Bijaksana! PDIP Kabupaten Malang Maafkan Pengunggah Ujaran Kebencian Terhadap Megawati Soekarnoputri di Medsos

Nov 11, 2023 - 03:03
Bijaksana! PDIP Kabupaten Malang Maafkan Pengunggah Ujaran Kebencian Terhadap Megawati Soekarnoputri di Medsos

NUSADAILY.COM - MALANG-DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang memilih mengambil langkah bijak. Menyelesaikan secara kekeluargaan atas unggahan yang mengandung narasi ujaran kebencian di media sosial Facebook oleh pemilik akun Randy Juniardi. 

Pemilik nama asli Randi Juniardi Hafrin, warga Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang ini, mengunggah foto banner Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada akun Facebook miliknya. Unggahan foto disertai narasi 'Iyo soale tangane teles Mak lampir'. Unggahan tersebut pun menjadi perhatian warganet.

Unggahan yang viral tersebut juga terdeteksi oleh Tim Siber DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang. Tidak tinggal diam, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang kemudian melakukan klarifikasi terhadap pengunggah ujaran kebencian di Facebook itu. 

Pada Jumat (10/11/2023), Randi dipertemukan dengan pengurus partai berlambang banteng moncong putih di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Jalan Merjosari Ngadilangkung Kepanjen. Pada kesempatan itu ketahui bahwa Randi telah menghapus unggahannya tersebut setelah viral di Facebook. 

Usai dilakukan klarifikasi, Randi mengaku bahwa ia mengunggah narasi tersebut secara sadar tanpa disuruh oleh orang lain. Randi pun menyesali perbuatannya tersebut dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dengan dibuktikan melalui surat pernyataan bermaterai serta video permohonan maaf kepada Megawati Soekarnoputri. 

"Itu ketidaktahuan saya pak. Tidak ada yang menyuruh. Itu waktu saya mau kirim sandal ke Kepanjen terus ada banner itu, saya foto lalu saya posting. Saya terpengaruh FYP-FYP di TikTok. Saya seperti terbawa arus. Jujur menyesal dan sudah tahu akibatnya. Saya tidak akan mengulangi lagi, kalau kita mau main sosmed tidak baik akan berdampak ke kita sendiri," kata pemuda 19 tahun itu. 

Terpisah, ayah kandung Randi, Hadi Prayitno, mengaku tidak mengetahui unggahan anaknya tersebut hingga viral di Facebook. Hadi kemudian meminta Randi agar selanjutnya bisa bijak dalam menggunakan media sosial. 

"Saya tidak tahu anak saya posting itu, saya waktu itu masih kerja. Yang jelas ke dapan saya minta dia untuk ber-sosmed yang baik saja, ini selanjutnya akan saya kontrol," ujar Hadi. 

Di sisi lain, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Abdul Qodir menyampaikan, persoalan tersebut dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat, khususnya anak muda, agar lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Terlebih memasuki tahun politik seperti saat ini. 

"Kita tidak berpikir sampai ke ranah hukum. Kami memilih menyikapi persoalan ini secara bijaksana. Makanya kita gali dulu, apa yang melatarbelakangi dia sampai membuat postingan seperti itu. Bagaimana ke depan, anak-anak muda ini dalam ber-medsos itu kita harus bijak. Agar supaya kegaduhan-kegaduhan yang berimbas pada disintegrasi jangan sampai dilakukan," tegas pria yang akrab disapa Cak Adeng ini. 

"Dari kejadian ini karena pelakunya anak muda, saya menangkap dari ketidaktahuan dia, ketidakpahaman dia, dan situasi emosionalnya dia masih labil, memang memang kami mengapresiasi anak muda dalam berbagai hal terutama politik, makanya kemudian kenapa saya mengajak Randi itu supaya disamping tidak mengulangi apa yang sudah dia dilakukan, saya mengajak dia itu untuk belajar politik di PDI Perjuangan, agar dia tahu proses di PDI Perjuangan menempa anak muda untuk menjadi seorang pemimpin," pungkasnya.

Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, bahwa sebenarnya pihaknya bisa mengambil langkah tegas. Yakni dengan memproses hukum dan membuat laporan ke Kepolisian. Namun ayah yang bersangkutan ternyata datang dan meminta maaf yang kemudian diterima oleh DPC DPI Perjuangan Kabupaten Malang dan BBHAR. 

"Tetapi kami belum sepenuhnya menerima permohonan maaf tersebut. Saya meminta kepada yang bersangkutan agar mengedukasi kepada setidaknya 15 orang teman-temannya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang salah. Jika punishment itu sudah benar-benar dia lakukan, baru kami sepenuhnya akan membuka pintu maaf sepenuhnya," papar Didik Gatot Subroto.(ap/wan)