Benarkah Suara PDIP Terancam Jika Ganjar Maju Lewat Golkar di 2024?

Namun, perolehan suara Partai Beringin melonjak signifikan jika mengusung Ganjar. Elektabilitas Golkar naik hingga 17 persen atau naik 6 persen dari semula 11 persen. Skenario Ganjar maju lewat Golkar juga mengubah peta elektabilitas partai lain secara umum. Dalam skenario itu, Gerindra menjadi yang teratas dengan elektabilitas mencapai 20 persen, mengalahkan PDIP di posisi kedua dengan 18 persen. PDIP hanya selisih 1 persen dengan Golkar di posisi ketiga.

Benarkah Suara PDIP Terancam Jika Ganjar Maju Lewat Golkar di 2024?

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memprediksi kenaikan signifikan perolehan suara Partai Golkar jika mengusung kader PDIP, Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.

Kenaikan suara Golkar jika mengusung Ganjar itu mengancam perolehan suara PDIP secara khusus, dan mengubah peta politik perolehan suara partai-partai lain secara umum.

"Kalau PDIP ingin menjaga suaranya dia harus hati-hati dengan fakta ini," kata Saiful dalam paparannya di kanal YouTube SMRC, Kamis (17/11).

Survei SMRC membuat empat simulasi serta pengaruh tiga nama tokoh politik terhadap perolehan suara Golkar. Ketiganya masing-masing Airlangga Hartarto, Ganjar Pranowo, dan Erick Thohir.

Ketiganya dipilih berdasarkan dinamika politik teranyar. Misalnya Airlangga dipilih karena sebagai Ketua Umum. Lalu, isu kedekatan Ganjar bakal dicalonkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Golkar, bersama PAN, dan PPP. Begitu pula dengan Erick Thohir yang diisukan bakal maju di kontestasi Pilpres 2024.

"Apakah Airlangga, Ganjar, atau Erick. Kenapa tidak Anies? Karena Anies udah dideklarasikan partai lain, kan gitu," katanya.

Dalam simulasi pertama tanpa pengaruh tiga nama tersebut, perolehan suara Golkar mencapai 11 persen berada di posisi ketiga di bawah PDIP (25 persen), dan Gerindra (15 persen).

Sementara, dalam simulasi kedua dengan skenario mengusung Airlangga, perolehan suara Golkar hanya naik dua persen menjadi 13 persen. Tetap di bawah PDIP dan Gerindra.

Suara Golkar juga tidak beranjak dan stagnan di angka 11 persen jika mengusung Erick Thohir. PDIP tetap di atas, disusul Gerindra.

Namun, perolehan suara Partai Beringin melonjak signifikan jika mengusung Ganjar. Elektabilitas Golkar naik hingga 17 persen atau naik 6 persen dari semula 11 persen. Skenario Ganjar maju lewat Golkar juga mengubah peta elektabilitas partai lain secara umum.

Dalam skenario itu, Gerindra menjadi yang teratas dengan elektabilitas mencapai 20 persen, mengalahkan PDIP di posisi kedua dengan 18 persen. PDIP hanya selisih 1 persen dengan Golkar di posisi ketiga.

"Yang tadinya PDIP itu almost untouchable. Tapi begitu Ganjar pergi ke Golkar, berbondong-bondong ikut, membuat PDIP seimbang dengan Gerindra, bahkan Gerindra agak sedikit di atas," kata Saiful.

Menurut Saiful, angka itu menunjukkan tingginya elektabilitas PDIP di beberapa survei nasional selama ini tak bisa dipisahkan dari pengaruh Ganjar. Buktinya, suara partai tersebut turun jika Ganjar maju dari partai lain.

Oleh karena itu, Saiful mewanti-wanti untuk menjaga kadernya tersebut agar tak sampai maju dari partai lain. Dia meyakini Ganjar masih terbuka maju dari partai lain jika tak diusung PDIP di Pilpres 2024.

"Ganjar ini orang terbuka kemungkinan. Apalagi kalau ada yang memberikan kejelasan yang meyakinkan. Bisa saja ganjar tidak maju dari PDIP," katanya.

Survei SMRC dilakukan pada Oktober lalu terhadap 267 responden, dengan margin of error sekitar 6,1 persen. Saiful mengakui angka margin of error tersebut cukup tinggi dari rata-rata survei lembaga dia pada umumnya di angka tiga persen.

"Biasanya kan kita sekitar tiga persen. Ini jauh lebih besar karena sampel lebih sedikit. Kalau anda ingin margin of error lebih kecil anda tinggal tambah aja jumlah sampelnya," katanya.

Sementara, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan unggul jauh dari dua pesaingnya, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto dalam survei elektabilitas calon presiden (capres) di Jakarta.

Dalam survei yang dirilis Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) itu, elektabilitas Anies mencapai 51 persen dalam simulasi tiga nama melawan Ganjar dan Prabowo.

Ganjar berada di posisi kedua dengan elektabilitas mencapai 29,2 persen, disusul Prabowo di peringkat ketiga dengan 12,5 persen.

"Dalam simulasi 3 nama di DKI Jakarta, Anies unggul di peringkat satu dengan elektabilitas 51 persen, disusul Ganjar 29,2 persen, Prabowo 12,5 persen," kata Direktur Eksekutif Indostrategic, Ahmad Khoirul Umam dalam keterangannya, Senin (14/11).

Selain dalam simulasi tiga nama, Anies juga unggul dalam sejumlah simulasi lain. Dalam simulasi terbuka, elektabilitas Anies terkait capres mencapai 30,80 persen dan mengungguli nama-nama lain seperti Ganjar, Prabowo, Jokowi, Ridwan Kamil, hingga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang hanya mengantongi 1,20 persen.

Begitu pula dalam simulasi 10 nama, elektabilitas Anies mencapai 42,1 persen. Disusul Ganjar 22,4 persen, Ridwan Kamil 9,7 persen, Prabowo 8,2 persen, hingga Andika Perkasa di peringkat terakhir dengan 0,3 persen.

"Dalam simulasi 10 nama di DKI Jakarta, Anies unggul di peringkat satu dengan elektabilitas 42,1 persen, Ganjar 22,4 persen, Ridwan Kamil 9,7 persen, Prabowo 8,2 persen," kata Umam.(han)