Cawalkot Malang Berpotensi Dikuti 4 Calon, Seusai Calon Perseorangan Terpental di Vermin

Mereka adalah H. Mohamad Anton berpotensi diusung oleh Fraksi Damai dengan 9 kursi, masing-masing NasDem 3 kursi, Demokrat 3 kursi, PSI 2 kursi dan PAN 1 kursi.

Jun 24, 2024 - 06:55
Cawalkot Malang Berpotensi Dikuti 4 Calon, Seusai Calon Perseorangan Terpental di Vermin
Foto: H. Mohamad Anton saat Mendaftar ke Partai NasDem

NUSADAILY.COM – MALANG - Bakal pasangan calon (paslon) jalur perseorangan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Kota Malang, Jawa Timur, Heri Cahyono dan Muhammad Rizky Wahyu Utomo, dinyatakan tak lolos dalam verifikasi administrasi (Vermin) syarat dukungan minimal. 

Pasangan Sam HC dan Rizky Boncell itu dinyatakan tidak lolos verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang lantaran jumlah dukungan yang mereka serahkan tidak memenuhi syarat atau ketentuan.
 
"Jumlah yang memenuhi syarat hanya 47.241 dukungan. Padahal, untuk bisa lolos itu syaratnya minimal 48.882 dukungan. Jadi ini dinyatakan tidak lolos verifikasi," Ketua KPU Kota Malang, M Toyyib, Kamis 20 Juni 2024.

Menanggapi hasil putusan KPU Kota Malang tersebut, pasangan Sam HC-Rizky Boncell mengaku pihaknya telah mengajukan keberatan. Pengajuan keberatan soal hasil verifikasi administrasi itu ditujukan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Malang pada Selasa 18 Juni 2024.
 
"Ada beberapa poin keberatan yang kami ajukan, salah satunya bahwa subtansi dukungan semestinya didasarkan pada data dalam form KWK perseorangan dan copy KTP yang discan PDF. Bukan berdasarkan silon, karena itu hanya alat bantu," kata tim hukum Sam HC-Rizky Boncell, Susianto.
 
Susianto menerangkan, sebelumnya tim pasangan Sam HC-Rizky Boncell telah meminta KPU Kota Malang untuk membuka akses Sistem Informasi Pencalonan (Silon) agar bisa diketahui perincian status Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Akan tetapi, KPU Kota Malang diakuinya tak merespons permintaan tersebut.
 
"Maka saat ini permohonan keberatan sengketa kita ajukan ke Bawaslu dan sudah diserahkan. Kita masih menunggu tindaklanjut Bawaslu Kota Malang," tegasnya.

Berpotensi Diikuti 4 Cakada: Anton, Sutiaji, Wahyu Hidayat dan Sofyan Edi

Hingga hari ini Senin (24/6), belum ada satupun parpol yang memberikan surat rekomendasi kepada calon kepala daerah Kota Malang.

Namun kabar yang diperoleh Nusadaily.com, ada 4 kandidat yang memiliki potensi untuk bisa maju di pilkada serentak Nopember mendatang.

Mereka adalah H. Mohamad Anton berpotensi diusung oleh Fraksi Damai dengan 9 kursi, masing-masing NasDem 3 kursi, Demokrat 3 kursi, PSI 2 kursi dan PAN 1 kursi.

Calon kedua adalah Sofyan Edi Jarwoko akan diusung oleh Golkar berkoalisi dengan PKS dengan jumlah kursi 13, Golkar 6 kursi sedangkan PKS 7 kursi.

Calon ketiga Sutiaji, sang petahana ini kabarnya akan berlabuh ke PDIP. Seperti diketahui, di Kota Malang hanya partai besutan Megawati ini yang bisa mengusung calon sendiri tanpa harus koalisi dengan partai lain karena memiliki 9 kursi.

Calon ke empat adalah Wahyu Hidayat yang saat ini Tengah menjadi Penjabat Walikota Malang. Santer kabar, Wahyu akan diusung oleh Gerindra.

Ketua DPD Partai NasDem Kota Malang A. Hanan Jalil, Ketika dimintai tanggapannya terkait tengara bahwa cakada Kota Malang akan diikuti 4 calon berujar, "bisa saja terjadi".

“Memang kabar yang saya terima seperti itu, tapi perlu digaris bawahi, hingga saat ini belum ada satupun parpol yang sudah memberikan surat rekomendasi, jangankan rekom, surat tugas saja masih belum ada,” kata pengusaha Batik Tulis Celaket ini.

Partai NasDem kata Hanan, Tengah melakukan telaah terhadap beberapa calon yang selama ini telah mendaftar, baik yang mendaftar lewat DPD, DPW maupun DPP.

Sementara, Ketua DPD Partai Demokrat HM. Imron, juga mengatakan hal yang sama, pihaknya Tengah menimbang siapa kira-kira yang layak memimpin Kota Malang kedepan.

“Kalau yang mendaftar banyak tapi kami akan memilih kira-kira siapa yang mampu menjadikan Kota Malang lebih baik kedepan,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua PSI Kota Malang M. Farid menyebut, dalam politik apa saja bisa terjadi, “ Bisa 4 calon, bisa 3 calon dan bisa juga tiba-tiba menjadi 2 calon, karena hingga saat ini masih goyang, semua masih menimbang dan menunggu Keputusan DPP,” katanya.(oer/wan)