Bersatu Dalam Perbedaan Logat

Oleh: Diana Eka Putri* dan Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd**

May 28, 2024 - 19:27
Bersatu Dalam Perbedaan Logat
Diana Eka Putri

Kita hidup di Indonesia dengan berbagai macam suku, ras, agama, serta banyak budaya lainnya. Oleh sebab itu, kita memiliki banyak persamaan maupun perbedaan. Salah satu perbedaan itu adala logat atau disebut juga aksen. Dalam bahasa Inggris kita mengenal aksen Amerika dan aksen British. Di Indonesia kita bisa menemukan sangat banyak sekali logat atau aksen dari berbagai macam suku yang ada di negeri Merah Putih.

 Logat atau aksen dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan bisa juga di pengaruhi oleh negara luar. Hal, ini menyebabkan kita terkadang salah paham terkait asal suku seseorang.  Mungkin seseorang berasal dari suku Banjar kok logatnya cenderung Jawa. Hal ini terlihat unik dan tidak terjadi di satu tempat saja. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu dengan banyak orang yang bersal dari suku tertentu namun memakai logat atau aksen dari daerah yang mereka datangi.

Penggunaan logat daerah yang kita kunjungi merupakan salah satu bentuk menghargai atau akulturasi budaya dan cara komunikasi budaya yang berbeda antara suku satu dengan suku lainnya. Contoh lainnya, seseorang dari Sumba yang pergi merantau ke Kalimantan. Semakin lama mereka tinggal dan bekerja di Kalimantan maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami perubahan logat berbicara  mereka. Ini bukan berarti mereka melupakan siapa sebenarnya mereka atau melupakan suku asli mereka. Namun, hal seperti ini merupakan dampak yang positif berdasarkan pengalaman saya selama bertemu dengan berbagai macam suku yang pergi merantau ke Kalimantan. Hal positifnya adalah secara tidak langsung kita sudah berusaha memahami cara mereka berkomunikasi. Memahami cara mereka berkata baik formal maupun tidak formal, dan kebiasaan mereka menyapa satu sama lain. Nah, dari situlah manfaat adanya logat yang berbeda dapat menyatukan berbagai macam suku yang ada di Indonesia.

Seseorang tidak disuruh untuk melupakan darimana anda berasal anda juga tidak disuruh untuk melupakan mereka berasal dari suku mana. Namun, satu hal yang perlu kita ingat bahwasannya pertukaran apapun mengenai bersatunya budaya,bahasa,suku beserta yang lainnya akan tetap terjadi. Pada dasarnya logat atau aksen yang ada di Indonesia tercipta karena kita bersal dari suku yang berbeda. Dari Sabang sampai Merauke tidak bisa kita hitung berapa banyak logat yang di tersimpan di setiap daerah. Contohnya, Bahasa Jawa logat Malang berbeda dengan logat Blitar. Hal ini juga terdapat dalam fenomena logat Yogyakarta yang berbeda dengan Semarang yang juga berbeda walau pada dasarnya tempatnya sama yaitu di Jawa.  Namun Bhineka Tunggal Ika merupakan falsafah hidup bangsa kita yang mengijinkan “perbedaan dalam kebersamaan”.

 Hal apa positif apa yang bisa kita ambil dari perbedaan logat yang signifikan ini? Tentu saja keunikan dalam kedamaian hidup berbangsa Indonesia. Keharmonisan rakyatnya di dalam banyaknya perbedaan yang mengelilingi mereka. Memang, setiap hal memilki dua sisi yaitu sisi baik dan sisi buruknya masing-masing. Namun, sebagai manusia kita harus bijak menyikapi perbedaan. Kita tidak boleh merasa lebih baik dari suku lainya (etnocentrism). Sangat tidak etis rasanya jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita selalu memandang rendah budaya orang lain.  

Jangan, sampai budaya, suku, ras serta agama kita tercoreng hanya karena kita merasa paling tinggi dan paling baik. Sebagai manusia, kita wajib memanusiakan manusia dan menghargai manusia dari ujung kepala sampai ujung kaki walau berlatar belakang buda yang berbeda. Apalagi perbedaan itu hanya terletak pada logat atau aksen berbicara mereka. Bahkan logat bahasa yang beraneka merupakan keunikan yang harus dijaga dan dihargai.

Untuk menghindari kesalahpahaman dan tetap bisa menyatu dalam keharmonisan maka diperlukan rasa solidaritas dan rasa kemanusiaan yang tinggi mengenai perbedaan yang sudah terjadi sejak zaman dahulu. Logat, sebagai penyatu didalamnya terdapat nilai etika menghargai seseorang yang berbeda jauh dari dari kita, didalamnya juga terdapat nilai estetika yang tidak boleh dirusak atau dihina. Banyak hal dari perbedaan yang kita punya yang tidak hanya bisa dilihat dari segi budaya itu sendiri atau dari suku itu sendiri. Kita dapat melihat kebersamaan yang unik karena di dalamnya terdapat banyak logat berbicara dalam suatu forum atau komunitas.  Bagaimana seseorang terlihat bisa dihargai itu juga dari logat yang mereka ucapkan.

Apakah sejauh ini kita pernah melihat perseturuan di depan mata kepala sendiri hanya karena masalah perbedaan logat?  Perseteruan yang sampai bisa menimbulkan perpecahan antar suku,ras, dan agama? Tidak bukan? Sebaliknya, logat atau aksen bicara kita yang berbeda memang menjadi suatu keunikan tersendiri yang dimiliki setiap manusia yang ada di nusantara. Dengan logat yang berbeda kita dapat hidup  damai. Dengan logat yang berbeda kita bekerjasama, dan dengan logat yang berbeda mereka berkomunikasi membangun negeri ini.  Sudah saatnya menatap serta bergandengan tangan bersama-sama mewujudkan cita-cita pendiri bangsa. Apalagi momen kebangkitan nasional kita peringati beberapa hari yang lalu, tepatnya 20 Mei 2024.

Logat, bukanlah hal yang tabu, dan logat bukanlah hal yang negatif. Logat merupakan keunikan yang menyimpan cerita, kebahagiaan serta persatuan di dalamnya. Marilah kita menjadi warga negara Indonesia yang bangga akan perbedaan dan keunikan. Semoga momen kebangkitan nasional menjadikan kita lebih bangga menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai etika kemanusiaan yang tetap menyatu walaupun memiliki seribu logat yang berbeda. (****) 

*Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan Malang yang mengambil mata kuliah Cross Cultural Understanding yang diampu oleh penulis ke dua (**)

**Penulis adalah Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas PGRI Kanjuruhan Malang dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

Tulisan ini disunting oleh Sulistyani, dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).