Australia Didesak AS untuk Tidak Mendukung Larangan Senjata Nuklir

"Amerika Serikat memahami dan memiliki kepentingan yang sama untuk memajukan tujuan pelucutan senjata nuklir, tapi kami tidak mendukung perjanjian tentang larangan senjata nuklir," kata juru bicara Kedutaan Besar AS di Canberra kepada The Guardian, Rabu (9/11).

Australia Didesak AS untuk Tidak Mendukung Larangan Senjata Nuklir

NUSADAILY.COM –WASHINGTON - Ratusan negara membuat perjanjian yang mengatur pelarangan senjata nuklir dengan tujuan pelucutan total senjata tersebut. Perjanjian itu dibuat pada 2017 dan mulai berlaku sejak 22 Januari 2021.

Amerika Serikat mewanti-wanti Australia agar tidak ikut-ikutan menyetujui perjanjian pelarangan senjata nuklir.

Menurut AS, perjanjian itu hanya menghambat kebijakan pertahanan antara AS dan sekutunya, termasuk Australia.

Menurut Washington, pakta tersebut bisa menggagalkan perjanjian pertahanan baru antara AS, Australia, dan Inggris yang dinamakan AUKUS.

"Amerika Serikat memahami dan memiliki kepentingan yang sama untuk memajukan tujuan pelucutan senjata nuklir, tapi kami tidak mendukung perjanjian tentang larangan senjata nuklir," kata juru bicara Kedutaan Besar AS di Canberra kepada The Guardian, Rabu (9/11).

"Amerika Serikat tidak percaya bahwa kemajuan menuju pelucutan senjata nuklir bisa tercapai dengan mengabaikan ancaman keamanan yang berlaku di dunia saat ini," lanjut jubir itu.

Pernyataan AS itu muncul setelah Australia mengubah posisi mereka soal perjanjian larangan nuklir dari semua menentang menjadi abstain.

Kedutaan Besar AS di Canberra mengatakan perjanjian larangan senjata nuklir ini bisa menghambat AS memperluas strategi pertahanan pencegahan (detterence) yang masih diperlukan untuk perdamaian dan keamanan internasional.

Kedutaan juga mengatakan perjanjian itu berisiko "memperkuat perpecahan" dalam komunitas internasional.

Berbeda dengan AS, Selandia Baru justru "senang melihat perubahan positif" dari Australia terkait pakta tersebut.

Wellington juga menyatakan "bakal menyambut setiap ratifikasi baru sebagai langkah penting untuk mencapai dunia bebas senjata nuklir".

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, belakangan terlibat dalam advokasi melawan senjata nuklir. Albanese menggambarkan nuklir sebagai "senjata paling merusak, tidak manusiawi, dan tidak pandang bulu yang pernah dibuat".

Pada 2018, Albanese juga sempat menggerakkan mosi pada konferensi nasional Buruh yang mendukung perjanjian. Ia mengamini tugas pelucutan itu tidak akan mudah ataupun sederhana namun akan "adil" bagi dunia.

Posisi Albanese ini kontras dengan pendahulunya, Scott Morrisson, yang justru menyepakati perjanjian AUKUS dengan AS dan Inggris yang salah satu isinya rencana membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia.(han)