Walikota Batu Resmikan Sawah Rojo Art Farming, Pertanian Dimotori Generasi Milenial

  • Whatsapp
sawah batu
Walikota Batu Dewanti Rumpoko menanam bibit sayur di lahan Sawah Rojo Art Farming. (istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – KOTA BATU – Lahan bercocok tanam yang memadukan teknologi pertanian dan seni dicetak oleh Sawah Rojo Art Farming. Ikon agrowisata ini diyakini sebagai destinasi baru yang dikelilingi lahan persawahan dan hamparan pemandangan hijau melingkar.

Sawah Rojo Art Farming berada di Jalan Panglima Sudirman No.125 C Desa Pesanggarahan Kota Batu. Letaknya tak jauh berada di belakang gedung Balaikota Among Tani Kota Batu.

Baca Juga

BACA JUGA: Pererat Kebersamaan, Pemkot Batu Mancing Bersama

Pertanian berkonsep art farming yang digerakkan oleh generasi milenial ini, dilaunching Walikota Batu Dewanti Rumpoko pada Minggu pagi (8/11). Saat meresmikan, Dewanti Rumpoko ikut menanam perdana bibit sayur di lahan Sawah Rojo Art Farming.

walikota batu sawah
Walikota Batu Dewanti Rumpoko memukul gong tanda diresmikannya Sawah Rojo Art Farming dengan didampingi Founder Sawah Rojo Art Farming, Herman Aga. (istimewa)

Art Farming merupakam konsep pertanian dengan sistem sewa lahan petani dan dikelolah oleh petani setempat hingga panen. Hasil panen sepenuhnya akan dikirim ke penyewa lahan.

Dewanti mengatakan, regenarasi petani dari kalangan milenial menjadi peluang bagi Sawah Rojo untuk menyasar CSR dari perusahaan BUMN.

“CSR dari BUMN mencari pertanian yang digerakkan kaum milenial. Paling tidak ada keterbilatan 30 persen generasi milenial,” kata Dewanti.

Di hadapan pengelola Sawah Rojo, ia membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Furosato Indonesia, Bumiaji pada Jum’at lalu (6/11). Dewanti menawarkan, agar Sawah Rojo bisa berkolaborasi mengembangkan budidaya pertanian dengan Furosato. Sehingga Sawah Rojo bisa menimba ilmu teknik pertanian ramah lingkungan seperti yang dikembangkan di Jepang.

“Teknik pertanian dari hulu hilir yang diterapkan di Furosato berstandar Jepang karena menyasar pasar orang Jepang yang ada di Indonesia. Saya ingin agar Sawah Rojo menjalin mitra agar produk pertanian bermutu internasional agar bisa menembus pasar dunia,” papar Dewanti.

Founder Sawah Rojo, Herman Aga mengatakan, manajemen lahan pertanian yang dikembangkan di Sawah Rojo yakni menawarkan paket edukasi dan pengalaman bercocok tanam kepada masyarakat maupun wisatawan.

“Seperti menanam bibit, merawat lahan hingga memanen hasil pertanian pada lahan hamparan seluas 4000 meter,” imbuh Herman.

Sewa kelola lahan diberikan kepada mereka yang tertarik menanam di lahan Sawah Rojo. Harga sewa bervariasi sesuai dengan luas lahan. Mulai dari 50 meter persegi dengan harga sewa Rp 3.000.000. Luas 100 meter persegi dengan harga sewa Rp 5.000.000.

“Dengan masa sewa selama tiga bulan. Selama masa sewa sudah dihasilkan sayuran dan buah-buahan siap panen dan sepenuhnya adalah hak para member,” ujar pegiat lingkungan yang berkecimpung di Komunitas Sabers Pungli Kota Batu ini.

Sawah Rojo Art Farming menawarkan harga paket sewa kelola lahan. Para member sudah mendapatkan fasilitas perawatan lahan selama tiga bulan. Ada 27 lebih varian tanaman seperti varian tomat, varian cabe, varian wortel, varian jagung, paprika, kacang panjang, terong ungu, okra, padi merah, kubis, pacoi, kailan, andewi, slada krop dan masih banyak lagi.

BACA JUGA: Pertanian Ramah Lingkungan Jepang Dikembangkan di Kota Batu

“Tentunya sangat menyehatkan tubuh bila dikonsumsi, dan khusus para member berhak mendapatkan free lunch ala desa setiap bulannya,” ujar Herman.

Konsep sewa lahan sekaligus untuk membantu petani yang terjerembab dalam permainan tengkulak yang memasang harga miring. Namun melalui Sawah Rojo Art Farming, para member akan membawa jejaring baru bagi petani. Dan membuka peluang besar terjalinnya kerjasama seperti terbukanya akses pasar langsung hingga kerjasama strategis lainnya yang bersifat Business To Business (B2).

“Transfer knowledge juga akan terjadi secara alamiah, antara para member dengan petani, baik dalam dalam hal alih teknologi pertanian hingga kisah – kisah kehidupan lainnya,” ujar dia.

Generasi milenial desa juga diajak untuk menjadi petani muda agar tetap mempertahankan ketahanan pangan dengan model pertanian yang mutakhir. Semangat ini, lanjut Herman terus di dorong oleh berbagai pihak, termasuk peran Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko yang tiada henti mendukung generasi muda sebagai petani milenial yang tangguh.

Mereka akan dibekali mindset industri 4.0 seperti Internet Of Things (IoT), big data, artificial intelligent, robotic hingga cloud computing. Tentunya dipersiapkan program inkubasi binis teknologi kreatif yang didukung oleh para mentor berpengalaman untuk meningkatkan kemampuan para petani milenial demi mewujudkan visi pertanian desa yang berdaulat.

“Tidak zamannya lagi membajak sawah di bawah terik matahari, tidak perlu lagi susah payah buka lapak di pasar pagi, tidak perlu risau lagi dengan tengkulak jahat. Kini petani milenial tetap keren bertani dengan teknologi digital,” tandas dia. (wok/adv/lna)