Bupati Jember, Bangun Pintu Perlintasan KA Dianggap Tak Menarik

Hendy mengakui, membangun pintu perlintasan kereta api tidak menarik bagi pemerintah daerah jika dibandingkan membangun infrastruktur lainnya. “Cuma pintu, dianggap biasa saja.

Bupati Jember, Bangun Pintu Perlintasan KA Dianggap Tak Menarik
Bupati Jember, Bangun Pintu Perlintasan KA Dianggap Tak Menarik

NUSADAILY.COM – JEMBER – Bupati Jember Hendy Siswanto meminta Gubernur Khofifah Indar Parawansa agar menerbitkan surat edaran, yang berisi permintaan kepada seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur untuk membenahi perlintasan kereta api.

Hendy mengakui, membangun pintu perlintasan kereta api tidak menarik bagi pemerintah daerah jika dibandingkan membangun infrastruktur lainnya. “Cuma pintu, dianggap biasa saja. Tidak ngetren. Menariknya kalau bangun pasar,” kata mantan pegawai Kementerian Perhubungan RI ini, ditulis Jumat (6/1/2023).

BACA JUGA : Bocoran, Deretan Pejabat Eselon II Pemprov Jatim yang Dilantik...

Padahal, dari tahun ke tahun, jumlah kasus kecelakaan di perlintasan kereta api di Jawa Timur selalu meningkat. Selama 2020, terjadi 120 kali kecelakaan di perlintasan kereta api dan sebanyak 58 orang meninggal dunia. Setahun berikutnya, terjadi 144 kali kecelakaan dengan jumlah kematian sebanyak 77 orang. Tahun 2022, kasus kecelakaan meningkat menjadi 175 kasus dengan korban meninggal sebanyak 105 orang.

Kecelakaan terjadi karena banyaknya perlintasan kereta api yang tak dijaga. Dari 1.082 perlintasan KA di Jawa Timur, 260 perlintasan ada penjaganya, dan 748 perlintasan tidak dijaga. Sebanyak 175 titik tidak sebidang karena berada pada fly over dan underpass.

Hendy siap membenahi perlintasan kereta api. “Namun demikian, kami minta bantuan teman-teman PT KAI (Kereta Api Indonesia) agar regulasi pemakaian lahan diperlunak apabila kami membangun pos jaga, membangun pintu perlintasan, tidak usah sewa. Atau katakan kami mau bikin underpass atau fly over, tidak usah sewa,” katanya.

Menurut Hendy, membenahi perlintasan kereta api butuh biaya besar. “Membangun pos jaganya saja butuh biaya Rp 90 juta. Kalau pintu perlintasannya, minimalis, Rp 300 juta. Kalau agak bagus sedikit, premium, Rp 1,3 miliar,” katanya.

“Ini bisa dilakukan kalau memang mau beneran. Instruksikan kami, kami akan laksanakan. Tapi regulasi dari PT KAI dipermudah. Jangan lama-lama, karena ini menyangkut keselamatan. Kalau ada pintu (perlintasan) tidak berjaga yang bersebelahan, kita tutup satu, kita bikin jalan kolektif. Kita buka satu lengkap dengan regulasinya,” kata Hendy.

BACA JUGA : Gandeng UMM, Bupati Jember Bertekad Mandiri Bidang Pangan...

Hendy sepakat jika penanganan pintu perlintasan dilakukan dengan menggandeng swasta. “Di Jember sudah terjadi. Pemilik perumahan mau membayar gaji bulanan untuk penjaga,” katanya.

Namun, Hendy berharap PT Kereta Api Indonesia ikut membantu pelaksanaan pelatihan. “Para penjaga pintu perlintasan kereta api perlu pelatihan. Pelatihannya membutuhkan biaya. Mungkin PT Kereta Api bisa memberikan kompensasi free di situ, atau pelatihannya di daerah. Intinya kami perlu support bersama-sama,” kata Hendy.(ris)