Senin, September 26, 2022
BerandaCultureAda Festival Hantu di China, Begini Asal-usulnya

Ada Festival Hantu di China, Begini Asal-usulnya

NUSA DAILY.COM – JAKARTA – Festival Zhongyuan, atau juga dikenal sebagai Festival Ullambana di kalangan umat Buddha, jatuh pada hari kelima belas bulan ketujuh, pada 12 Agustus tahun ini.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Melansir chinadaily.com, sejak zaman kuno, orang Cina percaya bahwa gerbang neraka terbuka pada hari itu dan orang-orang mengadakan segala macam kegiatan untuk menghormati hantu. Oleh karena itu, festival ini disebut juga Festival Hantu.

Ada dua festival lain di Tiongkok untuk menghormati arwah leluhur: Festival Qingming (di musim semi) dan Festival Chung Yeung (di musim gugur). Di keduanya, keturunan yang masih hidup memberi penghormatan kepada leluhur mereka yang telah meninggal. Festival Zhongyuan berbeda dari ini, karena almarhum diyakini mengunjungi yang hidup.

Baca Juga: Penerbangan Tertunda, Segini Kompensasi yang Diterima Penumpang di Jerman

Doktrin Buddhis mengatakan bahwa dengan mempersembahkan barang-barang pada hari festival, orang tua dan kerabat yang telah meninggal dapat diselamatkan dari situasi buruk di akhirat.

Festival Agama Buddha Ullambana memiliki dua arti. Salah satunya adalah untuk membujuk orang untuk menyediakan biksu Buddha. Yang lainnya adalah meyakinkan orang untuk melakukan lebih banyak amal untuk membebaskan jiwa-jiwa yang telah meninggal dari dosa dan menganjurkan pengabdian keluarga.

The legend of Mulian Saves His Mother

Festival Ullambana terkait dengan legenda Mulian Menyelamatkan Ibunya. Dikatakan bahwa setelah melalui cobaan dan kesulitan yang tak terhitung jumlahnya di dunia bawah, Mulian akhirnya melihat ibunya dan menemukan dia disiksa oleh sekelompok hantu lapar.

Mulian ingin mengirimi ibunya nasi dan piring dengan mangkuk tanah, tetapi makanan itu direbut oleh hantu lapar. Mulian tidak punya pilihan selain meminta bantuan Buddha.

Tergerak oleh kesalehan anak, Buddha menghadiahkan Mulian Sutra Ullambana dan menyuruhnya untuk berpartisipasi dalam Puasa Ullambana pada tanggal 15 Juli dari kalender lunar. Pada hari itu, makanan dari berbagai jenis serta lima buah — persik, prem, aprikot, kastanye, dan kurma — harus diberikan kepada semua biksu Buddha.

Baca Juga: Korut Cabut Aturan Wajib Masker Usai Klaim ‘Kemenangan’ Lawan COVID-19

Di bawah instruksi Sutra Ullambana, Mulian mengisi bejana Ullambana dengan buah-buahan dan makanan vegetarian untuk mempersembahkan korban kepada ibunya pada tanggal 15 Juli. Ibunya yang kelaparan akhirnya mendapatkan makanan.

Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Sang Buddha, Mulian mengadakan kegiatan sedekah setiap tahun untuk melepaskan hantu lapar. Dan hari itu terciptalah festival untuk menghormati leluhur, kerabat, dan teman yang telah meninggal yang disebut dengan festival ullambana.(mdr3/lna)

BERITA KHUSUS

Unipma Lakukan Pengabdian Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Digitalisasi Pasar Desa Klumutan Saradan Madiun

NUSADAILY.COM – MADIUN - Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang saat ini dihadapi oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan....

BERITA TERBARU

4 ABG Perkosa Gadis 13 Tahun di Hutan Kota Jakut, KemenPPPA: Pelaku Sering Akses Situs Dewasa

NUSADAILY.COM - JAKARTA - 4 ABG melakukan aksi bejat dengan memperkosa gadis berusia 13 tahun di Hutan Kota Jakarta Utara (Jakut). Keempat pelaku diketahui...