Stafsus DP BPIP: Radikalisme Akibat Pemahaman Agama yang Sempit

  • Whatsapp
Staf khusus ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo. Istimewa
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Setelah masa reformasi yang terlihat adalah terkikisnya dan berkurangnya pengamalan serta pembelajaran moral Pancasila. Khususnya dikalangan generasi muda harus segera diatasi.

Selain itu pemahaman tentang agama kian sempit, sehingga inilah yang menjadi menjamurnya ragam radikalisme dan intelorensi yang telah meracuni generasi muda sekarang.

Baca Juga

Hal tersebut disampaikan staf Khusus ketua dewan pengarah badan pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, saat dirinya menjadi pembicara dalam kegiatan seminar Virtual lintas Iman yang mengambil tema “Radikalisme dan Inteloransi” Minggu 6 Desember 2020.

“Radikalisme dan intoleransi salah satunya disebabkan oleh pemahaman agama yang sempit dan biasanya digunakan untuk kepentingan ideologi global atau kepentingan tertentu,” jelas Benny.

Dikatakannya pula saat ini sedang menghadapi fenomomena tokoh yang pemahaman agamanya utuh tersingkir dari ruang publik. Negara tidak boleh tunduk terhadap pihak yang ingin menggantikan idelogi Pancasila dan mengganti dengan ideologi berdasarkan kepentingannya masing-masing.

“Masyarakat harus memahami secara utuh bahwa ideologi Pancasila adalah ideologi yang dibutuhkan bangasa ini,” Ucap Benny.

Dalam acara yang sama Aktivis dan pemerhati sosial Rafindo Hutagalung menegaskan seharusnya pemerintah menindak tegas gerakan anarki dan terorisme.

“Eksistensi kehadiran Pemerintah harus terasa ditengah masyarakat dengan penegakan aturan berbangsa dan bernegera,” kata Rapindo.

Masih kata Rafindo, radikalisme dan intoleransi di negara ini disababkan oleh kondisi mayoritas dan minoritas, padahal seharusnya didalam masyarakattidak perlu dipropagandakan antara minoritas dan mayoritas yang terjadi pemisahan.

Dirinya mencontohkan bentuk diskriminasi yang dirasakan kebijakan ijin pembangunan rumah ibadah dan lainnya, sehingga bentuk diskriminasi ini menjadi akar masalah yang menimbulkan kebencian di Masyarakat.

“Diskriminasi ini akan mewujudkan sikap intoleransi terhadap kelompok lain yang berbeda dan menganggap kelompoknya paling benar,” jelasnya.
Kurangnya edukasi terhadap agama yang benar sehingga menjadikan sikap intoleran menurut Rapindo.

Hal lain disampaikan oleh Centre of Sustainable Nusantara Buddhism,Surtisno Wijaya Kusuma. Menurutnya ridaklisme bertentangan dengan cita-cita bangsa yang ingin terus maju dalam kebhinnekaan. Tantangan bangsa ini ada dua yaitu membina bangsa, tetapi juga ada bina negara.

“Kita menghadapi satu tantangan yaitu keamanan nasioanal. Ada ancaman nyata dan tidak nyata yaitu terorisme, radikalisme, sparatisme, dan masih banyak lagi. Sedangkan yang belum nyata adalah yang laten dipikirkan,” jelas Sutrisno.

Dia berharap, Kedepannya aparatur negara harus bertindak profesional dan bersih diri dalam menegakan aturan.

“Aparatur negara harus taat dan patuh dalam melaksanakan tugasnya harus bersih dari dalam,” jelasnya. (sir/kal)

Post Terkait

banner 468x60