Bahasa Mandarin Jadi Jembatan Antara China dan Afghanistan

Karena China mempunyai budaya yang kaya dengan ekonomi yang makmur, bahasa China menjadi penting dan menarik,

Bahasa Mandarin Jadi Jembatan Antara China dan Afghanistan
ilustrasi karakter China (hanzi) sumber istockphoto

NUSADAILY.COM - KABUL - "Karena China mempunyai budaya yang kaya dengan ekonomi yang makmur, bahasa China menjadi penting dan menarik," kata  Mohammad Ismael Adib remaja Afghanistan.

bendera Afghanistan sumber istockphoto

Melansir Xinhua, “saya memutuskan untuk belajar bahasa Mandarin dan menjadi jembatan komunikasi antara Afghanistan dan China,” kata Adib, mahasiswa junior di Jurusan Bahasa dan Sastra China Universitas Kabul, sembari menyampaikan bahwa belajar bahasa China bisa membantunya mendapatkan pekerjaan dengan mudah setelah lulus dari universitas.

"Mereka yang lulus dari jurusan universitas beberapa tahun terakhir sudah memiliki pekerjaan. Mereka bekerja baik sebagai guru di jurusan atau juru bahasa, dan beberapa meluncurkan bisnis," kata Adib.

BACA JUGA : Gadis 9 Tahun Asal Argentina Tertarik Belajar Bahasa Mandarin...

Satu-satunya Institut Konfusius Afghanistan, atau dikenal sebagai Departemen Bahasa dan Sastra China dibuka pada tahun 2008 di Universitas Kabul. Sejak itu, departemen tersebut  memfasilitasi ratusan anak muda untuk belajar bahasa China.

"Lebih dari 90 siswa termasuk anak laki-laki dan perempuan saat ini belajar bahasa China di departemen universitas," kata Hamid Ghulami, Direktur departemen.

Ghulami,merupakan pengajar bahasa Mandarin di jurusan tersebut sejak tahun 2014, ia mengatakan bahwa pembelajar bahasa Mandarin terus meningkat.

BACA JUGA : New South Wales Luncurkan Program Baru untuk Tarik Siswa...

"Meskipun departemen ini baru di Afghanistan, jumlah siswa yang terdaftar di Institut Konfusius meningkat dan kami juga menawarkan kursus bahasa Mandarin di Universitas Nangarhar," kata Ghulami.

"Saya  belajar bahasa Mandarin selama empat tahun terakhir, ini merupakan bahasa yang sangat penting dan saya menyukainya," kata Khawaja Abdul Basir Sediqi (mahasiswa senior).

“China adalah ekonomi utama dengan budaya yang kaya dan peradaban tua, dan belajar bahasa China sangat penting untuk pertukaran budaya serta menghubungkan peradaban,” ungkapnya.

"Setelah lulus saya bisa bekerja sebagai penerjemah atau guru di Afghanistan untuk membantu mendorong hubungan antara kedua negara," kata Sediqi. (mdr1/lal)