Wisata Edukasi Dadaprejo Kota Batu Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

  • Whatsapp
DD Orchid Nursery, destinasi wisata budidaya tanaman anggrek di Kelurahan Dadaprejo, Junrejo, Kota Batu.
DD Orchid Nursery, destinasi wisata budidaya tanaman anggrek di Kelurahan Dadaprejo, Junrejo, Kota Batu.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Event Trilogi Dadaprejo ‘Merawat, Menanam dan Menuai’ 2019 lalu menjadi embrio pengembangan wisata di Kelurahan Dadaprejo, Junrejo, Kota Batu. Pada event tersebut digelar penanaman 4000 bibit anggrek hingga lahirlah julukan Kampung Anggrek.

Berkreasi membuat batik tulis di destinasi wisata Batik Tulis Dadaprejo Kota Batu.

Berangkat dari predikat Kampung Anggrek, masyarakat Dadaprejo terus berpacu untuk mengembangkan potensi wisata. Segala potensi yang ada terus digali untuk menciptakan destinasi wisata baru. 

Baca Juga

Ketua Pengelola Wisata Edukasi Kelurahan Dadaprejo, Andik Wibowo mengatakan, saat ini ada tiga destinasi ditawarkan untuk wisatawan. Yakni destinasi budidaya tanaman anggrek di DD Orchid Nursery milik Dedek Setia Santoso. 

Selain itu, dua destinasi lainnya yakni Seni Kriya Gerabah milik Ponimin dan Batik Tulis Dadap Kota Batu milik Yuni Sumarsih. Dua destinasi ini dimunculkan setelah dilakukan penggalian potensi untuk mengembangkan wisata di Dadaprejo.

“Dari ketiga destinasi wisata yang ada nantinya akan digabungkan dalam satu paket wisata,” tutur Andik dilansir Nusadaily.com

Kini julukan Kampung Anggrek berganti nama menjadi Wisata Eduaksi Dadaprejo. Eduaksi ini merupakan sebuah bentuk wisata edukasi dan dibarengi aksi. Wisatawan tak hanya datang melihat namun diajak untuk berpraktik di tiga destinasi yang ada.

“Kami ajak berpraktik langsung. Misal di destinasi anggrek diajak bagaimana cara membudidayakan anggrek. Mulai menanam dan merawat. Apalagi anggrek disukai semua kalangan. Anggrek jadi ikon utama Dadaprejo,” kata Andik.

Sama halnya ketika mengunjungi dua destinasi lainnya seperti di Seni Kriya Gerabah Ponimin maupun Batik Tulis Dadap Kota Batu. Pengunjung diajak berkreasi dan hasilnya bisa dibawa pulang.

Andik mengatakan, bunga anggrek menjadi pilihan utama motif batik tulis yang dibuat Yuni Sumarsih. Dipilihnya motif anggrek, karena tanaman ini menjadi ikon utama Kelurahan Dadaprejo.

“Dalam pembuatan batik juga memberdayakan ibu-ibu sekitar. Kalau pesanan cukup banyak mereka dilibatkan. Ada salah satu dinas yang pesan untuk dijadikan seragam kerja,” tukas pria yang sebelumnya bekerja di salah satu hotel Kota Batu ini.

Konsep pemberdayaan masyarakat, lanjut Andik, juga diterapkan oleh Dedek Setia Santoso, pemilik DD Orchid Nursery. Ada sebanyak 107 petani plasma yang dibina Dedek. Para petani plasma ini dibagi dalam tiga klaster, mulai dari pembenihan, remaja dan dewasa. 

Dengan konsep seperti itu, pengembangan wisata Kelurahan Dadaprejo bisa membawa dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Masyarakat dapat mengambil kesempatan dengan hadirnya wisatawan.

“Itu harapan besar kami. Mungkin mereka ada yang mau jualan souvenir ataupun oleh-oleh. Selama ini masyarakat Kota Batu hanya jadi penonton. Makanya dengan adanya wisata ini, masyarakat bisa ambil peran dalam meningkatkan taraf perekonomiannya,” imbuh dia.

Andik menjelaskan, ketiga destinasi wisata itu akan dikemas dalam paket wisata yang terbagi menjadi paket reguler seharga Rp 125 ribu dan paket pintar seharga Rp 115 ribu. Paket reguler diperuntukkan bagi masyarakat umum. Sedangkan paket pintar, khusus diberikan kepada pelajar.

Selain menyediakan paket wisata, pengunjung bisa memilih per satuan destinasi sesuai keinginan pengunjung. Mulai dari Wisata Eduaksi Anggrek dibandrol Rp 30 ribu. Kemudian, Wisata Eduaksi Gerabah dibandrol Rp 50 ribu. Wisata Eduaksi Batik dibandrol Rp 60 ribu. Per destinasi diberi durasi waktu 1,5 jam.

“Pengunjung dibatasi selama pandemi. Di destinasi gerabah dan batik dibatasi 10-15 pengunjung. Untuk di destinasi anggrek bisa 20-30 karena tempatnya cukup luas. Intinya tetap menerapkan prokes,” terang Andik.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya akan terus berinovasi agar bisa menarik minat kunjungan wisatawan. Sehingga pengunjung tak merasa hambar ketika berwisata di Kelurahan Dadaprejo. 

“Jangan sampai destinasi sudah siap tapi cuma gitu-gitu aja. Harus ada inovasi,” ucap dia.

Selama ini destinasi telah siap. Hanya saja butuh kendaraan pengangkut wisatawan dari destinasi ke destinasi lainnya. “Misalnya dari wisata anggrek ke tempat-tempat petani plasma. Agar jangkauannya lebih cepat,” timpal dia.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq berharap wisata di wilayah tersebut bisa dikelola dengan maksimal. Sehingga terwujud visi yang digaungkan dalam RPJMD kepala daerah Kota Batu. Yakni Desa Berdaya, Kota Berjaya.

“Dengan mengembangkan potensi wisata di sana besar harapan kami nantinya wisata tersebut mampu mengangkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Untuk itu, kata dia, sasaran prioritas kinerja dari Disparta adalah pengembangan destinasi desa atau kelurahan yaitu kearifan lokal. Potensi tersebut dikembangkan dan dikemas agar menjadi desa atau kelurahan wisata. Termasuk pengembangan kebudayaan yang ada.

Agar itu bisa berjalan baik, pihaknya tak mungkin bisa berjalan sendiri perlu dukungan peran dari beberapa OPD terkait secara terintegrasi di dalam melaksanakan beberapa program tersebut.

“Supaya terealisasi ada beberapa terbosan yang dilakukan yaitu pengembangan destinasi wisata desa, kedua pengembangan SDM pariwisata. Ketiga pengembangan seni budaya daerah dan yang terakhir adalah pengembangan promosi wisata,” tuturnya. (wok/adv/wan)