Angkat Generasi Z, Mahasiswa Sastra Cina UB Luncurkan Cerpen Adopsi Tradisi Cindo

Jul 8, 2024 - 19:30
Angkat Generasi Z, Mahasiswa Sastra Cina UB Luncurkan Cerpen Adopsi Tradisi Cindo
Caecilia Kasih Ning Tyas dalam bedah cerpen bersama dosen dan teman-temannya di UB Malang

NUSADAILY.COM – MALANG - Sebuah antologi  cerita pendek yang ditulis oleh Caecilia Kasih Ning Tyas, mahasiswa program studi Sastra Cina angkatan 2019 Universitas Brawijaya berjudul "Hidup Oh Hidup, dengan dosen pembimbing Diah Ayu Wulan, M. Pd. dan dosen penguji Yusri Fajar, M.A. pertama kali dibedah oleh Yohanes Padmo Adi Nugroho, M.Hum. di Gedung B FIB UB. Kegiatan itu dihadiri oleh wakil dekan 2, dosen pembimbing, dosen penguji, guru SMP, mahasiswa Sastra Cina UB dari berbagai angkatan, teman-teman di luar UB, pastor, serta tim redaksi Penerbit Karmelindo, Rabu (3/7/2024).

 

FIB UB memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk mengekspresikan diri melalui tugas akhir kuliah berupa karya sastra dengan bentuk novel, antologi puisi, dan antologi cerpen.

 

Saat bedah buku ini, Caecilia mengundang secara khusus 17 orang, termasuk dosen, guru, pastor, dan redaksi Karmelindo. Ia juga membagikan pamflet kepada teman-teman seangkatannya dan adik tingkat, melalui media sosial pribadinya.

 

Karya ini merupakan syarat bagi mahasiswa tingkat akhir, selain untuk dikonsumsi oleh publik secara umum. Sebagai seorang mahasiswa, menjadi suatu kebanggaan jika karyanya dapat dinikmati oleh masyarakat.

 

"Konsep cerpen biasa, saya sering menggunakan alur maju mundur dalam tema kehidupan, namun konflik yang diangkat dalam cerita-cerita itu adalah masalah-masalah yang biasa dihadapi dalam kehidupan sehari-hari," jelas Caecilia kepada Nusadaily.com, di gedung B FIB UB, Rabu (3/7/2024).

 

Masalah sosial yang diangkat adalah mengenai relasi antar manusia dari berbagai etnis, serta masalah generasi Z yang merasa kebingungan dengan arti hidup.

 

Karya sastra Caecilia, seorang mahasiswa FIB UB asal Jalan Tidar Utara, Kota Malang ini, mengajak pembaca untuk menemukan nilai hidup dalam diri mereka dan memberikan pesan moral kepada generasi Z.

 

"Pesan moral itu, meskipun hidup terasa sulit, kita tidak sendirian, banyak orang yang merasakan hal yang sama dan kita bisa melewati semuanya," ujar Caecilia dengan semangat.

 

Dalam proses penulisan, ia membutuhkan waktu satu tahun untuk menyelesaikan satu buku, mengingat ini adalah karya buku pertamanya.

 

"Saya membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk satu buku, kendala terbesar yang saya hadapi selama proses adalah saat mencari inspirasi," tambahnya.

 

Ketika ditanya tentang karya sastra, dia. menjelaskan bahwa cerpen ini merupakan tugas dari dosen dan juga merupakan hasil dari hobi menulisnya dalam membuat karya sastra, puisi, dan cerpen.

 

Ia sengaja tidak menggunakan bahasa Mandarin agar karyanya dapat dinikmati oleh banyak orang di Indonesia. Dalam karyanya, ia menyelipkan unsur budaya Tionghoa. Dua budaya yang berbeda menjadi satu dalam cerpennya, jelasnya.

 

Judul bukunya "Hidup Oh Hidup" merupakan kumpulan cerpen terdiri dari 5 cerita dengan judul yang berbeda, yang terangkai dalam satu buku kumpulan cerpen karya Caecilia.

 

"Dalam karya saya terdapat lima cerpen. Yang pertama adalah 'Kelopak-kelopak Tanhwa', yang kedua adalah 'Tragedi di Tepi Pantai', yang ketiga adalah 'Mamakulah Segalanya', yang keempat adalah 'Hidup Oh Hidup', dan yang kelima adalah 'Diam Itu Emas, Tapi Tai Juga Diam'," paparnya dengan senyum tipis.

 

Caecilia banyak menggunakan setting kehidupan keluarganya sendiri, kehidupan anak kuliahan, kehidupan percintaan anak kuliahan dalam ceritanya. Ini merupakan kali pertama ia membuat karya dengan latar belakang keluarganya sendiri.

 

Caecilia berharap setelah peluncuran nanti, karyanya dapat diakses oleh publik secara luas. Bahkan, saat ini sudah ada pembaca yang melakukan open order.

 

"Jika ingin membeli, saat ini saya hanya mencetak 50 buku terbatas. Harganya Rp 45 ribu per buku, tapi yang dijual hanya 30 buku. Dari 30 buku tersebut, 20 diantaranya saya berikan kepada dosen-dosen saya dan keluarga dekat saya," ungkapnya.

 

Dari proses penciptaan hingga naik cetak, Caecilia menghabiskan biaya sekitar Rp 1,5 juta untuk 50 buku. Harapannya ke depan adalah agar karyanya dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan memenuhi syarat tugas akhir karya sastra.

 

Sebagai seorang mahasiswa asal kota Malang, Caecilia sangat menggemari penulisan cerita pendek. Menulis cerpen seringkali dilakukannya di waktu luang. Selain cerpen, ia juga terkadang membuat puisi.

 

Ditanya mengenai manfaat atau nilai-nilai moral yang bisa diambil dari kisah cerpenya, Caecilia berharap bahwa pembaca, khususnya para remaja, dapat mengambil pelajaran dari hubungan jarak jauh yang diangkat dalam cerita itu, tentang bagaimana menjaga hubungan dengan komitmen yang kuat.

 

"Nama karakter dalam cerita diambil dari kerbat dan teman-teman dekat saya yang dimodifikasi sedikit. Saya berharap karya cerpen ini dapat memberikan inspirasi dan hiburan bagi pembaca," tutupnya.

 

Secara terpisah dosen pembimbing Diah Ayu Wulan menuturkan bahwa kegiatan bedah buku menjadi penghubung motivasi bagi adik tingkat dalam berkarya.

 

“Bedah buku dapat menjadi penyemangat bagi adik tingkat dalam berkarya. Melalui proses pengkaryaan, mahasiswa dapat mengembangkan, mewujudkan kreativitasnya, dan meningkatkan keterampilan kritis,” tandas, Diah Ayu Wulan selaku dosen pembimbing saat memberikan apresiasinya.

 

Ia menambahkan melalui proses pengkaryaan semacam ini diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan, serta merealisasikan kreativitasnya dan meningkatkan keterampilan kritisnya. (wan)