Berkat Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, Wartawan Pamekasan Madura Ini, Bahasa Indonesia Lahir

  • Whatsapp
Mohammad Tabrani Soerjowitjitro
Mohammad Tabrani Soerjowitjitro dan Mohammad Yamin
banner 468x60

JAKARTA – Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, seorang wartawan asal Pamekasan Madura. Berkat kegigihannya berjuang dan berselisih paham dengan peserta lainnya, maka, 92 Tahun lalu, Bahasa Indonesia lahir. Seandainya pemuda Madura yang satu ini, tidak ‘ngeyel’ mungkin Bahasa Indonesia tidak menjadi bahasa persatuan negara ini.

“Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928,” demikian dituliskan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di situs resminya, 28 Oktober 1928 adalah momentum Kongres Pemuda II. Di situlah Sumpah Pemuda lahir memuat poin ketiga, “Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Mufakat soal bahasa tersebut tidak muncul lewat diskusi yang adem ayem. Poin bahasa persatuan itu sudah dibahas sejak Kongres Pemuda I yang dihelat pada 1926. Pada Kongres Pemuda itu, ada satu sosok penting bernama Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, atau sering disebut sebagai M Tabrani.

Tabrani, aktivis Jong Java, adalah Ketua Panitia Kongres Pemuda I. Dia pula orang yang maju ke kantor polisi untuk melobi izin menyelenggarakan Kongres Pemuda 30 April-2 Mei 1926.

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro
Mohammad Tabrani Soerjowitjitro

Tabrani vs Yamin

Dijelaskan oleh Maryanto dalam tulisan ‘Sang Penggagas Bahasa Persatuan Indonesia’ yang dimuat di situs Badan Bahasa Kemdikbud, Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904. Dia juga adalah wartawan harian Hindia Baru. Sebelum Kongres Pemuda I digelar, Tabrani sudah menulis soal Bahasa Indonesia.

Dalam kolom ‘Kepentingan’ di harian Hindia Baru terbitan 10 Januari 1926, dia menerbitkan tulisan bertajuk ‘Kasihan’. Isinya adalah gagasan awal menggunakan nama ‘Bahasa Indonesia’. Tabrani menyebut Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan di tengah keberagaman bahasa daerah orang Indie (Hindia Belanda).

Namun saat itu, bahasa seperti yang saat ini kita pakai disebut sebagai bahasa Melayu saja. Istilah ‘Bahasa Indonesia’ belum terlalu lazim. Namun bukan berarti Bahasa Indonesia tidak bisa ada dari ketiadaan.

“Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!” demikian tuis Tabrani di koran Hindia Baru, 11 Februari 1926.

Aktivis Jong Sumatranen Bond, Mohammad Yamin, menyanggah gagasan Tabrani soal Bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun,” demikian kata M Yamin yang tercatat dalam Otobiografi Tabrani sendiri.

Yamin sempat naik pitam saat Tabrani menolak usulannya untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Usulan Yamin itu termuat dalam putusan Kongres Pemuda I tahun 1926.

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro
Mohammad Yamin

Begini bunyi putusan Kongres Pemuda I, dikutip dari buku B Sularto ‘Dari Kongres Pemuda Indonesia Pertama ke Sumpah Pemuda’:

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Melajoe.

Post Terkait

banner 468x60