pernah menyatakan ketakutan pada orang Madura. Dalam bayangannya, orang Madura menakutkan. Kasar. Suka berkelahi. Apalagi ketika suatu waktu dia mendengar soal carok.

“Masa karena perkara kecil saja harus kehilangan nyawa?” tanyanya.

BACA JUGA : Menelisik Jejak Prabu Tawang Alun di Rowo Bayu

Apa boleh buat. Stigma seperti itu lekat di pikiran banyak orang. Madura, dan juga penduduknya, kerap dilabeli banyak cap negatif: keras kepala, suka seenaknya sendiri, bersumbu pendek, dan tentu saja suka carok.


Kata carok menjadi momok yang lebih menakutkan dan membuat banyak orang salah paham. Ini yang membuat Latief Wiyata memutuskan meneliti carok secara mendalam. Hasil kerjanya selama tiga tahun dibukukan menjadi buku berjudul Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Buku ini diterbitkan LKiS pada 2002, dan diterbitkan ulang empat tahun kemudian.

Latief menjelaskan beberapa persoalan yang kerap disalahpahami. Banyak orang menganggap carok sebagai sinonim dari berkelahi. Padahal bukan. Pertikaian baru bisa disebut carok jika ada luka berat atau tewas. Jika tidak tewas, apalagi hanya luka ringan, maka itu hanya bisa disebut sebagai atokar, alias perkelahian biasa.

BACA JUGA : Ramalan Joyoboyo, Inikah Pengganti Jokowi di Tahun 2024?


Hal penting lain soal konsep todus dan malo. Ini konsep penting yang seyogyanya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, jika diterjemahkan, dua kata itu punya arti sama: malu. Padahal artinya jauh berbeda. Todus lebih ke sikap segan, atau sungkan.

“Sedangkan maloh ini menyangkut harga diri,” kata Latief.

Orang Madura dikenal mempunyai harga diri yang tinggi. Peribahasanya yang paling terkenal adalah: ketimbang hidup berputih mata (malu), lebih baik putih tulang (mati).

BACA JUGA : Ribuan Koin Kuno yang Ditemukan di Banyuwangi Berasal dari Dinasti Song


Carok dan Harga Diri

- Advertisement -

Menurut Latief, carok sebenarnya kebiasaan yang relatif baru. Sebab pada abad 12, saat Kerajaan Madura dipimpin Prabu Cakraningrat, juga abad 14 di bawah Joko Tole, carok tidak dikenal. Bahkan saat Panembahan Semolo, putra Sunan Kudus, memerintah Madura di abad 17, istilah carok itu juga belum dikenal.

Barulah pada abad 18, carok mulai dikenal masyarakat Madura. Kala itu, Madura adalah daerah yang jauh dari pusat pemerintahan VOC di Surabaya. Tak ada yang mengontrol secara langsung. Mirip tanah wild wild west di era koboi.

“Akhirnya, setiap orang menyelesaikan persoalannya sendiri-sendiri. Salah satunya dengan carok,” kata Latief dalam sebuah wawancara dengan Tempo. Pendapat Latief ini juga senada dengan antropolog lain, seperti Huub De Jonge, Elly Touwen-Bouswma, juga Glenn Smith.

Ada banyak penyebab carok. Sebagian besar adalah perihal istri yang diganggu. Orang Madura menganggap istri adalah bhantalla pate, alias landasan kematian. Mengganggu istri sama dengan melecehkan kehormatan seorang pria.

Selain soal istri, perkara lain yang mendasari carok antara lain adalah rebutan tanah atau warisan. Tanah, juga segala bentuk penghidupan seperti air, adalah hal yang benar-benar dijaga orang Madura. Tapi carok tak melulu soal besar yang melibatkan kehormatan. Carok bisa pula terjadi karena salah paham, atau bahkan berawal dari saling mengejek belaka.

Sugali (45), pertama kali carok pada usia 17 tahun. Perkaranya sepele: saling ejek dengan beberapa orang pemuda desa sebelah. Karena carok itu, dua orang meregang nyawa. Sugali dipenjara selama 8 tahun karena membunuh orang. Sekarang Sugali dikenal sebagai jago, alias orang yang disegani karena menang carok. Orang Madura menyebutnya sebagai blater.(han)

AnyFlip LightBox Embed Demo

popular minggu ini

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Genjot Pelatihan Inkubasi, Pemkot Mojokerto Targetkan Bentuk Ribuan Wirausahawan Baru

NUSADAILY.COM - MOJOKERTO - Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan ribuan pengusaha baru bakal terlahir di tengah pandemi COVID-19. Hal itu ditegaskan Wali Kota Mojokerto, Ika...