Buktikan Cinta, Wanita Suku Dani Papua Rela Potong Jari

  • Whatsapp
ilustrasi
banner 468x60

NUSADAILY.COM – Demi membuktikan cinta kepada seseorang, Suku Dani Papua rela memotong jari tangannya. Rritual ini mungkin ekstrem, tapi menurut masyarakat suku Dani, tidak ada cara yang lebih baik untuk mengungkapkan rasa kehilangan selain melakukan ritual berbahaya ini. Rasa sakit bagi mereka adalah lambang hati dan jiwa yang juga tercabik karena kehilangan.

Seperti yang dilansir situs boombastis, menurut suku Dani, keluarga adalah segala-galanya dan pokok dari kehidupan. Sehingga jika ada salah satu keluarga yang meninggal akan menjadi rasa sakit luar biasa bagi yang ditinggalkan. Untuk itu kemudian orang-orang di sana menerapkan tradisi Iki Palek alias pemotongan jari tersebut.

Baca Juga

Pemotongan jari dimaksudkan sebagai lambang kehilangan yang amat sangat. Rasa sakitnya diumpamakan seperti menderitanya hati ketika saudara meninggal. Oleh karena itu, mereka pun seolah tak masalah melakukan ritual menyakitkan tersebut sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap keluarga.

Namun, Iki Palek hanya dijalani oleh kaum wanita. Biasanya adalah para ibu atau wanita tertua. Ketika ada kerabat dekat, mungkin suami, anak, atau saudara kandung yang meninggal, maka jari wanita tertua yang ditinggalkan itulah yang akan diputus. Sehingga di masyarakat tersebut sering dijumpai ibu-ibu yang kehilangan jarinya. Jari yang putus menandakan berapa banyak keluarga mereka yang sudah meninggal. Meskipun katanya hanya dilakukan para wanita, namun pria terkadang juga melakukannya.

Untuk memotong tidak hanya memakai benda tajam, bahkan kadang ada juga yang memakai gigi alias digigit sampai putus. Soal rasa sakit, jangan tanya karena mereka jelas merasakannya. Tapi, sekali lagi, hal ini adalah tanda kesetiaan yang harus dilakukan. Dan mereka tidak merasa berat karena hal tersebut.

Jika wanita membuktikan cinta dengan potong jari, para pria suku Dani melakukannya dengan mengiris kulit telinga. Prosesinya tidak jauh berbeda, jadi ketika ada saudara yang meninggal maka para pria akan memotong kulit telinganya. Biasanya mereka melakukan ini dengan menggunakan semacam bilah bambu yang tajam.

Ritual satu ini konon sudah dilakukan sejak zaman dulu sekali. Dan orang-orang Dani tetap setia melakukannya bahkan di masa-masa sekarang. Tapi, belakangan diketahui jika ritual Iki Palek sudah jarang sekali dilakukan. Penyebab utamanya adalah lantaran pengaruh agama yang menyebar di daerah pelosok Papua. Meskipun demikian, ada juga yang mengatakan jika ritual ini masih lestari sampai saat ini. Terutama di daerah-daerah yang lebih masuk dan terpencil lagi.(aka)